Belajar tentang MPASI (Part 2)

Perjalanan MPASI-nya Alka sudah jalan sekitar 4 minggu. Selama 4 minggu itu juga, kerjaan masak pagi jadi nambah, yaitu bikinin makanan khusus buat si bayi. Berikut laporannya.

Pada akhirnya saya pake buku ini untuk panduan karena ada banyak ide praktis dan mudah diterapkan di situ. Apa kabar BLW? Belum jalan, wkwk. Alasannya karena saya lebih merasa pewe dengan isi buku di gambar bawah ini, BLW agak bikin males bersih-bersih rumah, dan Alka bingung liat makanan yang disodorkan ke dia karena kebiasaan liat bapak ibunya makan pake sendok. Kapan-kapan deh, nyoba BLW soalnya bapaknya sepertinya lebih tertarik pake BLW aja.

s__13606915

Berhubung Alka masih tahap awal, buku yang dipake baru yang warna pink. Nanti kalo uda sekitar usia 7 bulan, pindah ganti yang ijo, hehe.Sekarang, mari kita cerita sedikit tentang isi buku yang pink, yah.

Pertama, di buku ini dibahas tahapan-tahapan kelembut~kasar-an makanan untuk bayi sesuai usianya. Kemudian dibahas, kalau sudah bagaimanakah MPASI bisa dimulai. Ini sudah saya ceritain di Belajar tentang MPASi di post sebelumnya. Kira-kira satu bulan pertama, persentase MPASI memenuhi 10% kebutuhan asupan bayi. Nanti kalau sudah bulan ke-2, naik jadi 20%. Tapi, ya tidak harus saklek gitu. Yang penting jangan terlalu banyak sampe si bayi yang makan MPASI pagi jadi ga sesemangat biasanya minum ASI / sufor siangnya.

Untuk bikin-bikin MPASI awal-awal ini, perlu perlengkapan masak. Biasanya kalo tengok-tengok Amazon, ada banyak yang jual uda satu set. Cuma, karena entah kenapa kok mahal (wkwk), saya kumpulin aja yang mirip-mirip dengan beli di 100 yen shop. Alhamdulillah sebagian besar ada di 100 yen shop. Di gambar di bawah ini, yang nggak 100 yen-an cuma mangkok putih (dapat hadiah lahiran) dan sendok ijo dua biji itu (merk combi, satu set isi dua, Sendoknya lentur tidak sakit di mulut bayi upsiklan). Yang lain yang nggak kefoto, sendok ukur, piller, gunting, dan panci. Ini ceritanya belum pake blender-blenderan karena bikinnya mendadak setiap pagi dan hanya untuk jumlah sedikit. Mungkin nanti selanjutnya harus level up pake blender, hoho.

s__13606917

Setelah itu, di buku dijelaskan bahan makanan apa yang aman dimakan pada usia ini. Sebenarnya kayaknya si bukan berarti tidak boleh makan yang lain (kalau melihat bacaan tentang MPASI di berbagai sumber atau pengalaman teman-teman yang lain), tapi mending cari aman ceritanya.

  • Sumber energi (karbohidrat): beras putih, kentang, ubi, pisang, jagung, roti tawar*, mi udon*, mi su’un*
  • Sumber vitamin dan mineral: wortel, macam-macam sayuran hijau (sawi, bayam, brokoli, green pepper, paprika, eda mame, dll), macam-macam sayuran putih (timun, lobak, kabu, terong, bawang bombai, selada air, seledri, sawi putih, dll), segala macam buah, nori*
  • Sumber protein: ikan madai (gatau deh, bahasa inggrisnya red sea bream), tofu, kinako (bubuk kedelai), ikan teri halus, susu kedelai*

Yang bertanda * maksudnya, lebih baik diberikan di akhir-akhir masa MPASI ini karena takutnya belum terbiasa, takut alergi atau semacamnya.

