[Perjalanan Haji] Part 3: Berangkat

Beberapa waktu lalu sebenarnya saya berniat menulis semua cerita perjalanan haji segera setelah balik ke rumah. Tapi, waktu itu sedang rame tentang protes teman-teman haji kami kepada pihak travel yang kami pakai karena banyaknya hal-hal yang tidak sesuai dengan yang kami bayangkan sebelum berangkat. Saya jadi bimbang mau nulis bagaimana. Ya, sebenarnya banyak juga sih rasa tidak puas kepada pihak travel, tapi rasanya kok jadi mengurangi rasa lega karena sudah menyelesaikan ibadah haji.. padahal saya sedang ingin-inginnya mengenang waktu jalan-jalan sambil merasakan tenang dan senang dekat dengan pusat kiblat dan makam Rasulullah saw.

Baiklah, keberangkatan kami diawali dari rumah. Beberapa teman di sini mengunjungi rumah kami untuk mengingatkan lagi yang harus dibawa, juga untuk menitip doa. Alhamdulillah, kami juga dapat doa pengiring keberangkatan. Kami diantar oleh salah satu keluarga, Pak Reza dan Bu Krisma sampai bandara. Awalnya kami menolak karena merepotkan, tapi ternyata malah jadinya sangat tertolong karena tidak perlu repot cari taxi dan malah ketambahan sedikit lagi cerita pengalaman beliau sewaktu naik haji tahun sebelumnya.

Dari Fukuoka, kami ke Tokyo dan menginap semalam di hotel dekat Bandara Narita. Setelah itu, paginya kami ke Narita dan ngumpul bareng rombongan yang lain. Dari Narita, kami naik pesawat sampai New Delhi.

Di New Delhi ini kami menemui beberapa kejutan. Kami tahu kalau harus keluar bandara dan menginap di hotel yang nantinya disediakan. Tapi, ternyata koper kami harus dikeluarkan dari bagasi dan dibawa serta ke hotel, padahal awalnya pihak travel bilang koper tidak akan diusung-usung keluar. Ternyata setelah saya cari tahu lagi, koper boleh tidak diambil asalkan yang punya tidak keluar bandara… kayaknya pihak travel kurang dalam mencari tahu, haha. Yang kedua, ternyata hotelnya agak jauh dibanding yang kami perkirakan. Butuh waktu satu jam lebih naik bus (busnya semacam bus damri yang jadul banget, dengan kipas angin dan Angin Cendela) ditambah naik bajaj terbuka dari jalan besar sampai ke depan hotel karena hotelnya agak mblusuk, bus tidak bisa masuk. Perjalanan ini membuat kami jadi melihat wajah India yang konon agak kotor, hehe, mohon maaf ternyata ya begitu itu, dan bersyukur negara sendiri kayaknya lebih baik. Kami trenyuh melihat homeless di pinggir jalan yang menggendong anak perempuannya yang mungkin masih di bawah 2 tahun, ngga pake celana apa-apa, entah mungkin karena tidak punya atau bagaimana. Pengemis juga banyak, bahkan di depan hotel nungguin orang yang mau keluar. Tapi, alhamdulillah kamar yang disediakan bisa berdua aja dengan suami sehingga bisa bebas bongkar koper sedikit untuk mengambil barang yang awalnya mau kami bawa di hand carry. Makanan di India, seperti yang kami perkirakan, kare! Kami berniat dari awal tidak mau terlalu ambil pusing dan ribet soal makanan. Alhamdulillah, yang ada ya kami makan dan berusaha untuk disyukuri.

 

 

 

 

 

Kejutan lain yang kami baru tahu setelahnya, ternyata ada beberapa teman kami yang tidak bisa keluar bandara karena tidak bisa (apa tidak keburu waktunya, kurang paham) mendapat visa India. Jadi, mereka harus menginap di bandara, padahal salah satu dari mereka sedang hamil. Mungkin nanti ketika bayinya sudah lahir bisa dijadikan cerita seru selama kehamilan yah 🙂 Masya Allah.

Besoknya, hari yang tunggu, kami berangkat dari New Delhi menuju Jeddah. Saya baru ngeh, Jeddah itu tempatnya lebih dekat dengan Mekkah daripada Madinah. Padahal, kota singgah yang mau dituju pertama adalah Madinah. Tapi, memang ada enaknya.. nanti ketika mau balik ke Jepang, tidak perlu terlalu jauh menuju bandara dari Mekkah.

