Melahirkan (lagi)

Alhamdulillah, tanggal 27 Februari lalu, saya diberi kesempatan lagi melahirkan secara normal di rumah sakit yang sama dengan melahirkan yang pertama. Cerita kali ini agak beda dengan yang pertama. Selain berasanya agak pede (iya gitu..?) karena merasa sudah punya pengalaman, hal yang lebih dikhawatirkan juga beda.

  
Akibat waktu kehamilan yang pertama dulu saya kontraksi lama banget (lebih dari sehari), saya sudah nggak kuat ngeden pas sudah waktunya ngeden. Waktu itu, setelah bukaan 10cm, dokter memutuskan untuk menggunting sedikit jalan keluarnya supaya si anak bisa segera keluar. Kayaknya nih, penyebab kontraksi lama selain karena memang waktu itu melahirkan anak yang pertama, saya nggak melakukan ilmu pernapasan yang sudah dipelajari sebelumnya. Begitu kontraksi datang, udah lupa semua, yang di kepala hampir cuma sakit aja (istighfar, hiks). Oleh karena itu, kali ini saya nggak mau hal itu terjadi lagi, hohoho.

Kali ini saya mencoba lebih rileks, lebih percaya walaupun waktu kontraksi datang rasanya sakit, insyaAllah setelah itu akan ada periode waktu nggak sakitnya. Ilmu pernapasan lebih saya inget2, dan alhamdulillah ketika kontraksi datang, ilmunya bisa teraplikasikan 😀 . Kontraksi datang, tarik napas dalam-dalam, kemudian keluarkan pelan-pelan dalam paling tidak 3 ketukan (berasa ilmu tajwid, pake ketukan panjang). Napas dalam ini sangat berguna untuk memberi oksigen ke badan kita sehingga baby-chan di perut juga kebagian oksigen yang cukup (menurut bu bidan di tempat saya melahirkan). Waktu kontraksi hilang, rileks-kan badan sehingga tidak capek karena kesakitan kontraksi itu nggak hanya bikin sakit, tapi juga bikin capek, sodara-sodara. Dengan ini, alhamdulillah bukaan tempat bayi keluar membuka dengan progress yang tidak begitu lama.

Tanggal 27 itu, saya sudah merasa tidak bisa jalan cepat dari pagi waktu antar Alka ke hoikuen* sekitar jam 9. Jam 11 sampai dzuhur, saya tiduran aja di rumah karena kayaknya sudah mulai kontraksi walaupun belum teratur jaraknya. Setelah shalat dzuhur, tiduran lagi sampai jam 3, tapi nggak bisa tidur karena sudah lebih sering kontraksinya, tapi belum sakit yang sakit banget (yaa.. sakit juga sih, semacam kram haid rasanya). Berhubung sudah mulai teratur periode sakitnya, saya telepon suami biar pulang kerja. Setelah itu telepon ke rumah sakit, laporan kalau sudah teratur sakitnya, dan ternyata sama bu bidan sudah boleh menuju rumah sakit. Kemudian, saya telepon mama taxi yang sudah saya pre-order jaga-jaga langsung datang kalau saya mau sudah tanda-tanda mau lahiran. Sebenarnya jarak rumah ke rumah sakit cuma sekitar 10 menit jalan kaki, tapi karena kayaknya lebih aman naik mobil, akhirnya memutuskan untuk naik taxi aja.