Lanjut lagi isi bukunya tentang cara-cara membuat aneka bubur encer mulai dari bubur dari beras, dari mi udon, bahkan dari roti tawar. Selain itu, ada juga cara membuat kaldu dari kombu (semacam rumput laut yang kaldunya enak) dan katsuo bushi (serbuk ikan bonito), cara membuat bubur dari berbagai macam sayuran, ikan, dan lain-lain. Terakhir bukunya ngasih resep-resep yang ternyata enak juga saya rasain😀, juga ngasih FAQ tentang suka-duka MPASI.

Sampe sini, Alka lumayan semangat makan. Mungkin karena sebelum mulai MPASI, bapak-ibunya kebanyakan ngiming-ngimingin dia kalo lagi makan. Begitu dia dikasih makan, awal-awal mencoba memberanikan diri jilat-jilat sendok. Akhir-akhir ini, begitu sendok didekatkan, Alka sudah ngerti dan mau mangap. Kata ibu-ibu posyandu di kantor kecamatan si, jangan ngasih makan dengan model “tuh ada pesawat” terus bayi mangap dan sendok masuk mulut, wkwk. Mendingan bayinya uda mempersiapkan hati kalau akan ada makanan masuk ke mulutnya, hehe.

Karena buku yang pink sampe saat ini sangat berguna, saya kemaren nyoba beli buku lanjutannya yang ijo. Waktu ngintip-ngintip bukunya si ada tentang info kalo anak mulai bandel makannya, jadi ada tips-tips mengatasinya (gatau de, manjur apa nggak😛 ), juga gimana ngatur-ngatur menu karena mulai sini, nutrisi bayi mulai tidak bisa dipenuhi hanya dengan ASI/sufor.

Sampai jumpa di edisi selanjutnya.


Belajar tentang MPASI

Karena anak bayi sudah genap 5 bulan, saatnya si ibu belajar tentang makanannya. Tapi, sebenarnya Alka sudah dikasi MPASI (Minuman Pendamping ASI) dari lama karena ASI ibunya kurang😛 ehehe. Anw, saya pengen nulis tentang kesan dan pesan dari baca-baca buku, situs, blog, dll tentang MPASI (Makanan Pendamping ASI) –> kepanjangan yang bener.

Secara umum yang saya ketahui, ada dua macam cara memberikan makanan ke anak bayi, yaitu: mengajari dia makan sendiri dan menyuapi. Mengajari makan sendiri itu terkenalnya caranya disebut Baby-Led Weaning (BLW). Sedangkan, cara menyuapi itu ada macam-macam yang sepertinya sih dibedakan berdasarkan tahap-tahapan memberi makannya. Oke, kita kupas satu-satu (wkwk, biar berasa keren blognya).

Baby-Led Weaning 

Penjelasan tentang BLW itu biasanya tidak terlalu panjang (atau mungkin saya aja yang kurang baca, hehe). Pada intinya adalah, bayi sudah punya naluri masukin macam-macam ke mulut. Jadi, kayaknya ini semacam memanfaatkan nalurinya ini dengan ngasih bayi makanan. Tinggal ditarok, biarkan dia main-main, ngemut, sampai akhirnya ngerti cara makan sendiri (sambil dicontohin pas makan bareng juga kali ya). Beberapa pertanyaan saya, kira-kira jawabannya begini:

  • Emang makanannya kemakan? Tidak perlu diragukan, yang masuk ke mulut sedikit sekali waktu awal-awal.
  • Nanti bayinya kekurangan nutrisi? Sampe kira-kira satu tahun, ASI / sufor adalah makanan utama bayi, gapapa.
  • Makanannya ga dibikin bubur, kalo ketelan? Reflek bayi buat ngeluarin benda asing dari mulut masih tinggi. Yang masuk perut ya yang bisa dia telan saja (dengan syarat ngasih makanannya juga dipilih dulu yang tidak mudah tertelan, misalnya anggur utuh). Nanti sesuai dengan perkembangan pencernaannya bayi, akan semakin bisa nelan tekstur kasar.
  • Kekurangannya BLW? rumah kayaknya jadi berantakan😛 Bayi yang terlahir prematur / punya kelainan kesehatan, tidak dianjurkan pakai BLW
  • Tahap-tahapan ngasih makannya? Awal-awal yang mudah dipegang, lanjut ke yang potongannya agak kecil, lanjut yang bisa dipungut jari, lama-lama apa saja (kira-kira sudah bisa makan apa saja kalau belajar makan anaknya lancar, biasanya 9 bulan ke atas. 