 

 

 

 

 

Di Jeddah, proses imigrasinya cepat, tidak seperti banyak cerita orang-orang, alhamdulillah. Katanya pihak Arab Saudi semakin meng-improve sistemnya ini sehingga semakin tahun semakin cepat. Setelah mengeluarkan koper, kami shalat maghrib dan isya di-jama’ ta’khir kemudian menunggu untuk naik bus yang akan ke Madinah. Eeh, la dalah, menunggu bus-nya yang lama. Ada beberapa teman kami yang kopernya tidak ketemu sehingga pihak travel harus membantu mencarikan sampai mungkin 3 jam lebih. Karena tidak ketemu juga, pihak travel sepertinya memutuskan untuk memberangkatkan dulu orang-orang yang kopernya sudah ada. MasyaAllah, alhamdulillah, koper saya dan suami termasuk yang baik-baik saja. Di perjalanan, kami sempat berhenti sebentar di rest area. Kami mau shalat subuh, ternyata belum waktunya, dan bus sudah harus buru-buru berangkat lagi. Akhirnya saya memutuskan shalat di bus karena diperkirakan baru sampai Madinah sekitar dzuha.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puji syukur kepada Allah swt, akhirnya kami sampai di kota Madinah, di hotel dekat Masjid Nabawi. Betapa senangnya hatiku, hmmm ^_^

[Perjalanan Haji] Part 2: Persiapan

Persiapan untuk berangkat haji, seperti yang saya singgung di post sebelumnya, ada beberapa yaitu, persiapan keuangan, persiapan ilmu, persiapan barang bawaan, dan persiapan rumah dan keluarga yang akan ditinggal.

Persiapan keuangan

Kalau mengikuti perkembangan harga perjalanan haji dari travel-travel di Jepang, kayaknya kok harganya makin tahun makin naik yaah?! Naiknya sedikit-sedikit, tapi lama-lama kerasa juga, hehe. Semoga tahun depan perekonomian Jepang pas lagi baik, jadi ga semakin mahal. Tahun 2019 ini, biaya perjalanan sekitar 580 ribu yen sampai 650 ribu yen menurut sepengetahuan saya (tolong dikoreksi). Saya menggunakan jasa travel air1 dengan biaya paket A 650 ribu dan paket B 580 ribu. Beda paket-paket itu ada di hotel yang diinapi ketika di Mekkah. Paket A jarak 0 meter dari Masjidil Haram, sedangkan paket B jarak sekitar 2 km dari Masjidil Haram (ada shuttle bus gratis dari hotel ke Masjidil Haram setiap 20 menit). Di perusahaan travel lain, saya kurang paham, tapi saya dengar tidak terlalu dekat sekali (jarak jalan 15 menit, silakan dikonfirmasi lagi).

Selain biaya perjalanan yang dibayarkan ke perusahaan travel, ada biaya lain yang kalau ditotal-total jadi lumaya juga.

  1. Biaya vaksin dan periksa kesehatan
    Tahun ini, pihak travel yang saya ikuti mewajibkan kami untuk vaksinasi meningitis dan influenza. Awalnya saya mikir, kenapa harus influenza kan di sana panas?! Di Jepang biasanya virus influenza mewabahnya waktu musim dingin. Ternyata… saya dan suami kena influenza waktu di sana (ceritanya nanti di part yang lain). Ya, alhamdulillah sudah imunisasi. Mungkin bisa lebih parah kalau tidak imunisasi. Kami periksa kesehatan dan suntik vaksin di tempat yang sama di Hakata Hinoki Clinic.
    Sepertinya kliniknya banyak dikunjungi orang asing sehingga kayaknya ada dokter yang bisa berbahasa inggris. Waktu itu kami menjelaskan kalau kami akan pergi haji sehingga membutuhkan vaksin dan sertifikat kesehatan. Bukti telah vaksin dan sertifikat kesehatan formatnya kami dapat dari pihak travel sehingga dokter tinggal tulis-tulis sedikit dan tanda tangan. Biaya total sekitar 27 ribu yen per orang.
  2. Biaya hadyu
    Tahun ini biaya hadyu (atau kalau di Indonesia biasa disebut dam) yang ditetapkan oleh pihak travel kami sebesar 17 ribu yen. Kemungkinan bisa juga berkurban sendiri ketika di sana, tapi kami tidak mencari tahu bagaimana caranya. Untuk jamaah haji yang melakukan niat haji ifrad, tidak perlu membayar biaya penyembelihan hadyu ini.
  3. Biaya asuransi perjalanan
    Ini juga diwajibkan oleh pihak travel. Kami memilih asuransi AIG untuk perjalanan ke luar negeri (silakan googling sendiri yah situsnya, hehe. Biayanya sekitar 15 ribu yen per orang untuk perjalanan 18 hari. Saya dan suami hanya melakukan perjalanan selama 18 hari di luar negeri. Rombongan travel kami sebenarnya ada di luar negeri selama sekitar 25 hari sehingga mungkin per orangnya lebih mahal biaya asuransinya (karena kayaknya hitungannya per hari).
  4. Biaya perjalanan dari kota tempat tinggal ke Tokyo
    Kalau ini tergantung kapan masa haji kita dan kapan kita pesan tiketnya. Harga yang kami dapat sekitar 25 ribu pulang pergi sudah termasuk bagasi (kami pakai pesawat LCC).
  5. Uang saku selama di Arab Saudi
    Yang ini tergantung seberapa banyak mau belanja di sana. Sebagai perkiraan, harga kurma per kg di Madinah (kalau di Mekkah, sepertinya lebih mahal) sekitar 25-50 Riyal tergantung jenis kurma. Harga baju panjang perempuan sekitar 40-100 Riyal per baju (bisa ditawar lebih murah). Ada juga toko oleh-oleh serba 2 Riyal isinya hiasan dinding, gantungan kunci, kopyah bulat, dan lain-lain barang precilan. Harga makanan sekitar 7-20 Riyal (tergantung makanannya juga si). Perlu juga uang untuk transportasi jaga-jaga kalau harus ke suatu tempat sendiri memisah dari rombongan travel atau kalau harus bertualang sendiri kaya saya dan suami (hehe, ada ceritanya nanti deh). Total yang kami habiskan tidak sampai 2000 Riyal karena memang tidak terlalu banyak belanja. Untuk yang harus memberi oleh-oleh banyak sanak saudara, mungkin harus bawa lebih. Kami menukarkan yen ke USD di Bandara Narita. Karena transit di India, kami sempat menukarkan 20 USD ke Rupee untuk jajan tipis-tipis. Sisa uang USD kami tukarkan ke Riyal di Madinah dan Mekkah.

