Belajar tentang ASI (part 2)

 

Belajar kali ini, saya pengen cerita pengalaman akhir Juli lalu waktu saya kena radang kelenjar dada atau yang terkenal disebut mastitis. Untuk lebih jelas apa itu mastitis, silakan klik hyperlink-nya, yaa.

Biasanya, ibu-ibu yang menyusui tidak asing dengan keadaan di mana payudara tiba-tiba mengeras yang mengerasnya itu bukan karena air susu penuh, tapi mengeras berasa seperti ada batu di payudara. Bagian keras-kerasnya ini kalau ditekan sakit. Terus, kebanyakan kalau disusukan, putingnya juga ikutan sakit, hadeeh. Udah gitu, ketika mengerasnya ini tidak juga sembuh, kadang rasa susu bisa berubah yang bikin si bayi nggak mau minum. Diperaspun, air susunya keluar sedikit-sedikit. Kalau sudah begini, ibu menderita lahir dan batin.. badan sakit, anak pun nggak suka minumnya😦 .

Dari yang saya tangkep dari baca-baca artikel dan penjelasan bu suster di rumah sakit dulu, mastitis ini semacam kalau saluran air susu tersumbat sehingga air susu susah dikeluarkan. Nggak jarang, di puting biasanya terjadi putih-putih yang kalau dihisap sama bayi, putingnya jadi sakit. Putih-putih ini ternyata semacam kaya jerawat yang di dalamnya ada lemak yang tidak bisa keluar. Alhasil, lubang pori-pori susu di bawah jerawat tadi tidak bisa mengeluarkan susu. Dan karena itu semacam jerawat, kalau disentuh, apalagi dihisap sama bayi, akan terasa sakit.

Pengalaman saya yang waktu itu diperparah karena puting sedang luka. Kata dokter waktu saya periksain, dari luka itu masuklah si kuman. Kuman ini mengakibatkan infeksi di dalam payudara daaan jadilah waktu itu saya demam. Sepertinya si (dengar-dengar dari teman), kalau sudah lebih dari satu hari demam, keras-kerasnya nggak juga sembuh, harusnya segera dibawa ke dokter atau midwife untuk ditangani. Tapi, waktu itu saya nggak berani segera ke sana karena takut nggak ada yang jagain si bayi waktu di rumah sakit sementara suami lagi nggak bisa nemenin karena harus ngantor.

Wah, jangan ditiru deh, waktu itu saya baru ke dokter setelah seminggu kemudian. Selama seminggu itu, saya demam beberapa kali (paling parah sampai 40 derajat), badan berasa sakit semua, gerak agak banyak sakit, shalat dipake nunduk sakit, mau tidur sakit, nyusuin sakit, bayi semakin rewel, huaa, lengkap sudah penderitaan. Saya langsung ke dokter yang menangani kelenjar payudara. Begitu datang bu suster di sana bilang, biasanya mah kalau mastitis pertama-tama ke midwife dulu. Midwife (助産師 kalau di bahasa Jepang) biasanya ngerti teknik memijatnya. Nah, kalau sudah parah barulah ke dokter. Tapi, berhubung saya sudah terlanjur datang ke sana, ya udah deh diperiksa aja.. gitu. Eh ternyata, saya sudah parah dengan dilihat dari hasil USG, ada cairan di dalamnya. Dokternya mah cuma bilang itu cairan penyakit yang harus dikeluarkan, tapi mungkin itulah yang namanya abses (semacam nanah?), huohoho.