Spoon Feeding (disuapin)

Kalau si bapaknya Alka, dia pengennya ngajarin anak makan sendiri aja biar nggak repot dan anaknya mandiri. Tapi, si ibu penasaran pengen bikin-bikin bubur, wkwk. 

Seperti yang disebut di atas, tahap-tahapan gimana nyuapin anak itu banyak pendapatnya. Tapi, kayaknya si semua pada setuju kalau tekstur makanannya lembut dan encer di awal, dan makin lama makin kasar sampai akhirnya sama dengan makanan orang dewasa. Kata buku yang saya beli kira-kira teksturnya semacam di gambar di bawah. Banyak pendapat merekomendasikan untuk ngasih satu macam makanan yang sama setiap sekitar 3 hari di awal2 MPASI supaya ketahuan si anak punya alergi terhadap bahan makanan apa. 

Nah, kalau di buku di atas, ngasih MPASI bisa dimulai dari sekitar 5 bulan kalau anak sudah tegak lehernya, sudah bisa duduk sendiri (walaupun dengan support), sudah mulai tertarik ke makanan (misalnya dia menggapai-gapai makanan ibunya, ngiler liat orang makan, dll), sudah tidak terlalu mendorong sendok keluar mulut, ritme sehari-hari sudah mulai teratur (pola tidur malam, tidur siang, nenen, dll). Selain itu, direkomendasikan memulai MPASI ketika mood anaknya bagus, dan di pagi hari (supaya kalau ada alergi dan perlu ke dokter, dokternya masih buka). Aturan memulai makan yang disebutkan di sini, sehabis makan MPASI, anak boleh mimik ASI / sufor sampai dia puas. Jadi, memang ASI / sufor masih adalah makanan utama bayi di tahap awal. Tujuan awal ngasih MPASI adalah memperkenalkan suatu hal bernama “makan”, yang mana “makan” itu adalah hal yang menyenangkan, lho.. begitu. 

Yang berbeda-beda dari cara nyuapin yang lain itu biasanya tentang kapan mulainya. Katanya, WHO merekomendasikan ketika anak sudah mulai 6 bulan. Selain itu, yang berbeda-beda lagi adalah banyak porsinya. Ada pendapat yang mengatakan satu kali sehari saja di awal, lanjut ke dua kali makan setelah sebulan pertama, lanjut lagi tiga kali kalau sepertinya sudah siap. Pendapat lain bilang, langsung tiga kali makan tidak apa-apa. 

Percobaan MPASI

Kemarin, Alka ngeliatin aja sambil agak ngiler banyak  ketika bapaka atau ibunya sedang makan. Eh, kebetulan sorenya si ibu makan pisang. Langsung aja de, Alka dipangku dan dicobain disodorin pisang. Alka ternyata mau ngenyut-ngenyut ujung pisangnya. Kayaknya karena pisang itu manis, dia jadi suka deh (biasanya bayi suka manis). 

Hari ini, paginya saya penasaran nyobain cara bikin bubur yang pake rice cooker aja bareng masak nasi biasa. Caranya ini, berasnya dimasukin ke gelas kecil dengan air banyak trus dimasukin di tengah rice cooker bareng masak nasi seperti biasa. Setelah mateng, nasinya diulek, disaring, dan diencerkan. Lebih jelasnya bisa dilihat di video ini: http://youtu.be/86pJLMDII3I . Hasilnya bisa dilihat seperti gambar di bawah. Waktu disuapin, Alka nyengir-nyengir merasa aneh mungkin karena pengalaman baru sama rasanya. Alka makan 2 kali setengah sendok yang di gambar.

