Melahirkan (lagi)

Alhamdulillah, tanggal 27 Februari lalu, saya diberi kesempatan lagi melahirkan secara normal di rumah sakit yang sama dengan melahirkan yang pertama. Cerita kali ini agak beda dengan yang pertama. Selain berasanya agak pede (iya gitu..?) karena merasa sudah punya pengalaman, hal yang lebih dikhawatirkan juga beda.

  
Akibat waktu kehamilan yang pertama dulu saya kontraksi lama banget (lebih dari sehari), saya sudah nggak kuat ngeden pas sudah waktunya ngeden. Waktu itu, setelah bukaan 10cm, dokter memutuskan untuk menggunting sedikit jalan keluarnya supaya si anak bisa segera keluar. Kayaknya nih, penyebab kontraksi lama selain karena memang waktu itu melahirkan anak yang pertama, saya nggak melakukan ilmu pernapasan yang sudah dipelajari sebelumnya. Begitu kontraksi datang, udah lupa semua, yang di kepala hampir cuma sakit aja (istighfar, hiks). Oleh karena itu, kali ini saya nggak mau hal itu terjadi lagi, hohoho.

Kali ini saya mencoba lebih rileks, lebih percaya walaupun waktu kontraksi datang rasanya sakit, insyaAllah setelah itu akan ada periode waktu nggak sakitnya. Ilmu pernapasan lebih saya inget2, dan alhamdulillah ketika kontraksi datang, ilmunya bisa teraplikasikan 😀 . Kontraksi datang, tarik napas dalam-dalam, kemudian keluarkan pelan-pelan dalam paling tidak 3 ketukan (berasa ilmu tajwid, pake ketukan panjang). Napas dalam ini sangat berguna untuk memberi oksigen ke badan kita sehingga baby-chan di perut juga kebagian oksigen yang cukup (menurut bu bidan di tempat saya melahirkan). Waktu kontraksi hilang, rileks-kan badan sehingga tidak capek karena kesakitan kontraksi itu nggak hanya bikin sakit, tapi juga bikin capek, sodara-sodara. Dengan ini, alhamdulillah bukaan tempat bayi keluar membuka dengan progress yang tidak begitu lama.

Tanggal 27 itu, saya sudah merasa tidak bisa jalan cepat dari pagi waktu antar Alka ke hoikuen* sekitar jam 9. Jam 11 sampai dzuhur, saya tiduran aja di rumah karena kayaknya sudah mulai kontraksi walaupun belum teratur jaraknya. Setelah shalat dzuhur, tiduran lagi sampai jam 3, tapi nggak bisa tidur karena sudah lebih sering kontraksinya, tapi belum sakit yang sakit banget (yaa.. sakit juga sih, semacam kram haid rasanya). Berhubung sudah mulai teratur periode sakitnya, saya telepon suami biar pulang kerja. Setelah itu telepon ke rumah sakit, laporan kalau sudah teratur sakitnya, dan ternyata sama bu bidan sudah boleh menuju rumah sakit. Kemudian, saya telepon mama taxi yang sudah saya pre-order jaga-jaga langsung datang kalau saya mau sudah tanda-tanda mau lahiran. Sebenarnya jarak rumah ke rumah sakit cuma sekitar 10 menit jalan kaki, tapi karena kayaknya lebih aman naik mobil, akhirnya memutuskan untuk naik taxi aja.

Sekitar jam 5 sore kurang sedikit, saya sudah disuruh untuk masuk kamar bersalin. Setelah itu jam 5:30, suami harus pulang duluan jemput Alka dari hoikuen terus langsung pulang ke rumah. Melahirkan kali ini  nggak pake ditemenin suami karena mertua baru datang 4 hari kemudian. Jam 7:30 kata bu bidan, bukaan jalan lahir sudah terbuka 8cm. Kontraksinya tambah sakit kit kit sehingga mau menghebuskan napas panjang susah banget. Tapi, ketubannya belum pecah juga. Dokter datang kira-kira jam 9 malam, bukaan sudah 9.5cm-an, tapi ketuban nggak pecah juga. Akhirnya dokter memutuskan untuk mecahin ketuban dan “byuur”, ketubannya pecah deh. Setelah itu, kata bu bidan saya sudah boleh ngeden karena sudah bukaan 10cm. Tiap kontraksi datang, saya diinstruksi buat ngeden, nggak boleh keluar suara, nggak boleh merem, harus lihat ke arah tangan bu bidan. Ini rasanya sakiiit, dan susaah semacam akan BAB yang keras dan gede banget, tapi keluarnya dari depan. Berulang kali ngeden, tapi nggak bisa-bisa. Dalam hati udah mikir, kok nggak digunting kaya waktu sebelumnya yaa.. setelah digunting waktu itu jadi gampang, bisa keluar dalam sekali ngeden. Saya mikir sampai kapan ini harus ngeden terus, sampai kapan sakitnya bisa berakhir? heuuu.. Sambil berusaha inget bahwa ini juga jihad, saya coba mengeluarkan segenap tenaga (emot tangan berotot), akhirnya baby-chan keluar. Ya Allaaah.. terus saya tarik napas panjang, lega!! Jam 9:45 malam lahir dengan berat 3186 gram, panjang 51cm.