Sekitar jam 5 sore kurang sedikit, saya sudah disuruh untuk masuk kamar bersalin. Setelah itu jam 5:30, suami harus pulang duluan jemput Alka dari hoikuen terus langsung pulang ke rumah. Melahirkan kali ini  nggak pake ditemenin suami karena mertua baru datang 4 hari kemudian. Jam 7:30 kata bu bidan, bukaan jalan lahir sudah terbuka 8cm. Kontraksinya tambah sakit kit kit sehingga mau menghebuskan napas panjang susah banget. Tapi, ketubannya belum pecah juga. Dokter datang kira-kira jam 9 malam, bukaan sudah 9.5cm-an, tapi ketuban nggak pecah juga. Akhirnya dokter memutuskan untuk mecahin ketuban dan “byuur”, ketubannya pecah deh. Setelah itu, kata bu bidan saya sudah boleh ngeden karena sudah bukaan 10cm. Tiap kontraksi datang, saya diinstruksi buat ngeden, nggak boleh keluar suara, nggak boleh merem, harus lihat ke arah tangan bu bidan. Ini rasanya sakiiit, dan susaah semacam akan BAB yang keras dan gede banget, tapi keluarnya dari depan. Berulang kali ngeden, tapi nggak bisa-bisa. Dalam hati udah mikir, kok nggak digunting kaya waktu sebelumnya yaa.. setelah digunting waktu itu jadi gampang, bisa keluar dalam sekali ngeden. Saya mikir sampai kapan ini harus ngeden terus, sampai kapan sakitnya bisa berakhir? heuuu.. Sambil berusaha inget bahwa ini juga jihad, saya coba mengeluarkan segenap tenaga (emot tangan berotot), akhirnya baby-chan keluar. Ya Allaaah.. terus saya tarik napas panjang, lega!! Jam 9:45 malam lahir dengan berat 3186 gram, panjang 51cm.

Setelah lega, saya keinget Alka. Alka apa mau makan sama bapaknya di rumah, apa mau dimandiin, apa bisa bobo tanpa nyari ibunya. Kemudian luka melahirkan dijahit sama dokter, saya dibersihin sama bu bidan, baby-chan juga sudah dibersihkan, terus diberikan ke saya supaya dicoba disusuin. Baby-chan masih belum bisa nyusu juga, terus ya sudah deh saya mesti istirahat, baby-chan dibawa ke ruang suster dulu.

Saya ngasih kabar suami plus foto abis melahirkan (difotoin bu bidan). Eh, dia kaget kok cepet. Alka udah bobo, tapi abis nangis tak henti-hentinya sampe tidurnya karena kecapekan nangis. Oalah, kasian banget.

*hoikuen: tempat penitipan anak

広告

Belajar bikin roti

Akhir-akhir ini saya nyobain les bikin roti di ABC cooking studio. Kalau dibandingkan dengan belajar roti berbayar secara personal (kalau googling biasanya ketemu banyak, atau bisa juga dengan kenalan teman sendiri), kayaknya harganya 11-12. Berhubung pilihan belajar rotinya ada lumayan banyak variannya, jadi saya milih belajar di sini. Selain itu, kita bisa rikues mengurangi topping atau tambahan tertentu yang tidak sesuai selera / kepercayaan (misal: saya pernah rikues topping-nya ngga usah ditambahin bacon yah).

Sebelumnya, sebenarnya kadang-kadang saya juga eksperimen bikin roti-roti dari resep buku dan resep ketemu di internet / sosial media, tapi entah kenapa kurang sreg kalau belum les langsung secara serius dengan guru yang bisa ngasih tahu kurang-kurangnya kita apa, hehe.

Belajar bikin roti itu gampang-gampang susah. Gampangnya karena ngga usah ribet ayak-ayak tepung (selama ini sih begitu 😛 ). Susahnya adalah bagaimana membuat adonan menjadi kalis yang bagus. Memang sih banyak alat juga yang bisa dipake, seperti hand/table mixer yang ujungnya untuk bikin roti, dan home bakery, tapi kurang memuaskan kalau belum bisa ngulen roti pake tangan. Ngulen pake tangan itu membutuhkan tenaga yang lumayan, sehingga dengan kekuatan ibu hamil macem saya, ngga terlalu bisa ngulen banyak sekali. Di video-video dari sosial media kadang ada mas-mas bertangan super bisa ngulen adonan sekitar 1 kg tepung, wowow. Kalau saya mah, 200 gram-an sudah bagus.