 

Kedepannya, saya masih mikir-mikir mau gimana ngasih MPASI-nya. Kemungkinan saya ngikutin si Alka nya lebih terlihat pewe yang mana. Untuk sementara sekali sehari saja dikit-dikit dimulai dari bubur karbohidrat (sumber energi: beras, kentang, ubi, pisang), lanjut nambah sayur dan buah (sumber vitamin dan mineral: bayem, sawi, wortel, apel, dll), lanjut nambah yang berprotein (tahu, ikan, kinako / bubuk kedelai, dll). Diselingi juga BLW kalo dia mau😛 . Kalau sudah terbiasa, kita tambah jadi dua kali makan yaah😛 supaya si ibu mahir dulu latihan nyiapin maemnya.

Semoga ada yang udah berpengalaman ngasih MPASI buat anaknya komen di sini, hehehe.


Belajar tentang ASI (part 2)

 

Belajar kali ini, saya pengen cerita pengalaman akhir Juli lalu waktu saya kena radang kelenjar dada atau yang terkenal disebut mastitis. Untuk lebih jelas apa itu mastitis, silakan klik hyperlink-nya, yaa.

Biasanya, ibu-ibu yang menyusui tidak asing dengan keadaan di mana payudara tiba-tiba mengeras yang mengerasnya itu bukan karena air susu penuh, tapi mengeras berasa seperti ada batu di payudara. Bagian keras-kerasnya ini kalau ditekan sakit. Terus, kebanyakan kalau disusukan, putingnya juga ikutan sakit, hadeeh. Udah gitu, ketika mengerasnya ini tidak juga sembuh, kadang rasa susu bisa berubah yang bikin si bayi nggak mau minum. Diperaspun, air susunya keluar sedikit-sedikit. Kalau sudah begini, ibu menderita lahir dan batin.. badan sakit, anak pun nggak suka minumnya😦 .

Dari yang saya tangkep dari baca-baca artikel dan penjelasan bu suster di rumah sakit dulu, mastitis ini semacam kalau saluran air susu tersumbat sehingga air susu susah dikeluarkan. Nggak jarang, di puting biasanya terjadi putih-putih yang kalau dihisap sama bayi, putingnya jadi sakit. Putih-putih ini ternyata semacam kaya jerawat yang di dalamnya ada lemak yang tidak bisa keluar. Alhasil, lubang pori-pori susu di bawah jerawat tadi tidak bisa mengeluarkan susu. Dan karena itu semacam jerawat, kalau disentuh, apalagi dihisap sama bayi, akan terasa sakit.

Pengalaman saya yang waktu itu diperparah karena puting sedang luka. Kata dokter waktu saya periksain, dari luka itu masuklah si kuman. Kuman ini mengakibatkan infeksi di dalam payudara daaan jadilah waktu itu saya demam. Sepertinya si (dengar-dengar dari teman), kalau sudah lebih dari satu hari demam, keras-kerasnya nggak juga sembuh, harusnya segera dibawa ke dokter atau midwife untuk ditangani. Tapi, waktu itu saya nggak berani segera ke sana karena takut nggak ada yang jagain si bayi waktu di rumah sakit sementara suami lagi nggak bisa nemenin karena harus ngantor.

Wah, jangan ditiru deh, waktu itu saya baru ke dokter setelah seminggu kemudian. Selama seminggu itu, saya demam beberapa kali (paling parah sampai 40 derajat), badan berasa sakit semua, gerak agak banyak sakit, shalat dipake nunduk sakit, mau tidur sakit, nyusuin sakit, bayi semakin rewel, huaa, lengkap sudah penderitaan. Saya langsung ke dokter yang menangani kelenjar payudara. Begitu datang bu suster di sana bilang, biasanya mah kalau mastitis pertama-tama ke midwife dulu. Midwife (助産師 kalau di bahasa Jepang) biasanya ngerti teknik memijatnya. Nah, kalau sudah parah barulah ke dokter. Tapi, berhubung saya sudah terlanjur datang ke sana, ya udah deh diperiksa aja.. gitu. Eh ternyata, saya sudah parah dengan dilihat dari hasil USG, ada cairan di dalamnya. Dokternya mah cuma bilang itu cairan penyakit yang harus dikeluarkan, tapi mungkin itulah yang namanya abses (semacam nanah?), huohoho.