Persiapan ilmu

Saya harus banyak baca karena memang ternyata sedikit sekali yang saya pahami tentang haji. Dulu memang ada pelajaran tentang haji waktu sekolah, tapi ternyata ga ngerti babar blas. Ada beberapa buku yang saya baca-baca, tapi tidak khatam. Yang ada di foto tersebut, ada buku yang ditulis oleh Ustadz Ahmad Sarwat, buku “Panduan Pintar Manasik Haji & Umroh” oleh Aji Payumi, S.Pd., buku “Tuntunan Manasik Haji & Umroh” oleh Abu Muhammad Abdurrahman Asy-Syafi’i, buku yang disusun oleh Badan Penerangan Haji-nya pemerintah Arab Saudi (dibagi-bagi gratis waktu sampai di Bandara Jeddah, ada yang berbahasa Indonesia), dan buku kumpulan doa haji yang diberi oleh pihak travel (bisa dikalungkan sehingga mudah dibawa ketika manasik haji).

Selain buku, saya mengikuti kajian yang diselenggarakan oleh Kimochi Forkita (pengajian orang-orang di Kanto sepertinya) yang dibawakan oleh Ustadz Jailani Abdul Salam. Ustadz Jailani merupakan pembimbing haji tahun ini di perusahaan travel HIS. Saya sempat dengar bahwa beliau adalah pembimbing haji tahun sebelumnya di perusahaan travel air1. Alhamdulillah kajiannya mudah dimengerti. Ada 3 video tentang haji dan umroh(*). Video pertama saya sertakan di bawah ini. Selain dari Kimochi Forkita, saya juga lihat beberapa video, tapi kurang pembahasannya menurut saya kurang terstruktur. Menonton video youtuber yang sedang umroh dan bercerita tentang tempat-tempat di sekitar Masjid Nabawi dan Masjidil Haram juga cukup menarik. Kami yang berangkat haji dari Fukuoka juga meminta lecture tentang haji kepada Imam Masjid An Nour Fukuoka. Dan yang tidak kalah penting adalah bertanya langsung kepada teman-teman yang berangkat haji dari Fukuoka pada tahun sebelumnya.

 

Persiapan barang bawaan

Seperti semua perjalanan, kami harus ngepak barang bawaan. Kami mempersiapkan barang bawaan dengan list yang diberikan dari pihak travel (tapi ya tentunya di-modifikasi juga 😛 ) dan melihat barang bawaan teman yang pergi haji dari Jepang pada tahun-tahun yang lalu. Saya merasa persiapan saya ini kurang bagus karena memang tidak terlalu sempat untuk mempersiapkannya. Mungkin alasan aja si (ii wake 😛 ), karena setiap hari rempong dengan balita dan bayi, baru benar-benar packing sekitar 1 minggu sebelum keberangkatan.