Balik lagi ke les, hayuk yang mau trial nyobain les di sini, hehe. Murah lho, hanya 500 yen untuk yang belum pernah nyobain. Untuk yang trial, menu rotinya beda dengan yang course, tapi sepertinya tingkat kesulitannya yang tidak terlalu tinggi. Untuk yang course, bisa juga dicek di situsnya tadi.

Berikut hasil belajar di studionya. Sampai saat ini alhamdulillah berhasil juga mempraktekkan resepnya di rumah masing-masing sekali. Supaya bisa ahli, sepertinya memang jam terbang bikin roti juga harus tinggi. Siapa tahu suatu saat bisa jadi pedagang roti sukses yang bisa bantu banyak orang dengan rotinya (eh, jadi doa 🙂 ) aamiin.


Cuti Lagi

Alhamdulillah hari ini adalah hari terakhir kerja sebelum cuti lagi yang rencananya sekitar setahun (ngga tau de ada perubahan rencana bagaimana nanti 😛 ). Cuti setahun yang sebelumnya karena Alka lahir. Cuti setahun yang sekarang karena insyaAllah adeknya Alka akan lahir. Kalau dihitung-hitung, saya kerja 2 tahun terus cuti setahun. Abis itu kerja lagi 2 tahun, terus cuti lagi setahun.

Barusan udah pamit-pamit sama Pak Bos. Terus alhamdulillah dapat lungsuran baju bayi juga dari temen kantor. Tapi, dari saya sendiri ngga sempat menyiapkan apa-apa. Dulu waktu cuti untuk lahiran Alka, alhamdulillah bisa bikin bubur beras merah dan dibagi-bagi ke beberapa temen kantor. Untuk kali ini, nanti semoga abis lahiran sempat ngirim sesuatu ke kantor.

Cuti setahun yang sebelumnya, saya kirain saya bisa leha-leha enak deh setahun di rumah. Ternyata itu salah, saudara-saudari. Banyak drama terjadi waktu itu. Mulai dari bingung kalau anak nangis (apalagi di awal-awal setelah melahirkan), kena mastitis sampe demam, sampe operasi juga, hoho. Setelah itu, bingung di pertama kali anak kena demam. Hadeuh… mungkin lebih damai waktu kerja.

Tapi, alhamdulillah lebih banyak hikmah dan pelajaran yang bisa disyukuri. Dengan lahirnya Alka, jadi tahu banyak sekali ilmu tentang perbayian. Selain itu, jadi lebih bisa merasakan kalau ibu-ibu lain merasa ada kesulitan dalam mengasuh anak, lebih bisa membayangkan juga bagaimana ibu saya sendiri dulu juga berjuang waktu mengasuh saya dan adek-adek. Selain itu lagi, kerasanya si lebih kompak dikit lah sama suami, wkwk. Sama suami bisa ngecek-ngecek apa kita pengen mengasuh dan mendidik anak dengan visi misi sama gitu.. hehe.

InsyaAllah adeknya lahir kira-kira beberapa minggu lagi. Sampai sekarang, belum ketemu nama yang saya dan suami sama-sama setuju 😀 . Waktu Alka mau lahir, bapaknya cepet nyari namanya. Untuk yang sekarang entah kenapa lebih galau katanya.

Pulang kantor kali ini, saya bawa banyak barang. Ada buku-buku laporan koperasi dan kawan-kawannya yang kalau ditaruh di kantor bakal menuh-menuhin dan ganggu orang yang mungkin mau pindah duduk ke situ. Ada juga baju lungsuran, perlengkapan shalat di kantor, sisa tisu, dan sisa masker. Pulang naik taxi aja deh, mumpung rumah ngga gitu jauh-jauh amat dari kantor 🙂


Alka Haru Karimah

Alka sekarang sudah 2 tahun 4 bulan, pintar ngobrol, suka main lego, boneka, mobil-mobilan, segala macam pretend play, dan suka sekali dibacakan buku. Alka suka segala sayur yang warnanya merah, suka segala macam buah-buahan (kecuali kiwi, kapok karena pernah makan yang kecut). Alka masih tidak suka diajak ke toilet di rumah, ganti popok pun ogah-ogahan (fiuh).