Setelah lega, saya keinget Alka. Alka apa mau makan sama bapaknya di rumah, apa mau dimandiin, apa bisa bobo tanpa nyari ibunya. Kemudian luka melahirkan dijahit sama dokter, saya dibersihin sama bu bidan, baby-chan juga sudah dibersihkan, terus diberikan ke saya supaya dicoba disusuin. Baby-chan masih belum bisa nyusu juga, terus ya sudah deh saya mesti istirahat, baby-chan dibawa ke ruang suster dulu.

Saya ngasih kabar suami plus foto abis melahirkan (difotoin bu bidan). Eh, dia kaget kok cepet. Alka udah bobo, tapi abis nangis tak henti-hentinya sampe tidurnya karena kecapekan nangis. Oalah, kasian banget.

*hoikuen: tempat penitipan anak

広告

Cuti Lagi

Alhamdulillah hari ini adalah hari terakhir kerja sebelum cuti lagi yang rencananya sekitar setahun (ngga tau de ada perubahan rencana bagaimana nanti 😛 ). Cuti setahun yang sebelumnya karena Alka lahir. Cuti setahun yang sekarang karena insyaAllah adeknya Alka akan lahir. Kalau dihitung-hitung, saya kerja 2 tahun terus cuti setahun. Abis itu kerja lagi 2 tahun, terus cuti lagi setahun.

Barusan udah pamit-pamit sama Pak Bos. Terus alhamdulillah dapat lungsuran baju bayi juga dari temen kantor. Tapi, dari saya sendiri ngga sempat menyiapkan apa-apa. Dulu waktu cuti untuk lahiran Alka, alhamdulillah bisa bikin bubur beras merah dan dibagi-bagi ke beberapa temen kantor. Untuk kali ini, nanti semoga abis lahiran sempat ngirim sesuatu ke kantor.

Cuti setahun yang sebelumnya, saya kirain saya bisa leha-leha enak deh setahun di rumah. Ternyata itu salah, saudara-saudari. Banyak drama terjadi waktu itu. Mulai dari bingung kalau anak nangis (apalagi di awal-awal setelah melahirkan), kena mastitis sampe demam, sampe operasi juga, hoho. Setelah itu, bingung di pertama kali anak kena demam. Hadeuh… mungkin lebih damai waktu kerja.

Tapi, alhamdulillah lebih banyak hikmah dan pelajaran yang bisa disyukuri. Dengan lahirnya Alka, jadi tahu banyak sekali ilmu tentang perbayian. Selain itu, jadi lebih bisa merasakan kalau ibu-ibu lain merasa ada kesulitan dalam mengasuh anak, lebih bisa membayangkan juga bagaimana ibu saya sendiri dulu juga berjuang waktu mengasuh saya dan adek-adek. Selain itu lagi, kerasanya si lebih kompak dikit lah sama suami, wkwk. Sama suami bisa ngecek-ngecek apa kita pengen mengasuh dan mendidik anak dengan visi misi sama gitu.. hehe.

InsyaAllah adeknya lahir kira-kira beberapa minggu lagi. Sampai sekarang, belum ketemu nama yang saya dan suami sama-sama setuju 😀 . Waktu Alka mau lahir, bapaknya cepet nyari namanya. Untuk yang sekarang entah kenapa lebih galau katanya.