Saya nggak mengira kalau datang-datang saya disuruh ke ruang periksa USG, eh, balik-balik ke tempatnya bu dokter, dia sudah melihat hasil fotonya dan bilang, saya langsung operasi, ya.. tenang saja, cuma operasi kecil (belakangan, teman yang dokter bilang, kaya begini namanya di-insisi). Karena yang kena mastitis yang sebelah kiri, di sisi kiri dokter memberi bius lokal, kemudian semacam menyayat 1.5cm-an. Setelah itu, dokter menekan dari berbagai arah supaya cairannya keluar dari situ. Ternyata cairannya belum bisa keluar semua karena saya udah kesakitan sekali dan bius cuma dipake dibagian permukaan saja. Jadinya saya mesti balik ke dokter 4 kali dalam 2 minggu untuk ditekan-tekan dan dikeluarkan lagi (juga dicek perkembangannya). Di rumah pun, tidak lupa harus diperas-peras karena air susu masih tetap produksi, tapi belum boleh disusukan ke bayi. Setelah diperas, harus ganti perban. Ternyata lagi, dokter bilang, lukanya tidak perlu dijahit karena nanti bisa nutup sendiri. Jadinya kadang air susu mrembes dari lubang sayatan dokternya. Hehehe, tidak bisa membayangkan, kan? Ternyata tidak seseram itu, kok. Tidak terlalu ada darah yang keluar dari lubang sayatannya. Dan, percaya aja sama dokternya, akhirnya keras-keras di susu benar-benar hilang, lubang menutup dengan oke. Kesimpulannya adalah, nggak lagi deh mau merasakan kaya gitu lagi.

Setelah kejadian itu, saya jadi lebih perhatian buat nge-massage gentong ASI ini tiap mandi, lebih rajin memeras kalau merasa air susu masih banyak, tapi si bayi sedang nggak mau mimik, dan lebih menjaga makan (tiap ibu kayaknya beda-beda, kalau saya kebanyakan yang berlemak dan berdaging-daging, rasanya lebih gampang kena), dan sebagainya.

Jadi, ibu-ibu.. terutama new mom, jangan sungkan untuk bertanya ke orang yang berilmu kalau ada yang bimbang. Periksa ke midwife atau ke dokter pun, bisa jadi ada solusi kalau mau bawa bayi ke rumah sakit (suster mau gendongin misalnya, hehehe). Terus juga, carilah ibu-ibu lain yang bisa dijadikan tempat curhat, yaa…

Segitu dulu ceritanya… semoga sehat-sehat ibunya. Insya Allah kalau ibu sehat dan bahagia, keluarga juga bahagia dan aman, wkwkwk.


Membanding-bandingkan Anak

Biasanya, ibu-ibu sifatnya suka khawatiran apakah si anak bayi merasa sakit, apa berat badannya kurang, apa tidurnya cukup, dll. Nah, kalau bapak biasanya lebih nyantai. Bapak bilang, “nggak papa, tuh dia nggak nangis dan happy2 aja keliatannya.” Paling tidak, kalau di rumah saya biasanya begitu.

Saya kadang ngintip akun instagram teman, baca lagi artikek yang sama tentang porsi minum susu, progres pertambahan badan, dll. Nah, ditambah sifat kadang terlalu khawatir, jadinya saya terlalu mikir kenapa beratnya kurang, hehe.. (tidak baiknya ketika kebanyakan mikir, kurang dzikir). Walaupun sudah sering cerita ke bapaknya si bayi, si bapak masih juga lebih sering nyantai.

Sampailah pada hari kemarin, si bapak saya ajakin ngantar si bayi imunisasi. Sambil saya ngeliatin ibu-ibu lain dan anaknya, saya sambil nginget2 imunisasi bulan lalu. Ternyata beberapa ibu kebarengan lagi, jadinya saya bisa ngira-ngira usia anaknya. Saya bilang deh ke si bapak, tuh anak yang itu lahirnya tiga hari setelah anakmu, anak yang sana lebih tua satu bulan, yang sana lagi sama udah tiga bulan, dst. Dan si bapak terheran-heran.. eh, kok mereka lebih ndut yah.. (anaknya maksudnya, bukan ibunya, apalagi bapaknya, wkwk). Tuh kan, anakmu termasuk yang agak kurus, Bapak.. baru percaya dia. Sampe rumah, si bapak bilang, mimik susunya lebih banyakin yaa. hehehe.

Nah, jadi memang membandingkan anak kita dengan anak orang ada untungnya.. yaitu jadi punya parameter yang diobservasi langsung. Yang penting membandingkannya jangan berlebihan, nanti jadi sutress. Kata banyak bacaan2, ingat bayi Anda juga adalah suatu individu, yang punya rasa, punya hati (kaya lagunya siapa itu). 

Ya nggak, nak?

 


Belajar soal ASI

Akhir-akhir ini kegiatan saya kalo si adek sedang agak rewel adalah ngalahi mangku dia walaupun sampe tangan jadi kiyu. Di saat begitu, saya kepikiran macam-macam. Untungnya ada sumaho (smartphone kalau bahasa inggrisnya) yang bisa dipakai googling. Biasanya saya kepikiran kenapa bayi begini dan begitu. 