Alka sudah di day-care dari usia 1 tahun. Alhamdulillah semakin jarang sakit, beda dengan tahun pertama di day-care. Bulan-bulan awal di day-care, hampir tiap pekan alka panas. Hampir selalu hidung meler. Batuk juga nggak jarang. Tambah lama, sepertinya dia tambah menter setelah tahun lalu pernah beberapa kali sakit agak parah yang mengharuskan diinfus, opname, dan sebagainya. Sejak itu, saya jadi lebih aware dengan nama-nama virus karena sensei di day-care juga demikian.

Suatu hari Alka sakit pneumonia karena terserang virus human meta-pneumonia di paru-parunya. Suatu hari yang lain, terkena adenovirus. Pernah juga terkena influenza tipe B yang juga menulari ibunya dan membuat tepar berjamaah. Allah masih banyak memberi kemudahan karena pas Alka dan ibunya sakit, bapaknya tidak ikutan sakit. Alka juga tidak terkena virus-virus lain yang kadang tertulis di papan pengumuman day-care sedang mewabah di sana (jangan sampai, aamiin).

Beberapa waktu lalu, Alka terkena mushiba (ada warna coklat di gigi depan, dan giginya agak terkikis). Sepertinya karena ibunya kurang usaha teratur membiasakan gosok gigi. Dulu kalau Alka tidak mau, ya sudah, menyerah tidak digosok. Dengan ini, ibunya jadi kapok. Alka direkomendasikan oleh dokter medical check-up di day-care untuk dibersihkan giginya ke dokter gigi. Di dokter gigi, awalnya dia latihan cuma disikat saja giginya. Di pertemuan ke-3, gigi bagian yang coklat dibor. Sekitar 5 kali berturut-turut setelah ke dokter gigi, giginya Alka dinyatakan aman. Yang bikin ibu heran, Alka mau nurut banget sama dokter gigi, nggak seperti di rumah kalau ibunya mau nyikatin gigi. Alka semangat ke dokter gigi karena kalau ke sana bisa main mainan anpanman dan kadang diberi hadiah oleh bu dokternya (stiker, balon dari sarung tangan karet digambarin). Sejak ini setiap hari Alka gosok gigi walaupun harus sambil dinyanyikan lagu kucu-kucu hamigaki yang sering ada di acara tv favoritnya.

Alka lebih banyak makannya sekarang. Walaupun masih sering pilih-pilih, tapi lebih mudah untuk mau apapun yang dimasak ibu dan bapak. Alka juga tambah senang jalan-jalan, main plorotan, ayunan, main di kolam renang, dan lain-lain. Berat badannya masih di batas normal walaupun agak dibawah rata-rata. Tapi, menurut ibu, itu sudah perkembangan yang bagus sekali mengingat susahnya berat badannya naik di tahun pertama masuk day-care karena sering sakit.

Alka sedang berusaha latihan supaya bisa pipis di toilet. Di rumah, dia masih susah dibujuk. Tapi, di day-care mungkin dia lebih manut sama sensei. Kemarin dia berhasil seharian terus berhasil pipis di toilet. Ibunya pun diberi ancang-ancang oleh sensei supaya menyiapkan celana dalam dan celana luar lebih banyak dalam waktu dekat karena Alka mau dilatih tanpa popok. Ooh, betapa kerennya tanpa popok, ya.

Alka diam-diam belajar sambil bermain, diam-diam mengerti kalau dia salah dan dimarahi. Alka mudah ingat kata-kata ibu, bapak, dan sensei. Alka punya potensi besar. Segala puji bagi Yang Menciptakannya, Yang Memilikinya, Yang Menguasaihatinya. Mohon berkah sepanjang usianya. Semoga Alka menjadi muslimah yang sholiha, kuat dan menguatkan umat, dan digolongkan menjadi hamba-Nya yang diberi nikmat juga keselamatan dunia dan akhirat. Aamiin.