Pulang kantor kali ini, saya bawa banyak barang. Ada buku-buku laporan koperasi dan kawan-kawannya yang kalau ditaruh di kantor bakal menuh-menuhin dan ganggu orang yang mungkin mau pindah duduk ke situ. Ada juga baju lungsuran, perlengkapan shalat di kantor, sisa tisu, dan sisa masker. Pulang naik taxi aja deh, mumpung rumah ngga gitu jauh-jauh amat dari kantor 🙂


Belajar tentang MPASI

Karena anak bayi sudah genap 5 bulan, saatnya si ibu belajar tentang makanannya. Tapi, sebenarnya Alka sudah dikasi MPASI (Minuman Pendamping ASI) dari lama karena ASI ibunya kurang 😛 ehehe. Anw, saya pengen nulis tentang kesan dan pesan dari baca-baca buku, situs, blog, dll tentang MPASI (Makanan Pendamping ASI) –> kepanjangan yang bener.

Secara umum yang saya ketahui, ada dua macam cara memberikan makanan ke anak bayi, yaitu: mengajari dia makan sendiri dan menyuapi. Mengajari makan sendiri itu terkenalnya caranya disebut Baby-Led Weaning (BLW). Sedangkan, cara menyuapi itu ada macam-macam yang sepertinya sih dibedakan berdasarkan tahap-tahapan memberi makannya. Oke, kita kupas satu-satu (wkwk, biar berasa keren blognya).

Baby-Led Weaning 

Penjelasan tentang BLW itu biasanya tidak terlalu panjang (atau mungkin saya aja yang kurang baca, hehe). Pada intinya adalah, bayi sudah punya naluri masukin macam-macam ke mulut. Jadi, kayaknya ini semacam memanfaatkan nalurinya ini dengan ngasih bayi makanan. Tinggal ditarok, biarkan dia main-main, ngemut, sampai akhirnya ngerti cara makan sendiri (sambil dicontohin pas makan bareng juga kali ya). Beberapa pertanyaan saya, kira-kira jawabannya begini:

  • Emang makanannya kemakan? Tidak perlu diragukan, yang masuk ke mulut sedikit sekali waktu awal-awal.
  • Nanti bayinya kekurangan nutrisi? Sampe kira-kira satu tahun, ASI / sufor adalah makanan utama bayi, gapapa.
  • Makanannya ga dibikin bubur, kalo ketelan? Reflek bayi buat ngeluarin benda asing dari mulut masih tinggi. Yang masuk perut ya yang bisa dia telan saja (dengan syarat ngasih makanannya juga dipilih dulu yang tidak mudah tertelan, misalnya anggur utuh). Nanti sesuai dengan perkembangan pencernaannya bayi, akan semakin bisa nelan tekstur kasar.
  • Kekurangannya BLW? rumah kayaknya jadi berantakan 😛 Bayi yang terlahir prematur / punya kelainan kesehatan, tidak dianjurkan pakai BLW
  • Tahap-tahapan ngasih makannya? Awal-awal yang mudah dipegang, lanjut ke yang potongannya agak kecil, lanjut yang bisa dipungut jari, lama-lama apa saja (kira-kira sudah bisa makan apa saja kalau belajar makan anaknya lancar, biasanya 9 bulan ke atas. 

Spoon Feeding (disuapin)

Kalau si bapaknya Alka, dia pengennya ngajarin anak makan sendiri aja biar nggak repot dan anaknya mandiri. Tapi, si ibu penasaran pengen bikin-bikin bubur, wkwk. 

Seperti yang disebut di atas, tahap-tahapan gimana nyuapin anak itu banyak pendapatnya. Tapi, kayaknya si semua pada setuju kalau tekstur makanannya lembut dan encer di awal, dan makin lama makin kasar sampai akhirnya sama dengan makanan orang dewasa. Kata buku yang saya beli kira-kira teksturnya semacam di gambar di bawah. Banyak pendapat merekomendasikan untuk ngasih satu macam makanan yang sama setiap sekitar 3 hari di awal2 MPASI supaya ketahuan si anak punya alergi terhadap bahan makanan apa. 