Untuk rujukan yang baik, silakan membaca blog teman-teman saya ini yang juga saya ikuti sebagian: blognya Ega, blognya Wahyu. Ada beberapa barang yang ternyata nggak saya bawa karena lupa dan tidak sempat beli, yaitu bantal tidur di perjalanan dan botol spray kosong. Kalau ada rejeki lagi untuk haji dan umroh ke sana, semoga nggak lupa lagi yah 😀 Saya juga baru tahu kalau di Indonesia, produk kecantikan dari wardah (bukan ngiklan) ada juga yang berupa botol spray isi air zamzam yang pada dibawa oleh beberapa teman-teman. Kalau tahu dari awal, pengen juga lah ya. Nanti bisa diisi ulang air zamzam waktu di Medinah ataupun di Mekkah.

Persiapan rumah dan keluarga yang akan ditinggal

Dari segala persiapan, sepertinya yang satu ini yang banyak menguras tenaga dan pikiran. Kami meninggalkan dua anak, 3 tahun dan 5 bulan. Untuk kakaknya, Alka, lebih banyak ke persiapan mental. Dari jauh-jauh hari kami cerita tentang Nabi Muhammad saw, tentang haji, daaan tentang kami yang akan pergi haji sebentar. Alka nanti akan di rumah ditemani Mbah Uti dan Mbah Kung, yaa. Dengan ceria, dia jawab “iyaaa.” Waktu itu terlihat sok iyes, wkwk. Ternyata setelah ditinggal hampir dikit-dikit nangis selama sekitar tiga hari.

Untuk adeknya, Hiro, lebih banyak persiapannya. Saya memeras ASI untuk dibekukan kira-kira dari selepas bulan puasa (dari Syawal sampai Dzul Qo’dah), walaupun ada hari-hari yang bolong dan sehari hanya bisa dapat sekitar 100mL. Karena tidak cukup, saya cobakan juga beberapa merk susu formula dan akhirnya si bayi maunya susu organik impor dari Australia yang harganya juga bikin mikir sampai 5 kali sebelum beli, hoho. Susu halal yang bisa dibeli dari Jepang terbatas, dan susu itu saya temukan bisa beli dari distributornya di Jepang (yang ternyata ealah, distributornya ndadak pesen dari Australi, kirain bisa cepat nyampe). Nah, balik ke ASI peras, kami harus beli kulkas baru yang freezer-nya muat banyak untuk menyimpan ASI peras tersebut. Selain susu, karena Hiro sudah 5 bulan, sesuai arahan petugas kesehatan di sini bahwa MPASI dimulai ketika sudah sekitar 5 bulan, saya menyiapkan bubur instan yang berbentuk powder tinggal tuang air karena si Mbah bilang maunya yang nggak repot, oke deh. MPASI ini sebenarnya tidak terlalu saya targetkan harus termakan, tapi sepertinya akan sangat lumayan apabila ternyata mau, untuk mengurangi ketergantungan kepada susu formula (selain itu karena si adek udah ngiler dan mupeng-mupeng kalau lihat orang makan).

Persiapan lain adalah mendatangkan orang tua saya dari Indonesia. Setelah orang tua datang di Fukuoka, kami harus menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan di sini, seperti tempat belanja, tempat dan cara buang sampah, lokasi masjid di Fukuoka, cara mengantarkan Alka ke daycare, cara merawat bayi yang biasa kami lakukan, makanan halal yang biasa kami beli, jajan kesukaan Alka, dan lain sebagainya.

Demikianlah persiapan-persiapan yang kami lakukan sebelum berangkat haji.

(*) penjelasan detail dapat disimak di situs Forkita.

[Perjalanan Haji] Part 1: Introduction

Alhamdulillah, tahun ini saya dan suami dapat rejeki menjadi tamu Allah untuk menjalankan rukun iman yang dilakukannya jika mampu, ibadah haji. Sampai sekarang saya masih terngiang-ngiang rasanya ibadah ke tanah suci ini. Oleh karena itu, mumpung ingatannya belum pudar, sebagai rasa syukur juga, saya pengen cerita pengalaman haji kami , yaah ^_^

Niat ibadah haji kami sudah ada sejak sekitar 2~3 tahun yang lalu. Kami berpikir, mumpung tinggal di Jepang, di mana hampir tidak perlu mengantri seperti di Indonesia untuk dapat pergi haji. Namun, persiapan keuangan kami baru bisa pas tahun ini karena pergi haji untuk dua orang ini bagi kami juga bukan sesuatu yang murah.Selain persiapan keuangan untuk berangkat haji, ada juga persiapan lain yang harus dilakukan. Kami harus menyiapkan bekal ilmu supaya di sana dapat menjalankan ibadah lebih baik. Kami juga harus mempersiapkan supaya anak-anak di rumah bisa ditinggal ke luar negeri selama kira-kira 19 hari.