Mudik 2017

Mudik kali ini sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Kali ini jangka mudiknya lama (sebulan lebih) dan rasanya juga lebih manis asem pedes karena mudiknya bawa anak bayi yang makin imut dan makin seneng gigit tangan ibunya.

  

MPASI-nya Alka agak tidak lancar dari ketika masuk bulan ketiga MPASI. Sepertinya dia agak bosan ketemu sendok. Jadinya, dari saat itu banyakan saya suapin pake tangan dengan menu yang sudah nggak saya catet lagi karena sekepikiran dan seadanya yang dibeli waktu belanja. Waktu ketemu sama eyang-eyangnya, mulailah eyang-eyang membantu program penggemukan cucu pertama ini. Dibikinin apapun yang kayaknya dia suka biar ndut (huohoho). Yah, sekarang alhamdulillah bertambah lagi berat badannya.

Yang berasa susah adalah, ketika Alka sakit. Waktu diajak ke Surabaya, badannya panas. Obat panas yang nyetok dari dokter di Fukuoka, sampe kepake 3x. Obatnya ini yang dipakainya dengan dimasukkan ke dalam anus. Untungnya mbah uti Malang membantu waktu pakenya. Ditambah dengan ke dokter lagi karena panasnya abis turun, balik lagi naik, alhamdulillah jadi baikan dengan ditambah minum antibiotik. Sampe Malang lagi, eh beberapa hari kemudian kena batuk pilek se-ibunya juga. Sabar… sabar… ke dokter lagi deh.

Alka ngga ikutan BPJS. Biaya berobat berasanya jadi mahal. Biasanya di Fukuoka, biaya berobat anak sampai lulus SD ditanggung sama pemkot 100%. Dulu-dulu ngga pernah mikir kalo mau ke dokter, sekarang jadi kerasa kalo ada biayanya.

Hari ini ada anak saudara yang masih berusia 3 tahun meninggal karena demam berdarah. Sepertinya keluarganya juga ada masalah dengan biaya di rumah sakitnya. Saya jadi teringat kata-kata teman dari Taiwan yang dulu pernah semacam internship di Indonesia. Dia bilang, sakit di Indonesia mahal. Semoga anak saudara saya khusnul khotimah dan kami yang ditinggal diberi pertolongan dan kesabaran.

Saya masih sering mengeluh kalo pulang mudik, kenapa tranportasi tidak nyaman, polusi dimana-mana, pelayanan lambat, acara tv tidak menarik, dan lain-lain. Tapi, saya belum ada kontribusi apa-apa untuk ngasih solusi. Mesti semedi gimana ya, supaya saya nggak sok ngomel doang. Selama ini tinggal di Fukuoka, saya cuma nerima fasilitas enak sudah dari sononya. Tidak ada yang bisa dibanggakan.

Namun, tetaplah apa-apa yang ada di kampung halaman ini selalu di hati. Rasa kekeluargaan orang-orang di sini tidak ada duanya. Tidak semua adalah keluhan. Kelebihannya juga tidak terhitung. Semoga suatu saat dapat rejeki tinggal di sini lagi.


Belajar tentang MPASI (Part 2)

Perjalanan MPASI-nya Alka sudah jalan sekitar 4 minggu. Selama 4 minggu itu juga, kerjaan masak pagi jadi nambah, yaitu bikinin makanan khusus buat si bayi. Berikut laporannya.

Pada akhirnya saya pake buku ini untuk panduan karena ada banyak ide praktis dan mudah diterapkan di situ. Apa kabar BLW? Belum jalan, wkwk. Alasannya karena saya lebih merasa pewe dengan isi buku di gambar bawah ini, BLW agak bikin males bersih-bersih rumah, dan Alka bingung liat makanan yang disodorkan ke dia karena kebiasaan liat bapak ibunya makan pake sendok. Kapan-kapan deh, nyoba BLW soalnya bapaknya sepertinya lebih tertarik pake BLW aja.

s__13606915

Berhubung Alka masih tahap awal, buku yang dipake baru yang warna pink. Nanti kalo uda sekitar usia 7 bulan, pindah ganti yang ijo, hehe.Sekarang, mari kita cerita sedikit tentang isi buku yang pink, yah.