Saya nggak mengira kalau datang-datang saya disuruh ke ruang periksa USG, eh, balik-balik ke tempatnya bu dokter, dia sudah melihat hasil fotonya dan bilang, saya langsung operasi, ya.. tenang saja, cuma operasi kecil (belakangan, teman yang dokter bilang, kaya begini namanya di-insisi). Karena yang kena mastitis yang sebelah kiri, di sisi kiri dokter memberi bius lokal, kemudian semacam menyayat 1.5cm-an. Setelah itu, dokter menekan dari berbagai arah supaya cairannya keluar dari situ. Ternyata cairannya belum bisa keluar semua karena saya udah kesakitan sekali dan bius cuma dipake dibagian permukaan saja. Jadinya saya mesti balik ke dokter 4 kali dalam 2 minggu untuk ditekan-tekan dan dikeluarkan lagi (juga dicek perkembangannya). Di rumah pun, tidak lupa harus diperas-peras karena air susu masih tetap produksi, tapi belum boleh disusukan ke bayi. Setelah diperas, harus ganti perban. Ternyata lagi, dokter bilang, lukanya tidak perlu dijahit karena nanti bisa nutup sendiri. Jadinya kadang air susu mrembes dari lubang sayatan dokternya. Hehehe, tidak bisa membayangkan, kan? Ternyata tidak seseram itu, kok. Tidak terlalu ada darah yang keluar dari lubang sayatannya. Dan, percaya aja sama dokternya, akhirnya keras-keras di susu benar-benar hilang, lubang menutup dengan oke. Kesimpulannya adalah, nggak lagi deh mau merasakan kaya gitu lagi.

Setelah kejadian itu, saya jadi lebih perhatian buat nge-massage gentong ASI ini tiap mandi, lebih rajin memeras kalau merasa air susu masih banyak, tapi si bayi sedang nggak mau mimik, dan lebih menjaga makan (tiap ibu kayaknya beda-beda, kalau saya kebanyakan yang berlemak dan berdaging-daging, rasanya lebih gampang kena), dan sebagainya.

Jadi, ibu-ibu.. terutama new mom, jangan sungkan untuk bertanya ke orang yang berilmu kalau ada yang bimbang. Periksa ke midwife atau ke dokter pun, bisa jadi ada solusi kalau mau bawa bayi ke rumah sakit (suster mau gendongin misalnya, hehehe). Terus juga, carilah ibu-ibu lain yang bisa dijadikan tempat curhat, yaa…

Segitu dulu ceritanya… semoga sehat-sehat ibunya. Insya Allah kalau ibu sehat dan bahagia, keluarga juga bahagia dan aman, wkwkwk.


Membanding-bandingkan Anak

Biasanya, ibu-ibu sifatnya suka khawatiran apakah si anak bayi merasa sakit, apa berat badannya kurang, apa tidurnya cukup, dll. Nah, kalau bapak biasanya lebih nyantai. Bapak bilang, “nggak papa, tuh dia nggak nangis dan happy2 aja keliatannya.” Paling tidak, kalau di rumah saya biasanya begitu.

Saya kadang ngintip akun instagram teman, baca lagi artikek yang sama tentang porsi minum susu, progres pertambahan badan, dll. Nah, ditambah sifat kadang terlalu khawatir, jadinya saya terlalu mikir kenapa beratnya kurang, hehe.. (tidak baiknya ketika kebanyakan mikir, kurang dzikir). Walaupun sudah sering cerita ke bapaknya si bayi, si bapak masih juga lebih sering nyantai.