Bukan berarti persiapan keuangan dan ilmu itu mudah sekali juga, tapi yang saya rasakan yang paling berat adalah mempersiapkan kesiapan anak-anak untuk ditinggal. Alhamdulillah Bapak dan Ibu saya bisa datang ke Fukuoka untuk menemani anak-anak. Tapi takdir Allah, ternyata Alka demam waktu ditinggal dan Hiro agak pilek. Di hari di mana kami harus berangkat, AC di rumah rusak padahal musim di Fukuoka sedang panas-panasnya. Akhirnya saya berangkat sambil nangis, deh, huhu.

Masjid Nabawi

Perjalanan kami diawali dengan transit di India semalam, kemudian terbang lagi ke Jeddah. Dari Jeddah, kami naik bus ke Madinah dan tinggal di sana selama sekitar 5 hari. Setelah itu, kami ke Mekkah. Kami mengawali pengalaman di Mekkah dengan menjalankan ibadah umroh karena kami berniat menjalankan haji tamattu. Setelah sehari acara bebas, kami menuju ke Mina pada 8 Dzulhijjah untuk menjalani hari tarwiyah. Kemudian berlangsunglah ibadah haji inti, kami ke Arafah untuk wukuf, kemudian bermalam di Muzdalifah. Setelah itu, kami kembali ke Mina sampai hari tasyrik selesai (kami memilih nafar tsani). 2 hari setelah itu, kami berpisah dari rombongan untuk duluan kembali ke Jepang. Grup travel kami masih di Mekkah selama sekitar 5 hari baru kemudian kembali ke Jepang.

Ka'bah (free foto dari situs lain karena ternyata saya malah lupa foto-foto setelah Tawaf).

Awalnya kami sudah lega karena bisa kembali ke Jepang setelah banyak cerita di Mekkah dan Madinah. Tapi, ternyata perjuangan belum berakhir. Ternyata suami masih demam (saya demamnya sudah selesai waktu di Mekkah) dan ternyata suami kena influenza tipe A. Setelah itu virusnya menular ke Alka. 2 minggu setelah itu, gantian Hiro demam lagi. Bapak dan Ibu saya sudah harus pulang lagi setelah 4 hari kami pulang ke Fukuoka. Dan jadilah, saya tepar sambil harus beberapa kali ke rumah sakit dan agak spaneng O_O.

Masya Allah, segala kekuatan hanya dari Allah swt.

Post kali ini masih pembukaan 🙂 . InsyaAllah setelah ini akan ada cerita detail bagaimana perjalanan kami. So, stay tuned! (kaya banyak yang baca aja 😛 )

Melahirkan (lagi)

Alhamdulillah, tanggal 27 Februari lalu, saya diberi kesempatan lagi melahirkan secara normal di rumah sakit yang sama dengan melahirkan yang pertama. Cerita kali ini agak beda dengan yang pertama. Selain berasanya agak pede (iya gitu..?) karena merasa sudah punya pengalaman, hal yang lebih dikhawatirkan juga beda.

  
Akibat waktu kehamilan yang pertama dulu saya kontraksi lama banget (lebih dari sehari), saya sudah nggak kuat ngeden pas sudah waktunya ngeden. Waktu itu, setelah bukaan 10cm, dokter memutuskan untuk menggunting sedikit jalan keluarnya supaya si anak bisa segera keluar. Kayaknya nih, penyebab kontraksi lama selain karena memang waktu itu melahirkan anak yang pertama, saya nggak melakukan ilmu pernapasan yang sudah dipelajari sebelumnya. Begitu kontraksi datang, udah lupa semua, yang di kepala hampir cuma sakit aja (istighfar, hiks). Oleh karena itu, kali ini saya nggak mau hal itu terjadi lagi, hohoho.

Kali ini saya mencoba lebih rileks, lebih percaya walaupun waktu kontraksi datang rasanya sakit, insyaAllah setelah itu akan ada periode waktu nggak sakitnya. Ilmu pernapasan lebih saya inget2, dan alhamdulillah ketika kontraksi datang, ilmunya bisa teraplikasikan 😀 . Kontraksi datang, tarik napas dalam-dalam, kemudian keluarkan pelan-pelan dalam paling tidak 3 ketukan (berasa ilmu tajwid, pake ketukan panjang). Napas dalam ini sangat berguna untuk memberi oksigen ke badan kita sehingga baby-chan di perut juga kebagian oksigen yang cukup (menurut bu bidan di tempat saya melahirkan). Waktu kontraksi hilang, rileks-kan badan sehingga tidak capek karena kesakitan kontraksi itu nggak hanya bikin sakit, tapi juga bikin capek, sodara-sodara. Dengan ini, alhamdulillah bukaan tempat bayi keluar membuka dengan progress yang tidak begitu lama.