Ada beberapa situs yang kalo saya googling ujug-ujugnya merasa dari situ informasinya paling mantap. Yaitu:

  • babycenter.com (yang ini situs bahasa inggris)
  • 192abc.com (yang ini situs bahasa jepang. Kalau agak kesulitan bahasa, mungkin bisa dibuka sambil ditranslasi di google translate walaupun artinya jadi kacau, wkwk)

*belum ngerti situs yang disuka dalam bahasa indonesia. Ada yang tahu? Kali aja kalau dalam bahasa ibu jadi lebih pewe bacanya.

Nyambung ke judulnya, yang sering saya cari tahu beberapa hari belakangan adalah tentang ASI dan menyusui. Seperti banyak orang, saya mengusahakan ASI aja buat si adek tanpa ditambah susu formula. Tapi ternyata, waktu cek kesehatan per 1 bulan yang lalu, dokter bilang ASI saya kurangs yang menyebabkan pertambahan berat badan si adek kecil (normalnya rata-rata 30gram per hari, tapi si adek cuma 20gram per hari). Oleh karena itu, saya disuruh nambah susu formula. Setelah dicoba-coba, saya tambahin per hari 320ml, dan bu dokter bilang, “oke, ditambah segitu aja. Kalau kebanyakan, nanti bisa kegendutan karena susu formula tidak semudah susu ibu waktu dicerna.” Bu bidan menambahkan, nanti kalau susu ibu semakin banyak keluarnya, susu formula bisa dikurangi sedikit-sedikit sampai tidak usah sama sekali.

Nah, kemudian saya pulang ke rumah dari rumah sakit dengan mengemban misi nambahin susu formula supaya si adek lebih bagus perkembangannya. Sebenarnya, saya merasa lebih lega soalnya selama ini si adek terlihat nggak pernah puas walaupun sudah nyusu. Ternyata emang ASI kurang. Setelah dicoba nambah sufor, dia tidur lebih enak, si ibu juga lebih enak karena capek berkurang (dia anteng) dan bisa ngurus rumah lebih leluasa.

Dari yang saya baca-baca di situs-situs (ditambah forum ibu-ibu dalam berbagai bahasa.. kebanyakan forum bahasa jepang si), mau ngasih anak ASI aja atau nambah sufor atau sufor aja itu sebenarnya adalah keputusan bapak dan ibu masing-masing. Yang ASI nya lancar jaya dan ada kemampuan menyusui ya mending ASI eksklusif aja. Tapi, di dunia ini ada ibu dengan ASI sedikit, atau karena kondisi sosial/ekonomi/kesehatan/dll tidak memungkinkan si ibu untuk menyusui. Ya nggak papa. Memberikan susu formula ke anak tidak sama dengan menjadi orang tua yang jahat nggak mau menyusui, ehehe. 

Tapi, namanya juga emak, apalagi kalau untuk anak pertama, saya pernah semakin stres kenapa ASI tidak keluar banyak, saya salah apa, kurang ngapain. Ternyata makin stres malah bikin ASI tidak keluar, hohoho. Apalagi kadang teman atau keluarga yang sebenarnya bermaksud baik, mencoba membantu dengan alternatif solusi macam-macam. Akhirnya solusi-solusi itu saya lakukan sebisanya saja walaupun kalau ditanya lagi kayaknya bakal dibilang: “loh kok cuma begitu, harusnya lebih begini-begini.” Ya sudah, mohon maaf atas keterbatasan kemampuan ini. Hoho.

  

Jadinya, kesimpulannya, saya coba nurutin bu dokter dan bu bidan saja🙂 Paling tidak, ini solusi yang paling aplicable untuk saat ini sambil nambah ilmu tentang bagaimana bayi biasanya berkembang. Terakhir si adek ke dokter karena saya kirain dia susah BAB, dokter bilang tidak usah khawatir menambah sufor. Yang paling baik adalah si adek tumbuh dengan bagus. Bayangkan manusia kecil segini, dari yang cuma bisa tiduran aja, dalam setahun dia harus bisa jalan. Dia butuh banyak asupan dan nutrisi supaya tubuhnya kuat, supaya ada energi untuk membesarkan badan, menguatkan otot di samping kebutuhan dasar (bernapas, nangis, menjalankan fungsi organ-organ tubuh). Saya jadi merasa, memaksakan ASI aja ke si adek itu justru adalah keegoisan saya aja. Sekarang si adek alhamdulillah udah 2 bulan, sudah semakin sering senyum dan ngerti kalau diajak ngobrol. Si adek minum ASI dan sufor (sehari target maksimum minum sufor 200ml, alhamdulillah tetap doyan ASI dan minum ASI dengan semangat😀 ). Yippii~