Nah, kalau di buku di atas, ngasih MPASI bisa dimulai dari sekitar 5 bulan kalau anak sudah tegak lehernya, sudah bisa duduk sendiri (walaupun dengan support), sudah mulai tertarik ke makanan (misalnya dia menggapai-gapai makanan ibunya, ngiler liat orang makan, dll), sudah tidak terlalu mendorong sendok keluar mulut, ritme sehari-hari sudah mulai teratur (pola tidur malam, tidur siang, nenen, dll). Selain itu, direkomendasikan memulai MPASI ketika mood anaknya bagus, dan di pagi hari (supaya kalau ada alergi dan perlu ke dokter, dokternya masih buka). Aturan memulai makan yang disebutkan di sini, sehabis makan MPASI, anak boleh mimik ASI / sufor sampai dia puas. Jadi, memang ASI / sufor masih adalah makanan utama bayi di tahap awal. Tujuan awal ngasih MPASI adalah memperkenalkan suatu hal bernama “makan”, yang mana “makan” itu adalah hal yang menyenangkan, lho.. begitu. 

Yang berbeda-beda dari cara nyuapin yang lain itu biasanya tentang kapan mulainya. Katanya, WHO merekomendasikan ketika anak sudah mulai 6 bulan. Selain itu, yang berbeda-beda lagi adalah banyak porsinya. Ada pendapat yang mengatakan satu kali sehari saja di awal, lanjut ke dua kali makan setelah sebulan pertama, lanjut lagi tiga kali kalau sepertinya sudah siap. Pendapat lain bilang, langsung tiga kali makan tidak apa-apa. 

Percobaan MPASI

Kemarin, Alka ngeliatin aja sambil agak ngiler banyak  ketika bapaka atau ibunya sedang makan. Eh, kebetulan sorenya si ibu makan pisang. Langsung aja de, Alka dipangku dan dicobain disodorin pisang. Alka ternyata mau ngenyut-ngenyut ujung pisangnya. Kayaknya karena pisang itu manis, dia jadi suka deh (biasanya bayi suka manis). 

Hari ini, paginya saya penasaran nyobain cara bikin bubur yang pake rice cooker aja bareng masak nasi biasa. Caranya ini, berasnya dimasukin ke gelas kecil dengan air banyak trus dimasukin di tengah rice cooker bareng masak nasi seperti biasa. Setelah mateng, nasinya diulek, disaring, dan diencerkan. Lebih jelasnya bisa dilihat di video ini: http://youtu.be/86pJLMDII3I . Hasilnya bisa dilihat seperti gambar di bawah. Waktu disuapin, Alka nyengir-nyengir merasa aneh mungkin karena pengalaman baru sama rasanya. Alka makan 2 kali setengah sendok yang di gambar.

 

Kedepannya, saya masih mikir-mikir mau gimana ngasih MPASI-nya. Kemungkinan saya ngikutin si Alka nya lebih terlihat pewe yang mana. Untuk sementara sekali sehari saja dikit-dikit dimulai dari bubur karbohidrat (sumber energi: beras, kentang, ubi, pisang), lanjut nambah sayur dan buah (sumber vitamin dan mineral: bayem, sawi, wortel, apel, dll), lanjut nambah yang berprotein (tahu, ikan, kinako / bubuk kedelai, dll). Diselingi juga BLW kalo dia mau 😛 . Kalau sudah terbiasa, kita tambah jadi dua kali makan yaah 😛 supaya si ibu mahir dulu latihan nyiapin maemnya.

Semoga ada yang udah berpengalaman ngasih MPASI buat anaknya komen di sini, hehehe.


Belajar tentang ASI (part 2)

 

Belajar kali ini, saya pengen cerita pengalaman akhir Juli lalu waktu saya kena radang kelenjar dada atau yang terkenal disebut mastitis. Untuk lebih jelas apa itu mastitis, silakan klik hyperlink-nya, yaa.

Biasanya, ibu-ibu yang menyusui tidak asing dengan keadaan di mana payudara tiba-tiba mengeras yang mengerasnya itu bukan karena air susu penuh, tapi mengeras berasa seperti ada batu di payudara. Bagian keras-kerasnya ini kalau ditekan sakit. Terus, kebanyakan kalau disusukan, putingnya juga ikutan sakit, hadeeh. Udah gitu, ketika mengerasnya ini tidak juga sembuh, kadang rasa susu bisa berubah yang bikin si bayi nggak mau minum. Diperaspun, air susunya keluar sedikit-sedikit. Kalau sudah begini, ibu menderita lahir dan batin.. badan sakit, anak pun nggak suka minumnya 😦 .