Tanggal 27 itu, saya sudah merasa tidak bisa jalan cepat dari pagi waktu antar Alka ke hoikuen* sekitar jam 9. Jam 11 sampai dzuhur, saya tiduran aja di rumah karena kayaknya sudah mulai kontraksi walaupun belum teratur jaraknya. Setelah shalat dzuhur, tiduran lagi sampai jam 3, tapi nggak bisa tidur karena sudah lebih sering kontraksinya, tapi belum sakit yang sakit banget (yaa.. sakit juga sih, semacam kram haid rasanya). Berhubung sudah mulai teratur periode sakitnya, saya telepon suami biar pulang kerja. Setelah itu telepon ke rumah sakit, laporan kalau sudah teratur sakitnya, dan ternyata sama bu bidan sudah boleh menuju rumah sakit. Kemudian, saya telepon mama taxi yang sudah saya pre-order jaga-jaga langsung datang kalau saya mau sudah tanda-tanda mau lahiran. Sebenarnya jarak rumah ke rumah sakit cuma sekitar 10 menit jalan kaki, tapi karena kayaknya lebih aman naik mobil, akhirnya memutuskan untuk naik taxi aja.

Sekitar jam 5 sore kurang sedikit, saya sudah disuruh untuk masuk kamar bersalin. Setelah itu jam 5:30, suami harus pulang duluan jemput Alka dari hoikuen terus langsung pulang ke rumah. Melahirkan kali ini  nggak pake ditemenin suami karena mertua baru datang 4 hari kemudian. Jam 7:30 kata bu bidan, bukaan jalan lahir sudah terbuka 8cm. Kontraksinya tambah sakit kit kit sehingga mau menghebuskan napas panjang susah banget. Tapi, ketubannya belum pecah juga. Dokter datang kira-kira jam 9 malam, bukaan sudah 9.5cm-an, tapi ketuban nggak pecah juga. Akhirnya dokter memutuskan untuk mecahin ketuban dan “byuur”, ketubannya pecah deh. Setelah itu, kata bu bidan saya sudah boleh ngeden karena sudah bukaan 10cm. Tiap kontraksi datang, saya diinstruksi buat ngeden, nggak boleh keluar suara, nggak boleh merem, harus lihat ke arah tangan bu bidan. Ini rasanya sakiiit, dan susaah semacam akan BAB yang keras dan gede banget, tapi keluarnya dari depan. Berulang kali ngeden, tapi nggak bisa-bisa. Dalam hati udah mikir, kok nggak digunting kaya waktu sebelumnya yaa.. setelah digunting waktu itu jadi gampang, bisa keluar dalam sekali ngeden. Saya mikir sampai kapan ini harus ngeden terus, sampai kapan sakitnya bisa berakhir? heuuu.. Sambil berusaha inget bahwa ini juga jihad, saya coba mengeluarkan segenap tenaga (emot tangan berotot), akhirnya baby-chan keluar. Ya Allaaah.. terus saya tarik napas panjang, lega!! Jam 9:45 malam lahir dengan berat 3186 gram, panjang 51cm.

Setelah lega, saya keinget Alka. Alka apa mau makan sama bapaknya di rumah, apa mau dimandiin, apa bisa bobo tanpa nyari ibunya. Kemudian luka melahirkan dijahit sama dokter, saya dibersihin sama bu bidan, baby-chan juga sudah dibersihkan, terus diberikan ke saya supaya dicoba disusuin. Baby-chan masih belum bisa nyusu juga, terus ya sudah deh saya mesti istirahat, baby-chan dibawa ke ruang suster dulu.

Saya ngasih kabar suami plus foto abis melahirkan (difotoin bu bidan). Eh, dia kaget kok cepet. Alka udah bobo, tapi abis nangis tak henti-hentinya sampe tidurnya karena kecapekan nangis. Oalah, kasian banget.

*hoikuen: tempat penitipan anak

Belajar bikin roti

Akhir-akhir ini saya nyobain les bikin roti di ABC cooking studio. Kalau dibandingkan dengan belajar roti berbayar secara personal (kalau googling biasanya ketemu banyak, atau bisa juga dengan kenalan teman sendiri), kayaknya harganya 11-12. Berhubung pilihan belajar rotinya ada lumayan banyak variannya, jadi saya milih belajar di sini. Selain itu, kita bisa rikues mengurangi topping atau tambahan tertentu yang tidak sesuai selera / kepercayaan (misal: saya pernah rikues topping-nya ngga usah ditambahin bacon yah).