Berbagai Madzhab Merawat Anak

Awalnya dari sharing-sharing teman di berbagai media sosial, sering juga ya dengar tentang merawat anak itu caranya ada berbagai macam pendapat. Merawat anak ini maksudnya adalah perawatan sehari-hari seperti perawatan badannya bayi… ibu harus apa supaya anaknya bagaimana. Misalnya apakah anak harus dibedong, dimandiin dengan cara begini, kalau pipinya merah dikasih ini, dan lain-lain.

Ternyata kalau di media sosial, kita harus menjaga tulisan supaya tidak menyinggung perasaan teman yang pake cara ato saya nyebutnya madzhab yang berbeda dalam merawat anak, ehehe. Soalnya… cara yang kita pakai kadang hanya cocok untuk kasus kita. Teman yang memakai madzhab lain cocoknya dengan yang lain. Mungkin mereka, sama seperti kita juga, telah membuktikan bahwa cara tersebut cocok dan terbukti pewe dengan kondisinya.

Si adek tidak saya bedong karena saya nggak begitu bisa membedong, wkwk. Selain itu, sepertinya tidak dibedong baik-baik saja karena di rumah sakit juga tidak dibedong. 

Soal cara memandikan, karena di rumah sakit saya diajarin cara tersebut, cara itu yang saya praktekkan di rumah. Ternyata ibu saya bilang dulu beliau nggak begitu. Dari lihat-lihat video memandikan anak di negara lain, ada juga yang lain. Kalau cara ibu saya dan beberapa video yang diupload oleh orang Indonesia, bayi yang baru lahir disabunnya sebelum masuk air dan cuma tinggal dibilas ketika sudah di air. Ada juga cara orang Amerika yang pakai bak mandi yang ada tempat pantat bayinya dengan air yang tidak terlalu banyak. 

Kalau yang saya terapkan, airnya pakai yang banyak sekali (sampai kedalaman sekitar 30cm) dengan suhu sekitar 39℃. Bayi dipegang kepalanya, ditutup telinganya dengan jempol dan jari tengah di kanan kiri, kemudian badannya semacam diambangkan di air. Dengan begini, yang memandikan tidak merasa berat menopang badan bayi. Perut bayi ditutup dengan kain yang basah juga kena air di bak supaya tetap hangat dan bisa digenggam tangan oleh bayi. Ajaibnya walaupun awalnya si adek kaget dan nangis dimasukin air, abis itu langsung tenang dan menikmati kehangatan syalala kaya lagi spa, wkwk. Sesudah itu kita umek-umek saja si adek disabun dan bilas di mana-mana. 

Frekuensi memandikan bayi juga banyak madzhabnya. Ada yang berpendapat setiap hari, ada juga yang berpendapat cukup 2-3 kali seminggu (hari lain cukup dilap saja). Dari anjuran rumah sakit, saya harus memandikan setiap hari. Dan memang biasanya setelah seharian, si adek badannya berkeringat dan kadang mukanya berminyak. Jadi, saya pikir memang pas anjuran dari rumah sakit tersebut. Mungkin juga kalau si adek lahir di bulan-bulan musim dingin, tidak mandi setiap hari juga tidak apa-apa.

Ini foto si adek waktu saya lagi belajar mandiin di rumah sakit😀

  

Baiklah segini dulu cerita hari ini (ditulis dari hape sambil mangku si adek yang lagi bubuk).

**video: kira-kira saya diajarinnya kayak gini http://youtu.be/2DVZphybHzw


Human Learning (part 2)

Untuk human learning part 1, silakan menengok post yang sebelumnya, hehe.