Dari yang saya tangkep dari baca-baca artikel dan penjelasan bu suster di rumah sakit dulu, mastitis ini semacam kalau saluran air susu tersumbat sehingga air susu susah dikeluarkan. Nggak jarang, di puting biasanya terjadi putih-putih yang kalau dihisap sama bayi, putingnya jadi sakit. Putih-putih ini ternyata semacam kaya jerawat yang di dalamnya ada lemak yang tidak bisa keluar. Alhasil, lubang pori-pori susu di bawah jerawat tadi tidak bisa mengeluarkan susu. Dan karena itu semacam jerawat, kalau disentuh, apalagi dihisap sama bayi, akan terasa sakit.

Pengalaman saya yang waktu itu diperparah karena puting sedang luka. Kata dokter waktu saya periksain, dari luka itu masuklah si kuman. Kuman ini mengakibatkan infeksi di dalam payudara daaan jadilah waktu itu saya demam. Sepertinya si (dengar-dengar dari teman), kalau sudah lebih dari satu hari demam, keras-kerasnya nggak juga sembuh, harusnya segera dibawa ke dokter atau midwife untuk ditangani. Tapi, waktu itu saya nggak berani segera ke sana karena takut nggak ada yang jagain si bayi waktu di rumah sakit sementara suami lagi nggak bisa nemenin karena harus ngantor.

Wah, jangan ditiru deh, waktu itu saya baru ke dokter setelah seminggu kemudian. Selama seminggu itu, saya demam beberapa kali (paling parah sampai 40 derajat), badan berasa sakit semua, gerak agak banyak sakit, shalat dipake nunduk sakit, mau tidur sakit, nyusuin sakit, bayi semakin rewel, huaa, lengkap sudah penderitaan. Saya langsung ke dokter yang menangani kelenjar payudara. Begitu datang bu suster di sana bilang, biasanya mah kalau mastitis pertama-tama ke midwife dulu. Midwife (助産師 kalau di bahasa Jepang) biasanya ngerti teknik memijatnya. Nah, kalau sudah parah barulah ke dokter. Tapi, berhubung saya sudah terlanjur datang ke sana, ya udah deh diperiksa aja.. gitu. Eh ternyata, saya sudah parah dengan dilihat dari hasil USG, ada cairan di dalamnya. Dokternya mah cuma bilang itu cairan penyakit yang harus dikeluarkan, tapi mungkin itulah yang namanya abses (semacam nanah?), huohoho.

Saya nggak mengira kalau datang-datang saya disuruh ke ruang periksa USG, eh, balik-balik ke tempatnya bu dokter, dia sudah melihat hasil fotonya dan bilang, saya langsung operasi, ya.. tenang saja, cuma operasi kecil (belakangan, teman yang dokter bilang, kaya begini namanya di-insisi). Karena yang kena mastitis yang sebelah kiri, di sisi kiri dokter memberi bius lokal, kemudian semacam menyayat 1.5cm-an. Setelah itu, dokter menekan dari berbagai arah supaya cairannya keluar dari situ. Ternyata cairannya belum bisa keluar semua karena saya udah kesakitan sekali dan bius cuma dipake dibagian permukaan saja. Jadinya saya mesti balik ke dokter 4 kali dalam 2 minggu untuk ditekan-tekan dan dikeluarkan lagi (juga dicek perkembangannya). Di rumah pun, tidak lupa harus diperas-peras karena air susu masih tetap produksi, tapi belum boleh disusukan ke bayi. Setelah diperas, harus ganti perban. Ternyata lagi, dokter bilang, lukanya tidak perlu dijahit karena nanti bisa nutup sendiri. Jadinya kadang air susu mrembes dari lubang sayatan dokternya. Hehehe, tidak bisa membayangkan, kan? Ternyata tidak seseram itu, kok. Tidak terlalu ada darah yang keluar dari lubang sayatannya. Dan, percaya aja sama dokternya, akhirnya keras-keras di susu benar-benar hilang, lubang menutup dengan oke. Kesimpulannya adalah, nggak lagi deh mau merasakan kaya gitu lagi.

Setelah kejadian itu, saya jadi lebih perhatian buat nge-massage gentong ASI ini tiap mandi, lebih rajin memeras kalau merasa air susu masih banyak, tapi si bayi sedang nggak mau mimik, dan lebih menjaga makan (tiap ibu kayaknya beda-beda, kalau saya kebanyakan yang berlemak dan berdaging-daging, rasanya lebih gampang kena), dan sebagainya.