Sampailah pada hari kemarin, si bapak saya ajakin ngantar si bayi imunisasi. Sambil saya ngeliatin ibu-ibu lain dan anaknya, saya sambil nginget2 imunisasi bulan lalu. Ternyata beberapa ibu kebarengan lagi, jadinya saya bisa ngira-ngira usia anaknya. Saya bilang deh ke si bapak, tuh anak yang itu lahirnya tiga hari setelah anakmu, anak yang sana lebih tua satu bulan, yang sana lagi sama udah tiga bulan, dst. Dan si bapak terheran-heran.. eh, kok mereka lebih ndut yah.. (anaknya maksudnya, bukan ibunya, apalagi bapaknya, wkwk). Tuh kan, anakmu termasuk yang agak kurus, Bapak.. baru percaya dia. Sampe rumah, si bapak bilang, mimik susunya lebih banyakin yaa. hehehe.

Nah, jadi memang membandingkan anak kita dengan anak orang ada untungnya.. yaitu jadi punya parameter yang diobservasi langsung. Yang penting membandingkannya jangan berlebihan, nanti jadi sutress. Kata banyak bacaan2, ingat bayi Anda juga adalah suatu individu, yang punya rasa, punya hati (kaya lagunya siapa itu). 

Ya nggak, nak?

 


Belajar soal ASI

Akhir-akhir ini kegiatan saya kalo si adek sedang agak rewel adalah ngalahi mangku dia walaupun sampe tangan jadi kiyu. Di saat begitu, saya kepikiran macam-macam. Untungnya ada sumaho (smartphone kalau bahasa inggrisnya) yang bisa dipakai googling. Biasanya saya kepikiran kenapa bayi begini dan begitu. 

Ada beberapa situs yang kalo saya googling ujug-ujugnya merasa dari situ informasinya paling mantap. Yaitu:

  • babycenter.com (yang ini situs bahasa inggris)
  • 192abc.com (yang ini situs bahasa jepang. Kalau agak kesulitan bahasa, mungkin bisa dibuka sambil ditranslasi di google translate walaupun artinya jadi kacau, wkwk)

*belum ngerti situs yang disuka dalam bahasa indonesia. Ada yang tahu? Kali aja kalau dalam bahasa ibu jadi lebih pewe bacanya.

Nyambung ke judulnya, yang sering saya cari tahu beberapa hari belakangan adalah tentang ASI dan menyusui. Seperti banyak orang, saya mengusahakan ASI aja buat si adek tanpa ditambah susu formula. Tapi ternyata, waktu cek kesehatan per 1 bulan yang lalu, dokter bilang ASI saya kurangs yang menyebabkan pertambahan berat badan si adek kecil (normalnya rata-rata 30gram per hari, tapi si adek cuma 20gram per hari). Oleh karena itu, saya disuruh nambah susu formula. Setelah dicoba-coba, saya tambahin per hari 320ml, dan bu dokter bilang, “oke, ditambah segitu aja. Kalau kebanyakan, nanti bisa kegendutan karena susu formula tidak semudah susu ibu waktu dicerna.” Bu bidan menambahkan, nanti kalau susu ibu semakin banyak keluarnya, susu formula bisa dikurangi sedikit-sedikit sampai tidak usah sama sekali.

Nah, kemudian saya pulang ke rumah dari rumah sakit dengan mengemban misi nambahin susu formula supaya si adek lebih bagus perkembangannya. Sebenarnya, saya merasa lebih lega soalnya selama ini si adek terlihat nggak pernah puas walaupun sudah nyusu. Ternyata emang ASI kurang. Setelah dicoba nambah sufor, dia tidur lebih enak, si ibu juga lebih enak karena capek berkurang (dia anteng) dan bisa ngurus rumah lebih leluasa.