Pertama, di buku ini dibahas tahapan-tahapan kelembut~kasar-an makanan untuk bayi sesuai usianya. Kemudian dibahas, kalau sudah bagaimanakah MPASI bisa dimulai. Ini sudah saya ceritain di Belajar tentang MPASi di post sebelumnya. Kira-kira satu bulan pertama, persentase MPASI memenuhi 10% kebutuhan asupan bayi. Nanti kalau sudah bulan ke-2, naik jadi 20%. Tapi, ya tidak harus saklek gitu. Yang penting jangan terlalu banyak sampe si bayi yang makan MPASI pagi jadi ga sesemangat biasanya minum ASI / sufor siangnya.

Untuk bikin-bikin MPASI awal-awal ini, perlu perlengkapan masak. Biasanya kalo tengok-tengok Amazon, ada banyak yang jual uda satu set. Cuma, karena entah kenapa kok mahal (wkwk), saya kumpulin aja yang mirip-mirip dengan beli di 100 yen shop. Alhamdulillah sebagian besar ada di 100 yen shop. Di gambar di bawah ini, yang nggak 100 yen-an cuma mangkok putih (dapat hadiah lahiran) dan sendok ijo dua biji itu (merk combi, satu set isi dua, Sendoknya lentur tidak sakit di mulut bayi upsiklan). Yang lain yang nggak kefoto, sendok ukur, piller, gunting, dan panci. Ini ceritanya belum pake blender-blenderan karena bikinnya mendadak setiap pagi dan hanya untuk jumlah sedikit. Mungkin nanti selanjutnya harus level up pake blender, hoho.

s__13606917

Setelah itu, di buku dijelaskan bahan makanan apa yang aman dimakan pada usia ini. Sebenarnya kayaknya si bukan berarti tidak boleh makan yang lain (kalau melihat bacaan tentang MPASI di berbagai sumber atau pengalaman teman-teman yang lain), tapi mending cari aman ceritanya.

  • Sumber energi (karbohidrat): beras putih, kentang, ubi, pisang, jagung, roti tawar*, mi udon*, mi su’un*
  • Sumber vitamin dan mineral: wortel, macam-macam sayuran hijau (sawi, bayam, brokoli, green pepper, paprika, eda mame, dll), macam-macam sayuran putih (timun, lobak, kabu, terong, bawang bombai, selada air, seledri, sawi putih, dll), segala macam buah, nori*
  • Sumber protein: ikan madai (gatau deh, bahasa inggrisnya red sea bream), tofu, kinako (bubuk kedelai), ikan teri halus, susu kedelai*

Yang bertanda * maksudnya, lebih baik diberikan di akhir-akhir masa MPASI ini karena takutnya belum terbiasa, takut alergi atau semacamnya.

Lanjut lagi isi bukunya tentang cara-cara membuat aneka bubur encer mulai dari bubur dari beras, dari mi udon, bahkan dari roti tawar. Selain itu, ada juga cara membuat kaldu dari kombu (semacam rumput laut yang kaldunya enak) dan katsuo bushi (serbuk ikan bonito), cara membuat bubur dari berbagai macam sayuran, ikan, dan lain-lain. Terakhir bukunya ngasih resep-resep yang ternyata enak juga saya rasain :D, juga ngasih FAQ tentang suka-duka MPASI.

Sampe sini, Alka lumayan semangat makan. Mungkin karena sebelum mulai MPASI, bapak-ibunya kebanyakan ngiming-ngimingin dia kalo lagi makan. Begitu dia dikasih makan, awal-awal mencoba memberanikan diri jilat-jilat sendok. Akhir-akhir ini, begitu sendok didekatkan, Alka sudah ngerti dan mau mangap. Kata ibu-ibu posyandu di kantor kecamatan si, jangan ngasih makan dengan model “tuh ada pesawat” terus bayi mangap dan sendok masuk mulut, wkwk. Mendingan bayinya uda mempersiapkan hati kalau akan ada makanan masuk ke mulutnya, hehe.