Human learning yang sekarang obyeknya berbeda dan tingkat kesulitannya juga berbeda. Kalau dulu, jawaban benar dari training data bisa dikonfirmasi kepada obyek kebenarannya. Tapi, obyek yang sekarang belum mampu mengkonfirmasi jawaban yang diberikan. Training data awalnya juga tidak ada. Hasilnya, yang learning harus nebak-nebak dengan sabar yang sesabar-sabarnya.

Ngomong apa sih?😀

Obyek learning yang sekarang adalah si adek yang alhamdulillah sudah berusia tepat satu bulan hari ini. Dari pengamatan selama satu bulan, yang saya pahami adalah saya belum ngerti banyak sekali ilmu perbayian. Di lain pihak, si adek lebih banyak belajar mengenal lingkungannya. Saya masih belajar menangani dan tidak gupuh ketik dia nangis karena nangis adalah bahasa bayi untuk bilang banyak hal (laper, minta ganti popok, minta digendong, kesepian, sakit sesuatu, dll). Si adek belajar cara ngepasin mulut ke mimik, belajar melihat hal baru dalam hidupnya bersamaan dengan matanya yang semakin jelas penglihatannya, belajar mengenal sura ibu bapaknya, belajar mengenal siang dan malam, belajar ngoceh, dll banyak sekali. Bahkan dia menolong ibu dengan mimik ASI sehingga radang kelenjar dada atau mastitis (payudara yang mengeras karena nggak dimimik2) jadi sembuh.

  

Baiklah lanjut learning lagi setelah kemaren bapak dan ibu lumayan sukses membotaki si adek. Insya Allah nanti rambutnya ditimbang buat disedekahkan senilai gram perak rambutnya pas aqiqah.


Melahirkan

Tidak menyangka lagi (sebenarnya menyangka, tapi takjub sekali sama kejadiannya), sesuatu yang di perut dari tahun kemarin dan tambah lama tambah besar bisa keluar terus jadi manusia yang bisa nangis, bisa mimik susu, bisa pipis, dkk. Alhamdulillah tanggal 25 April 2016, Senin, jam 9:43 malam JST, si dia lahir normal dan sehat.

Perjuangan ibu-ibu melahirkan itu biasanya beda-beda nggak ada yang sama. Biasanya seru dan mengharukan sekali kalo ibu-ibu sedang cerita bagaimana hebohnya dia ketika mau melahirkan. Kalo versi saya, saya mulai mules dari hari Minggu dini hari jam 2-an. Mulesnya (disebutnya si biasanya kontraksi) kadang datang cepet kadang belasan menit baru datang lagi. Intinya adalah saya nggak bisa tidur enak. Setelah itu, jam 7 pagi orang rumah heboh nyuruh nelpon ke rumah sakit karena saya mungkin agak heboh kesakitan. Tapi, kata bu suster di sana masih nggak boleh berangkat. Nah, setelah ini ceritanya saya seharian mules reda mules reda, shalat nggak kuat berdiri, makan nggak enak, dkk.

Jam setengah 7 sore akhirnya memutuskan untuk nelpon rumah sakit lagi nanyain apa sudah boleh ke sana. Sepertinya bu suster sudah kasihan. Beliau nyuruh saya berangkat, tapi mewanti-wanti kalau terlihat masih lama bakalan disuruh pulang lagi. Nyampe sana perut saya dimonitor pake sabuk buat mengamati gerakan bayi dan kontraksi tiap berapa lama. Sekitar hampir satu jam kemudian, bu suster liat bukaan cervix. Saya disuruh nginep saja karena kontraksi sudah sekitar 5 menit sekali walaupun masih bukaan 3. Ibu dan suami saya disuruh pulang dan malam itu saya mules-mules saja semalaman sambil agak di-php-in bu suster yang bilang mungkin ketubannya mau pecah.