Dari yang saya baca-baca di situs-situs (ditambah forum ibu-ibu dalam berbagai bahasa.. kebanyakan forum bahasa jepang si), mau ngasih anak ASI aja atau nambah sufor atau sufor aja itu sebenarnya adalah keputusan bapak dan ibu masing-masing. Yang ASI nya lancar jaya dan ada kemampuan menyusui ya mending ASI eksklusif aja. Tapi, di dunia ini ada ibu dengan ASI sedikit, atau karena kondisi sosial/ekonomi/kesehatan/dll tidak memungkinkan si ibu untuk menyusui. Ya nggak papa. Memberikan susu formula ke anak tidak sama dengan menjadi orang tua yang jahat nggak mau menyusui, ehehe. 

Tapi, namanya juga emak, apalagi kalau untuk anak pertama, saya pernah semakin stres kenapa ASI tidak keluar banyak, saya salah apa, kurang ngapain. Ternyata makin stres malah bikin ASI tidak keluar, hohoho. Apalagi kadang teman atau keluarga yang sebenarnya bermaksud baik, mencoba membantu dengan alternatif solusi macam-macam. Akhirnya solusi-solusi itu saya lakukan sebisanya saja walaupun kalau ditanya lagi kayaknya bakal dibilang: “loh kok cuma begitu, harusnya lebih begini-begini.” Ya sudah, mohon maaf atas keterbatasan kemampuan ini. Hoho.

  

Jadinya, kesimpulannya, saya coba nurutin bu dokter dan bu bidan saja🙂 Paling tidak, ini solusi yang paling aplicable untuk saat ini sambil nambah ilmu tentang bagaimana bayi biasanya berkembang. Terakhir si adek ke dokter karena saya kirain dia susah BAB, dokter bilang tidak usah khawatir menambah sufor. Yang paling baik adalah si adek tumbuh dengan bagus. Bayangkan manusia kecil segini, dari yang cuma bisa tiduran aja, dalam setahun dia harus bisa jalan. Dia butuh banyak asupan dan nutrisi supaya tubuhnya kuat, supaya ada energi untuk membesarkan badan, menguatkan otot di samping kebutuhan dasar (bernapas, nangis, menjalankan fungsi organ-organ tubuh). Saya jadi merasa, memaksakan ASI aja ke si adek itu justru adalah keegoisan saya aja. Sekarang si adek alhamdulillah udah 2 bulan, sudah semakin sering senyum dan ngerti kalau diajak ngobrol. Si adek minum ASI dan sufor (sehari target maksimum minum sufor 200ml, alhamdulillah tetap doyan ASI dan minum ASI dengan semangat😀 ). Yippii~


Berbagai Madzhab Merawat Anak

Awalnya dari sharing-sharing teman di berbagai media sosial, sering juga ya dengar tentang merawat anak itu caranya ada berbagai macam pendapat. Merawat anak ini maksudnya adalah perawatan sehari-hari seperti perawatan badannya bayi… ibu harus apa supaya anaknya bagaimana. Misalnya apakah anak harus dibedong, dimandiin dengan cara begini, kalau pipinya merah dikasih ini, dan lain-lain.

Ternyata kalau di media sosial, kita harus menjaga tulisan supaya tidak menyinggung perasaan teman yang pake cara ato saya nyebutnya madzhab yang berbeda dalam merawat anak, ehehe. Soalnya… cara yang kita pakai kadang hanya cocok untuk kasus kita. Teman yang memakai madzhab lain cocoknya dengan yang lain. Mungkin mereka, sama seperti kita juga, telah membuktikan bahwa cara tersebut cocok dan terbukti pewe dengan kondisinya.

Si adek tidak saya bedong karena saya nggak begitu bisa membedong, wkwk. Selain itu, sepertinya tidak dibedong baik-baik saja karena di rumah sakit juga tidak dibedong. 