Sebelumnya, sebenarnya kadang-kadang saya juga eksperimen bikin roti-roti dari resep buku dan resep ketemu di internet / sosial media, tapi entah kenapa kurang sreg kalau belum les langsung secara serius dengan guru yang bisa ngasih tahu kurang-kurangnya kita apa, hehe.

Belajar bikin roti itu gampang-gampang susah. Gampangnya karena ngga usah ribet ayak-ayak tepung (selama ini sih begitu 😛 ). Susahnya adalah bagaimana membuat adonan menjadi kalis yang bagus. Memang sih banyak alat juga yang bisa dipake, seperti hand/table mixer yang ujungnya untuk bikin roti, dan home bakery, tapi kurang memuaskan kalau belum bisa ngulen roti pake tangan. Ngulen pake tangan itu membutuhkan tenaga yang lumayan, sehingga dengan kekuatan ibu hamil macem saya, ngga terlalu bisa ngulen banyak sekali. Di video-video dari sosial media kadang ada mas-mas bertangan super bisa ngulen adonan sekitar 1 kg tepung, wowow. Kalau saya mah, 200 gram-an sudah bagus.

Balik lagi ke les, hayuk yang mau trial nyobain les di sini, hehe. Murah lho, hanya 500 yen untuk yang belum pernah nyobain. Untuk yang trial, menu rotinya beda dengan yang course, tapi sepertinya tingkat kesulitannya yang tidak terlalu tinggi. Untuk yang course, bisa juga dicek di situsnya tadi.

Berikut hasil belajar di studionya. Sampai saat ini alhamdulillah berhasil juga mempraktekkan resepnya di rumah masing-masing sekali. Supaya bisa ahli, sepertinya memang jam terbang bikin roti juga harus tinggi. Siapa tahu suatu saat bisa jadi pedagang roti sukses yang bisa bantu banyak orang dengan rotinya (eh, jadi doa 🙂 ) aamiin.

Cuti Lagi

Alhamdulillah hari ini adalah hari terakhir kerja sebelum cuti lagi yang rencananya sekitar setahun (ngga tau de ada perubahan rencana bagaimana nanti 😛 ). Cuti setahun yang sebelumnya karena Alka lahir. Cuti setahun yang sekarang karena insyaAllah adeknya Alka akan lahir. Kalau dihitung-hitung, saya kerja 2 tahun terus cuti setahun. Abis itu kerja lagi 2 tahun, terus cuti lagi setahun.

Barusan udah pamit-pamit sama Pak Bos. Terus alhamdulillah dapat lungsuran baju bayi juga dari temen kantor. Tapi, dari saya sendiri ngga sempat menyiapkan apa-apa. Dulu waktu cuti untuk lahiran Alka, alhamdulillah bisa bikin bubur beras merah dan dibagi-bagi ke beberapa temen kantor. Untuk kali ini, nanti semoga abis lahiran sempat ngirim sesuatu ke kantor.

Cuti setahun yang sebelumnya, saya kirain saya bisa leha-leha enak deh setahun di rumah. Ternyata itu salah, saudara-saudari. Banyak drama terjadi waktu itu. Mulai dari bingung kalau anak nangis (apalagi di awal-awal setelah melahirkan), kena mastitis sampe demam, sampe operasi juga, hoho. Setelah itu, bingung di pertama kali anak kena demam. Hadeuh… mungkin lebih damai waktu kerja.

Tapi, alhamdulillah lebih banyak hikmah dan pelajaran yang bisa disyukuri. Dengan lahirnya Alka, jadi tahu banyak sekali ilmu tentang perbayian. Selain itu, jadi lebih bisa merasakan kalau ibu-ibu lain merasa ada kesulitan dalam mengasuh anak, lebih bisa membayangkan juga bagaimana ibu saya sendiri dulu juga berjuang waktu mengasuh saya dan adek-adek. Selain itu lagi, kerasanya si lebih kompak dikit lah sama suami, wkwk. Sama suami bisa ngecek-ngecek apa kita pengen mengasuh dan mendidik anak dengan visi misi sama gitu.. hehe.

InsyaAllah adeknya lahir kira-kira beberapa minggu lagi. Sampai sekarang, belum ketemu nama yang saya dan suami sama-sama setuju 😀 . Waktu Alka mau lahir, bapaknya cepet nyari namanya. Untuk yang sekarang entah kenapa lebih galau katanya.