Ternyata sampe subuh ketuban nggak juga pecah, dan malah kontraksinya sempat mereda. Ya udah, saya subuhan di kasur terus tiduran aja. Jam 9-an bu dokter datang dan meriksa cervix. Kata beliau sekarang jadi bukaan 4. Nambahnya pelit amat yah. Setelahnya itu, saya dimonitor lagi sampe jam setengah 12. Dimonitornya berhenti soalnya saya ijin kebelet pipis. Eh, disuruhnya pipis di toilet paling dekat yang itu adalah di ruangan yang lagi dipake orang lain yang sedang mau lahiran (pastinya ruangnya sudah ditutupin sekat). Duh, jadi deg-degan semacam nunggu giliran. Setelah makan siang, saya dimonitor lagi dan sepertinya yang tadi mau lahiran sudah selesai. Jam 1-an ibu dan suami datang. Jam 2-an saya kebelet pipis lagi. Kali ini, kayaknya yang di ruang lahiran orang lain lagi. Beliaunya ini entah kenapa sambil nangis-nangis. Saya masih dimonitor aja sampe sekitar jam setengah 4 dan agak merasa gimana gitu karena suara nangis tadi nggak berhenti-berhenti (sambil mikir kok lama banget si ibu itu).

Bu suster datang ke saya sambil ngasih tahu kalo saya pengen cepet nambah bukaannya harus berjuang dengan pernapasan yang bener. Oke lah, saya nurut walaupun susyah menghembuskan napas panjang sambil perut mules heboh. Bapak mertua bilang suruh minta maaf ke bapak ibu suami biar cepet nambah bukaannya. Terus akhirnya sampe nelpon ke bapak buat minta maaf. Akhirnya saya ijin balik aja ke kamar biar nggak kedengeran suara orang nangis dan lebih bisa pernapasannya. Di kamar ini, suami nelponin bapak saya lagi terus disuruh berdoa2 sambil ngelur perut. Abis itu kayaknya jadi lebih enakan sampe saya agak ketiduran pas kontraksinya nggak datang.

Nah, ini… terus kok ya saya mimpi ada yang lagi nyetel musik dangdut lagunya Meggy Z (kalo ga salah yang ada liriknya “putus lagi cintaku.. putus lagi jalinan kasih.. sayangku padamu.. rela-rela rela aku relakan dst lalala” wkwkwk). Nah kan dangdut itu ada suara kendangnya, pas kok ya bunyi dung-nya kendang, tiba-tiba berasa “BROLLL” terus saya sadar ada cairan-cairan –> ketuban pecah. Weh, kayaknya doa bapak saya yang hobi banget nyetel dangdut terkabul.

Dari sini dilihat saya jadi bukaan 5. Kata bu suster, “yoku ganbarimashita ne napas2annya.” Jam 6 saya dipaksa makan malam supaya ada tenaga, tapi cuma bisa masuk dikit. Dipaksa lagi, eh saya muntah. Jadi merasa bersalah karena bu suster jadi bersihin muntahan. Berhubung mendekati jam 8 saya baru bukaan 6 dan jam besuk sudah mau habis, suami dan ibu disuruh pulang saja, kemungkinan nanti jam 12 akan dihubungi kalau bisa lanjut sampai bukaan 10. Setelah ditinggal pulang, saya maksa-maksa saja latihan pernapasan yang diajari bu suster sambil perut dimonitor pake sabuk di ruang yang tadi. Si ibu yang nangis-nangis sudah nggak ada suaranya, sepertinya sudah selesai lahirannya. Setengah 9-an mules-mules saya semakin kenceng dan jadinya disuruh pindah ke ruang melahirkan pake jalan.. waduh berasa ada yang mau keluar dari jalannya situ.

Jam 9 lebih, si ibu ngasih instruksi supaya lebih intensif pernapasannya. Kalo kontraksi datang tarik napas terus dihembuskan yang panjang sampai minimal 5 ketukan. Kalo kontraksi ilang, tarik nafas panjang dan dihembuskan yang enak. Begitu aja berulang-ulang. Ternyata dalam 3 kali kontraksi, yang sekalinya itu berasa ada sesuatu besar yang mau keluar. Maaf agak jorok, berasanya kayak ingin BAB yang keras banget, uda mau keluar tapi nggak jadi (tapi dari lubang yang depan). Akhirnya bu suster memanggil staf-staf melahirkan dan mengabarkan kalau target melahirkan berubah jadi sekitar jam 10 malam. Saya diserahi hp oleh beliau dan disuruh nelepon suami di rumah. Saya cuma bisa dalam hati, “uweleeeh, tega si ibu nyuruh saya yang nelepon.” Langsung aja saya buka hp sambil mringis-mringis nahan rasa di perut. Begitu nyambung saya langsung teriak, “Mas, buruan ke sini sama ibu!”