Karena buku yang pink sampe saat ini sangat berguna, saya kemaren nyoba beli buku lanjutannya yang ijo. Waktu ngintip-ngintip bukunya si ada tentang info kalo anak mulai bandel makannya, jadi ada tips-tips mengatasinya (gatau de, manjur apa nggak 😛 ), juga gimana ngatur-ngatur menu karena mulai sini, nutrisi bayi mulai tidak bisa dipenuhi hanya dengan ASI/sufor.

Sampai jumpa di edisi selanjutnya.


Belajar tentang MPASI

Karena anak bayi sudah genap 5 bulan, saatnya si ibu belajar tentang makanannya. Tapi, sebenarnya Alka sudah dikasi MPASI (Minuman Pendamping ASI) dari lama karena ASI ibunya kurang 😛 ehehe. Anw, saya pengen nulis tentang kesan dan pesan dari baca-baca buku, situs, blog, dll tentang MPASI (Makanan Pendamping ASI) –> kepanjangan yang bener.

Secara umum yang saya ketahui, ada dua macam cara memberikan makanan ke anak bayi, yaitu: mengajari dia makan sendiri dan menyuapi. Mengajari makan sendiri itu terkenalnya caranya disebut Baby-Led Weaning (BLW). Sedangkan, cara menyuapi itu ada macam-macam yang sepertinya sih dibedakan berdasarkan tahap-tahapan memberi makannya. Oke, kita kupas satu-satu (wkwk, biar berasa keren blognya).

Baby-Led Weaning 

Penjelasan tentang BLW itu biasanya tidak terlalu panjang (atau mungkin saya aja yang kurang baca, hehe). Pada intinya adalah, bayi sudah punya naluri masukin macam-macam ke mulut. Jadi, kayaknya ini semacam memanfaatkan nalurinya ini dengan ngasih bayi makanan. Tinggal ditarok, biarkan dia main-main, ngemut, sampai akhirnya ngerti cara makan sendiri (sambil dicontohin pas makan bareng juga kali ya). Beberapa pertanyaan saya, kira-kira jawabannya begini:

  • Emang makanannya kemakan? Tidak perlu diragukan, yang masuk ke mulut sedikit sekali waktu awal-awal.
  • Nanti bayinya kekurangan nutrisi? Sampe kira-kira satu tahun, ASI / sufor adalah makanan utama bayi, gapapa.
  • Makanannya ga dibikin bubur, kalo ketelan? Reflek bayi buat ngeluarin benda asing dari mulut masih tinggi. Yang masuk perut ya yang bisa dia telan saja (dengan syarat ngasih makanannya juga dipilih dulu yang tidak mudah tertelan, misalnya anggur utuh). Nanti sesuai dengan perkembangan pencernaannya bayi, akan semakin bisa nelan tekstur kasar.
  • Kekurangannya BLW? rumah kayaknya jadi berantakan 😛 Bayi yang terlahir prematur / punya kelainan kesehatan, tidak dianjurkan pakai BLW
  • Tahap-tahapan ngasih makannya? Awal-awal yang mudah dipegang, lanjut ke yang potongannya agak kecil, lanjut yang bisa dipungut jari, lama-lama apa saja (kira-kira sudah bisa makan apa saja kalau belajar makan anaknya lancar, biasanya 9 bulan ke atas. 

Spoon Feeding (disuapin)

Kalau si bapaknya Alka, dia pengennya ngajarin anak makan sendiri aja biar nggak repot dan anaknya mandiri. Tapi, si ibu penasaran pengen bikin-bikin bubur, wkwk. 