Pulang kantor kali ini, saya bawa banyak barang. Ada buku-buku laporan koperasi dan kawan-kawannya yang kalau ditaruh di kantor bakal menuh-menuhin dan ganggu orang yang mungkin mau pindah duduk ke situ. Ada juga baju lungsuran, perlengkapan shalat di kantor, sisa tisu, dan sisa masker. Pulang naik taxi aja deh, mumpung rumah ngga gitu jauh-jauh amat dari kantor 🙂

Alka Haru Karimah

Alka sekarang sudah 2 tahun 4 bulan, pintar ngobrol, suka main lego, boneka, mobil-mobilan, segala macam pretend play, dan suka sekali dibacakan buku. Alka suka segala sayur yang warnanya merah, suka segala macam buah-buahan (kecuali kiwi, kapok karena pernah makan yang kecut). Alka masih tidak suka diajak ke toilet di rumah, ganti popok pun ogah-ogahan (fiuh).

Alka sudah di day-care dari usia 1 tahun. Alhamdulillah semakin jarang sakit, beda dengan tahun pertama di day-care. Bulan-bulan awal di day-care, hampir tiap pekan alka panas. Hampir selalu hidung meler. Batuk juga nggak jarang. Tambah lama, sepertinya dia tambah menter setelah tahun lalu pernah beberapa kali sakit agak parah yang mengharuskan diinfus, opname, dan sebagainya. Sejak itu, saya jadi lebih aware dengan nama-nama virus karena sensei di day-care juga demikian.

Suatu hari Alka sakit pneumonia karena terserang virus human meta-pneumonia di paru-parunya. Suatu hari yang lain, terkena adenovirus. Pernah juga terkena influenza tipe B yang juga menulari ibunya dan membuat tepar berjamaah. Allah masih banyak memberi kemudahan karena pas Alka dan ibunya sakit, bapaknya tidak ikutan sakit. Alka juga tidak terkena virus-virus lain yang kadang tertulis di papan pengumuman day-care sedang mewabah di sana (jangan sampai, aamiin).

Beberapa waktu lalu, Alka terkena mushiba (ada warna coklat di gigi depan, dan giginya agak terkikis). Sepertinya karena ibunya kurang usaha teratur membiasakan gosok gigi. Dulu kalau Alka tidak mau, ya sudah, menyerah tidak digosok. Dengan ini, ibunya jadi kapok. Alka direkomendasikan oleh dokter medical check-up di day-care untuk dibersihkan giginya ke dokter gigi. Di dokter gigi, awalnya dia latihan cuma disikat saja giginya. Di pertemuan ke-3, gigi bagian yang coklat dibor. Sekitar 5 kali berturut-turut setelah ke dokter gigi, giginya Alka dinyatakan aman. Yang bikin ibu heran, Alka mau nurut banget sama dokter gigi, nggak seperti di rumah kalau ibunya mau nyikatin gigi. Alka semangat ke dokter gigi karena kalau ke sana bisa main mainan anpanman dan kadang diberi hadiah oleh bu dokternya (stiker, balon dari sarung tangan karet digambarin). Sejak ini setiap hari Alka gosok gigi walaupun harus sambil dinyanyikan lagu kucu-kucu hamigaki yang sering ada di acara tv favoritnya.

Alka lebih banyak makannya sekarang. Walaupun masih sering pilih-pilih, tapi lebih mudah untuk mau apapun yang dimasak ibu dan bapak. Alka juga tambah senang jalan-jalan, main plorotan, ayunan, main di kolam renang, dan lain-lain. Berat badannya masih di batas normal walaupun agak dibawah rata-rata. Tapi, menurut ibu, itu sudah perkembangan yang bagus sekali mengingat susahnya berat badannya naik di tahun pertama masuk day-care karena sering sakit.

Alka sedang berusaha latihan supaya bisa pipis di toilet. Di rumah, dia masih susah dibujuk. Tapi, di day-care mungkin dia lebih manut sama sensei. Kemarin dia berhasil seharian terus berhasil pipis di toilet. Ibunya pun diberi ancang-ancang oleh sensei supaya menyiapkan celana dalam dan celana luar lebih banyak dalam waktu dekat karena Alka mau dilatih tanpa popok. Ooh, betapa kerennya tanpa popok, ya.

Alka diam-diam belajar sambil bermain, diam-diam mengerti kalau dia salah dan dimarahi. Alka mudah ingat kata-kata ibu, bapak, dan sensei. Alka punya potensi besar. Segala puji bagi Yang Menciptakannya, Yang Memilikinya, Yang Menguasaihatinya. Mohon berkah sepanjang usianya. Semoga Alka menjadi muslimah yang sholiha, kuat dan menguatkan umat, dan digolongkan menjadi hamba-Nya yang diberi nikmat juga keselamatan dunia dan akhirat. Aamiin.