Soal cara memandikan, karena di rumah sakit saya diajarin cara tersebut, cara itu yang saya praktekkan di rumah. Ternyata ibu saya bilang dulu beliau nggak begitu. Dari lihat-lihat video memandikan anak di negara lain, ada juga yang lain. Kalau cara ibu saya dan beberapa video yang diupload oleh orang Indonesia, bayi yang baru lahir disabunnya sebelum masuk air dan cuma tinggal dibilas ketika sudah di air. Ada juga cara orang Amerika yang pakai bak mandi yang ada tempat pantat bayinya dengan air yang tidak terlalu banyak. 

Kalau yang saya terapkan, airnya pakai yang banyak sekali (sampai kedalaman sekitar 30cm) dengan suhu sekitar 39℃. Bayi dipegang kepalanya, ditutup telinganya dengan jempol dan jari tengah di kanan kiri, kemudian badannya semacam diambangkan di air. Dengan begini, yang memandikan tidak merasa berat menopang badan bayi. Perut bayi ditutup dengan kain yang basah juga kena air di bak supaya tetap hangat dan bisa digenggam tangan oleh bayi. Ajaibnya walaupun awalnya si adek kaget dan nangis dimasukin air, abis itu langsung tenang dan menikmati kehangatan syalala kaya lagi spa, wkwk. Sesudah itu kita umek-umek saja si adek disabun dan bilas di mana-mana. 

Frekuensi memandikan bayi juga banyak madzhabnya. Ada yang berpendapat setiap hari, ada juga yang berpendapat cukup 2-3 kali seminggu (hari lain cukup dilap saja). Dari anjuran rumah sakit, saya harus memandikan setiap hari. Dan memang biasanya setelah seharian, si adek badannya berkeringat dan kadang mukanya berminyak. Jadi, saya pikir memang pas anjuran dari rumah sakit tersebut. Mungkin juga kalau si adek lahir di bulan-bulan musim dingin, tidak mandi setiap hari juga tidak apa-apa.

Ini foto si adek waktu saya lagi belajar mandiin di rumah sakit😀

  

Baiklah segini dulu cerita hari ini (ditulis dari hape sambil mangku si adek yang lagi bubuk).

**video: kira-kira saya diajarinnya kayak gini http://youtu.be/2DVZphybHzw


Human Learning (part 2)

Untuk human learning part 1, silakan menengok post yang sebelumnya, hehe.

Human learning yang sekarang obyeknya berbeda dan tingkat kesulitannya juga berbeda. Kalau dulu, jawaban benar dari training data bisa dikonfirmasi kepada obyek kebenarannya. Tapi, obyek yang sekarang belum mampu mengkonfirmasi jawaban yang diberikan. Training data awalnya juga tidak ada. Hasilnya, yang learning harus nebak-nebak dengan sabar yang sesabar-sabarnya.

Ngomong apa sih?😀

Obyek learning yang sekarang adalah si adek yang alhamdulillah sudah berusia tepat satu bulan hari ini. Dari pengamatan selama satu bulan, yang saya pahami adalah saya belum ngerti banyak sekali ilmu perbayian. Di lain pihak, si adek lebih banyak belajar mengenal lingkungannya. Saya masih belajar menangani dan tidak gupuh ketik dia nangis karena nangis adalah bahasa bayi untuk bilang banyak hal (laper, minta ganti popok, minta digendong, kesepian, sakit sesuatu, dll). Si adek belajar cara ngepasin mulut ke mimik, belajar melihat hal baru dalam hidupnya bersamaan dengan matanya yang semakin jelas penglihatannya, belajar mengenal sura ibu bapaknya, belajar mengenal siang dan malam, belajar ngoceh, dll banyak sekali. Bahkan dia menolong ibu dengan mimik ASI sehingga radang kelenjar dada atau mastitis (payudara yang mengeras karena nggak dimimik2) jadi sembuh.

  

Baiklah lanjut learning lagi setelah kemaren bapak dan ibu lumayan sukses membotaki si adek. Insya Allah nanti rambutnya ditimbang buat disedekahkan senilai gram perak rambutnya pas aqiqah.