Seperti yang disebut di atas, tahap-tahapan gimana nyuapin anak itu banyak pendapatnya. Tapi, kayaknya si semua pada setuju kalau tekstur makanannya lembut dan encer di awal, dan makin lama makin kasar sampai akhirnya sama dengan makanan orang dewasa. Kata buku yang saya beli kira-kira teksturnya semacam di gambar di bawah. Banyak pendapat merekomendasikan untuk ngasih satu macam makanan yang sama setiap sekitar 3 hari di awal2 MPASI supaya ketahuan si anak punya alergi terhadap bahan makanan apa. 

Nah, kalau di buku di atas, ngasih MPASI bisa dimulai dari sekitar 5 bulan kalau anak sudah tegak lehernya, sudah bisa duduk sendiri (walaupun dengan support), sudah mulai tertarik ke makanan (misalnya dia menggapai-gapai makanan ibunya, ngiler liat orang makan, dll), sudah tidak terlalu mendorong sendok keluar mulut, ritme sehari-hari sudah mulai teratur (pola tidur malam, tidur siang, nenen, dll). Selain itu, direkomendasikan memulai MPASI ketika mood anaknya bagus, dan di pagi hari (supaya kalau ada alergi dan perlu ke dokter, dokternya masih buka). Aturan memulai makan yang disebutkan di sini, sehabis makan MPASI, anak boleh mimik ASI / sufor sampai dia puas. Jadi, memang ASI / sufor masih adalah makanan utama bayi di tahap awal. Tujuan awal ngasih MPASI adalah memperkenalkan suatu hal bernama “makan”, yang mana “makan” itu adalah hal yang menyenangkan, lho.. begitu. 

Yang berbeda-beda dari cara nyuapin yang lain itu biasanya tentang kapan mulainya. Katanya, WHO merekomendasikan ketika anak sudah mulai 6 bulan. Selain itu, yang berbeda-beda lagi adalah banyak porsinya. Ada pendapat yang mengatakan satu kali sehari saja di awal, lanjut ke dua kali makan setelah sebulan pertama, lanjut lagi tiga kali kalau sepertinya sudah siap. Pendapat lain bilang, langsung tiga kali makan tidak apa-apa. 

Percobaan MPASI

Kemarin, Alka ngeliatin aja sambil agak ngiler banyak  ketika bapaka atau ibunya sedang makan. Eh, kebetulan sorenya si ibu makan pisang. Langsung aja de, Alka dipangku dan dicobain disodorin pisang. Alka ternyata mau ngenyut-ngenyut ujung pisangnya. Kayaknya karena pisang itu manis, dia jadi suka deh (biasanya bayi suka manis). 

Hari ini, paginya saya penasaran nyobain cara bikin bubur yang pake rice cooker aja bareng masak nasi biasa. Caranya ini, berasnya dimasukin ke gelas kecil dengan air banyak trus dimasukin di tengah rice cooker bareng masak nasi seperti biasa. Setelah mateng, nasinya diulek, disaring, dan diencerkan. Lebih jelasnya bisa dilihat di video ini: http://youtu.be/86pJLMDII3I . Hasilnya bisa dilihat seperti gambar di bawah. Waktu disuapin, Alka nyengir-nyengir merasa aneh mungkin karena pengalaman baru sama rasanya. Alka makan 2 kali setengah sendok yang di gambar.

 

Kedepannya, saya masih mikir-mikir mau gimana ngasih MPASI-nya. Kemungkinan saya ngikutin si Alka nya lebih terlihat pewe yang mana. Untuk sementara sekali sehari saja dikit-dikit dimulai dari bubur karbohidrat (sumber energi: beras, kentang, ubi, pisang), lanjut nambah sayur dan buah (sumber vitamin dan mineral: bayem, sawi, wortel, apel, dll), lanjut nambah yang berprotein (tahu, ikan, kinako / bubuk kedelai, dll). Diselingi juga BLW kalo dia mau 😛 . Kalau sudah terbiasa, kita tambah jadi dua kali makan yaah 😛 supaya si ibu mahir dulu latihan nyiapin maemnya.

Semoga ada yang udah berpengalaman ngasih MPASI buat anaknya komen di sini, hehehe.