Jadi, ibu-ibu.. terutama new mom, jangan sungkan untuk bertanya ke orang yang berilmu kalau ada yang bimbang. Periksa ke midwife atau ke dokter pun, bisa jadi ada solusi kalau mau bawa bayi ke rumah sakit (suster mau gendongin misalnya, hehehe). Terus juga, carilah ibu-ibu lain yang bisa dijadikan tempat curhat, yaa…

Segitu dulu ceritanya… semoga sehat-sehat ibunya. Insya Allah kalau ibu sehat dan bahagia, keluarga juga bahagia dan aman, wkwkwk.


Membanding-bandingkan Anak

Biasanya, ibu-ibu sifatnya suka khawatiran apakah si anak bayi merasa sakit, apa berat badannya kurang, apa tidurnya cukup, dll. Nah, kalau bapak biasanya lebih nyantai. Bapak bilang, “nggak papa, tuh dia nggak nangis dan happy2 aja keliatannya.” Paling tidak, kalau di rumah saya biasanya begitu.

Saya kadang ngintip akun instagram teman, baca lagi artikek yang sama tentang porsi minum susu, progres pertambahan badan, dll. Nah, ditambah sifat kadang terlalu khawatir, jadinya saya terlalu mikir kenapa beratnya kurang, hehe.. (tidak baiknya ketika kebanyakan mikir, kurang dzikir). Walaupun sudah sering cerita ke bapaknya si bayi, si bapak masih juga lebih sering nyantai.

Sampailah pada hari kemarin, si bapak saya ajakin ngantar si bayi imunisasi. Sambil saya ngeliatin ibu-ibu lain dan anaknya, saya sambil nginget2 imunisasi bulan lalu. Ternyata beberapa ibu kebarengan lagi, jadinya saya bisa ngira-ngira usia anaknya. Saya bilang deh ke si bapak, tuh anak yang itu lahirnya tiga hari setelah anakmu, anak yang sana lebih tua satu bulan, yang sana lagi sama udah tiga bulan, dst. Dan si bapak terheran-heran.. eh, kok mereka lebih ndut yah.. (anaknya maksudnya, bukan ibunya, apalagi bapaknya, wkwk). Tuh kan, anakmu termasuk yang agak kurus, Bapak.. baru percaya dia. Sampe rumah, si bapak bilang, mimik susunya lebih banyakin yaa. hehehe.

Nah, jadi memang membandingkan anak kita dengan anak orang ada untungnya.. yaitu jadi punya parameter yang diobservasi langsung. Yang penting membandingkannya jangan berlebihan, nanti jadi sutress. Kata banyak bacaan2, ingat bayi Anda juga adalah suatu individu, yang punya rasa, punya hati (kaya lagunya siapa itu). 

Ya nggak, nak?

 


Human Learning (part 2)

Untuk human learning part 1, silakan menengok post yang sebelumnya, hehe.

Human learning yang sekarang obyeknya berbeda dan tingkat kesulitannya juga berbeda. Kalau dulu, jawaban benar dari training data bisa dikonfirmasi kepada obyek kebenarannya. Tapi, obyek yang sekarang belum mampu mengkonfirmasi jawaban yang diberikan. Training data awalnya juga tidak ada. Hasilnya, yang learning harus nebak-nebak dengan sabar yang sesabar-sabarnya.

Ngomong apa sih? 😀

Obyek learning yang sekarang adalah si adek yang alhamdulillah sudah berusia tepat satu bulan hari ini. Dari pengamatan selama satu bulan, yang saya pahami adalah saya belum ngerti banyak sekali ilmu perbayian. Di lain pihak, si adek lebih banyak belajar mengenal lingkungannya. Saya masih belajar menangani dan tidak gupuh ketik dia nangis karena nangis adalah bahasa bayi untuk bilang banyak hal (laper, minta ganti popok, minta digendong, kesepian, sakit sesuatu, dll). Si adek belajar cara ngepasin mulut ke mimik, belajar melihat hal baru dalam hidupnya bersamaan dengan matanya yang semakin jelas penglihatannya, belajar mengenal sura ibu bapaknya, belajar mengenal siang dan malam, belajar ngoceh, dll banyak sekali. Bahkan dia menolong ibu dengan mimik ASI sehingga radang kelenjar dada atau mastitis (payudara yang mengeras karena nggak dimimik2) jadi sembuh.