Berhubung rumah juga nggak jauh dari rumah sakit, 15 menit-an kemudian suami dan ibu datang. Mereka disuruh berdiri di belakang kepala saya, nggak boleh lihat daerah keluarnya bayi. Mungkin kalo berdiri di daerah keluar bayi, si mas jadi trauma melihat cervix yang melebar dan mungkin agak mengerikan, wkwk.

Baiklah, beberapa kali bu suster (yang ternyata bu bidan) agak marahin saya karena nggak kuat ngeden padahal sudah diberi instruksi caranya. Akhirnya seseorang yang ternyata adalah pak dokter memutuskan bahwa saya nggak kuat ngeden. Beliau minta diambilkan sesuatu (semacam alat, nggak ngerti namanya apa). Ternyata yang diambilkan itu adalah gunting, sodara-sodara. Dengan ringannya dia menggunting sesuatu di situ, kemudian saya disuruh agak merubah posisi kaki. Setelah itu, ada instruksi lagi dari bu bidan untuk ngeden. Kali ini ajaib, sekali ngeden ada sesuatu yang besar keluar. Jleer, ada manusia kecil berwarna masih agak keunguan keluar.

Setelah itu tali puser sepertinya diputus, dan sisa plasenta di perut saya dikeluarkan. Si adek dibersihkan, dan saya dijahit-jahit oleh dokter. Si adek didengarkan adzan dan iqomat, didekatkan ke saya untuk disusui, terus dipisah dan saya disuruh tidur.

Fiuh, alhamdulillah. Hari yang melelahkan.
*eh, ternyata setelah itu datanglah hari-hari begadang ayo begadang🙂


kue lumpur

Akhir-akhir ini, saya sedang gemar buka instagram untuk nyari sesuatu yang enak-enak dan bisa dicoba bikin. Pas kebetulan nemu resep kue lumpur yang pake kentang, kepengen makan itu, tapi nggak punya cetakan lumpurnya. Eh, terus minggu kemarin dapat rejeki dari teman yang sedang pindahan dan menghibahkan cetakan takoyaki-nya ke saya. Ya sudah deh, kita bikin kue lumpur mini aja pake cetakan takoyaki. Resepnya ini saya nyontek di instagramnya @doyanbaking, tapi saya cuma pake 1/4 resep soalnya resep aslinya buanyak banggets pake terigu setengah kilo.

Baiklah, kita pamer fotonya dulu ya…

S__7667722

Cara membuatnya tidak susyah. Kira-kira kayak gini:
Bahan:
* Tepung terigu 125gr
* Gula 50gr
* Vanili dikit (mungkin sekitar seujung sendok)
* Telur 1 butir
* Butter 50gr
* Susu 200ml (resep aslinya pake santan 200ml)
* Garam seiprit
* Kentang 1 buah ukuran sedang (sekitar 60gr-an kali yah)

Langkah bikinnya:

  1. Siapkan bahan-bahan biar enak waktu mau masuk2in. Termasuk kentang dikupas dan dikukus (tadi saya bungkus pake kitchen paper di-double-in plastik wrap terus dipanasin aja di microwave sekitar 4~5 menit 500W), terus dihancurkan sampe lembut (kalo saya tadi pake ulek-ulek, ohoho). Jangan lupa juga butternya dilelehkan (pake margarin juga OK, tapi kayaknya lebih wangi dan enak dan juga lebih mahal hiks kalo pake butter).
  2. Kocok gula, telur, dan vanili sampe sekitar 6~10 menit (kocok = pake mixer)
  3. Masukkan kentang terus dikocok sampe tercampur
  4. Masukkan tepung sedikit-sedikit sambil dikocok
  5. Masukkan susu sedikit-sedikit sambil diaduk (pindah pake adukan soalnya biar nggak muncrat-muncrat).
  6. Masukkan garam terus diaduk
  7. Masukkan butter leleh terus diaduk.
  8. Siapkan cetakan takoyaki, olesin minyak, terus dinyalain biar panas.
  9. Tuang adonan ke cetakan takoyaki, tunggu sampe mateng. Waktu masih agak setengah mateng bisa dikasih toping kismis atau apa aja kesukaan kita.
  10. Jadi deh.

Lumayan lho buat cemilan yang bikinnya termasuk murah-meriah, tapi enak. kekekek.