  

Baiklah lanjut learning lagi setelah kemaren bapak dan ibu lumayan sukses membotaki si adek. Insya Allah nanti rambutnya ditimbang buat disedekahkan senilai gram perak rambutnya pas aqiqah.


Melahirkan

Tidak menyangka lagi (sebenarnya menyangka, tapi takjub sekali sama kejadiannya), sesuatu yang di perut dari tahun kemarin dan tambah lama tambah besar bisa keluar terus jadi manusia yang bisa nangis, bisa mimik susu, bisa pipis, dkk. Alhamdulillah tanggal 25 April 2016, Senin, jam 9:43 malam JST, si dia lahir normal dan sehat.

Perjuangan ibu-ibu melahirkan itu biasanya beda-beda nggak ada yang sama. Biasanya seru dan mengharukan sekali kalo ibu-ibu sedang cerita bagaimana hebohnya dia ketika mau melahirkan. Kalo versi saya, saya mulai mules dari hari Minggu dini hari jam 2-an. Mulesnya (disebutnya si biasanya kontraksi) kadang datang cepet kadang belasan menit baru datang lagi. Intinya adalah saya nggak bisa tidur enak. Setelah itu, jam 7 pagi orang rumah heboh nyuruh nelpon ke rumah sakit karena saya mungkin agak heboh kesakitan. Tapi, kata bu suster di sana masih nggak boleh berangkat. Nah, setelah ini ceritanya saya seharian mules reda mules reda, shalat nggak kuat berdiri, makan nggak enak, dkk.

Jam setengah 7 sore akhirnya memutuskan untuk nelpon rumah sakit lagi nanyain apa sudah boleh ke sana. Sepertinya bu suster sudah kasihan. Beliau nyuruh saya berangkat, tapi mewanti-wanti kalau terlihat masih lama bakalan disuruh pulang lagi. Nyampe sana perut saya dimonitor pake sabuk buat mengamati gerakan bayi dan kontraksi tiap berapa lama. Sekitar hampir satu jam kemudian, bu suster liat bukaan cervix. Saya disuruh nginep saja karena kontraksi sudah sekitar 5 menit sekali walaupun masih bukaan 3. Ibu dan suami saya disuruh pulang dan malam itu saya mules-mules saja semalaman sambil agak di-php-in bu suster yang bilang mungkin ketubannya mau pecah.

Ternyata sampe subuh ketuban nggak juga pecah, dan malah kontraksinya sempat mereda. Ya udah, saya subuhan di kasur terus tiduran aja. Jam 9-an bu dokter datang dan meriksa cervix. Kata beliau sekarang jadi bukaan 4. Nambahnya pelit amat yah. Setelahnya itu, saya dimonitor lagi sampe jam setengah 12. Dimonitornya berhenti soalnya saya ijin kebelet pipis. Eh, disuruhnya pipis di toilet paling dekat yang itu adalah di ruangan yang lagi dipake orang lain yang sedang mau lahiran (pastinya ruangnya sudah ditutupin sekat). Duh, jadi deg-degan semacam nunggu giliran. Setelah makan siang, saya dimonitor lagi dan sepertinya yang tadi mau lahiran sudah selesai. Jam 1-an ibu dan suami datang. Jam 2-an saya kebelet pipis lagi. Kali ini, kayaknya yang di ruang lahiran orang lain lagi. Beliaunya ini entah kenapa sambil nangis-nangis. Saya masih dimonitor aja sampe sekitar jam setengah 4 dan agak merasa gimana gitu karena suara nangis tadi nggak berhenti-berhenti (sambil mikir kok lama banget si ibu itu).

Bu suster datang ke saya sambil ngasih tahu kalo saya pengen cepet nambah bukaannya harus berjuang dengan pernapasan yang bener. Oke lah, saya nurut walaupun susyah menghembuskan napas panjang sambil perut mules heboh. Bapak mertua bilang suruh minta maaf ke bapak ibu suami biar cepet nambah bukaannya. Terus akhirnya sampe nelpon ke bapak buat minta maaf. Akhirnya saya ijin balik aja ke kamar biar nggak kedengeran suara orang nangis dan lebih bisa pernapasannya. Di kamar ini, suami nelponin bapak saya lagi terus disuruh berdoa2 sambil ngelur perut. Abis itu kayaknya jadi lebih enakan sampe saya agak ketiduran pas kontraksinya nggak datang.

Nah, ini… terus kok ya saya mimpi ada yang lagi nyetel musik dangdut lagunya Meggy Z (kalo ga salah yang ada liriknya “putus lagi cintaku.. putus lagi jalinan kasih.. sayangku padamu.. rela-rela rela aku relakan dst lalala” wkwkwk). Nah kan dangdut itu ada suara kendangnya, pas kok ya bunyi dung-nya kendang, tiba-tiba berasa “BROLLL” terus saya sadar ada cairan-cairan –> ketuban pecah. Weh, kayaknya doa bapak saya yang hobi banget nyetel dangdut terkabul.

Dari sini dilihat saya jadi bukaan 5. Kata bu suster, “yoku ganbarimashita ne napas2annya.” Jam 6 saya dipaksa makan malam supaya ada tenaga, tapi cuma bisa masuk dikit. Dipaksa lagi, eh saya muntah. Jadi merasa bersalah karena bu suster jadi bersihin muntahan. Berhubung mendekati jam 8 saya baru bukaan 6 dan jam besuk sudah mau habis, suami dan ibu disuruh pulang saja, kemungkinan nanti jam 12 akan dihubungi kalau bisa lanjut sampai bukaan 10. Setelah ditinggal pulang, saya maksa-maksa saja latihan pernapasan yang diajari bu suster sambil perut dimonitor pake sabuk di ruang yang tadi. Si ibu yang nangis-nangis sudah nggak ada suaranya, sepertinya sudah selesai lahirannya. Setengah 9-an mules-mules saya semakin kenceng dan jadinya disuruh pindah ke ruang melahirkan pake jalan.. waduh berasa ada yang mau keluar dari jalannya situ.

Jam 9 lebih, si ibu ngasih instruksi supaya lebih intensif pernapasannya. Kalo kontraksi datang tarik napas terus dihembuskan yang panjang sampai minimal 5 ketukan. Kalo kontraksi ilang, tarik nafas panjang dan dihembuskan yang enak. Begitu aja berulang-ulang. Ternyata dalam 3 kali kontraksi, yang sekalinya itu berasa ada sesuatu besar yang mau keluar. Maaf agak jorok, berasanya kayak ingin BAB yang keras banget, uda mau keluar tapi nggak jadi (tapi dari lubang yang depan). Akhirnya bu suster memanggil staf-staf melahirkan dan mengabarkan kalau target melahirkan berubah jadi sekitar jam 10 malam. Saya diserahi hp oleh beliau dan disuruh nelepon suami di rumah. Saya cuma bisa dalam hati, “uweleeeh, tega si ibu nyuruh saya yang nelepon.” Langsung aja saya buka hp sambil mringis-mringis nahan rasa di perut. Begitu nyambung saya langsung teriak, “Mas, buruan ke sini sama ibu!”

Berhubung rumah juga nggak jauh dari rumah sakit, 15 menit-an kemudian suami dan ibu datang. Mereka disuruh berdiri di belakang kepala saya, nggak boleh lihat daerah keluarnya bayi. Mungkin kalo berdiri di daerah keluar bayi, si mas jadi trauma melihat cervix yang melebar dan mungkin agak mengerikan, wkwk.

Baiklah, beberapa kali bu suster (yang ternyata bu bidan) agak marahin saya karena nggak kuat ngeden padahal sudah diberi instruksi caranya. Akhirnya seseorang yang ternyata adalah pak dokter memutuskan bahwa saya nggak kuat ngeden. Beliau minta diambilkan sesuatu (semacam alat, nggak ngerti namanya apa). Ternyata yang diambilkan itu adalah gunting, sodara-sodara. Dengan ringannya dia menggunting sesuatu di situ, kemudian saya disuruh agak merubah posisi kaki. Setelah itu, ada instruksi lagi dari bu bidan untuk ngeden. Kali ini ajaib, sekali ngeden ada sesuatu yang besar keluar. Jleer, ada manusia kecil berwarna masih agak keunguan keluar.

Setelah itu tali puser sepertinya diputus, dan sisa plasenta di perut saya dikeluarkan. Si adek dibersihkan, dan saya dijahit-jahit oleh dokter. Si adek didengarkan adzan dan iqomat, didekatkan ke saya untuk disusui, terus dipisah dan saya disuruh tidur.

Fiuh, alhamdulillah. Hari yang melelahkan.
*eh, ternyata setelah itu datanglah hari-hari begadang ayo begadang 🙂