Belajar tentang ASI (part 2)

 

Belajar kali ini, saya pengen cerita pengalaman akhir Juli lalu waktu saya kena radang kelenjar dada atau yang terkenal disebut mastitis. Untuk lebih jelas apa itu mastitis, silakan klik hyperlink-nya, yaa.

Biasanya, ibu-ibu yang menyusui tidak asing dengan keadaan di mana payudara tiba-tiba mengeras yang mengerasnya itu bukan karena air susu penuh, tapi mengeras berasa seperti ada batu di payudara. Bagian keras-kerasnya ini kalau ditekan sakit. Terus, kebanyakan kalau disusukan, putingnya juga ikutan sakit, hadeeh. Udah gitu, ketika mengerasnya ini tidak juga sembuh, kadang rasa susu bisa berubah yang bikin si bayi nggak mau minum. Diperaspun, air susunya keluar sedikit-sedikit. Kalau sudah begini, ibu menderita lahir dan batin.. badan sakit, anak pun nggak suka minumnya 😦 .

Dari yang saya tangkep dari baca-baca artikel dan penjelasan bu suster di rumah sakit dulu, mastitis ini semacam kalau saluran air susu tersumbat sehingga air susu susah dikeluarkan. Nggak jarang, di puting biasanya terjadi putih-putih yang kalau dihisap sama bayi, putingnya jadi sakit. Putih-putih ini ternyata semacam kaya jerawat yang di dalamnya ada lemak yang tidak bisa keluar. Alhasil, lubang pori-pori susu di bawah jerawat tadi tidak bisa mengeluarkan susu. Dan karena itu semacam jerawat, kalau disentuh, apalagi dihisap sama bayi, akan terasa sakit.

Pengalaman saya yang waktu itu diperparah karena puting sedang luka. Kata dokter waktu saya periksain, dari luka itu masuklah si kuman. Kuman ini mengakibatkan infeksi di dalam payudara daaan jadilah waktu itu saya demam. Sepertinya si (dengar-dengar dari teman), kalau sudah lebih dari satu hari demam, keras-kerasnya nggak juga sembuh, harusnya segera dibawa ke dokter atau midwife untuk ditangani. Tapi, waktu itu saya nggak berani segera ke sana karena takut nggak ada yang jagain si bayi waktu di rumah sakit sementara suami lagi nggak bisa nemenin karena harus ngantor.

Wah, jangan ditiru deh, waktu itu saya baru ke dokter setelah seminggu kemudian. Selama seminggu itu, saya demam beberapa kali (paling parah sampai 40 derajat), badan berasa sakit semua, gerak agak banyak sakit, shalat dipake nunduk sakit, mau tidur sakit, nyusuin sakit, bayi semakin rewel, huaa, lengkap sudah penderitaan. Saya langsung ke dokter yang menangani kelenjar payudara. Begitu datang bu suster di sana bilang, biasanya mah kalau mastitis pertama-tama ke midwife dulu. Midwife (助産師 kalau di bahasa Jepang) biasanya ngerti teknik memijatnya. Nah, kalau sudah parah barulah ke dokter. Tapi, berhubung saya sudah terlanjur datang ke sana, ya udah deh diperiksa aja.. gitu. Eh ternyata, saya sudah parah dengan dilihat dari hasil USG, ada cairan di dalamnya. Dokternya mah cuma bilang itu cairan penyakit yang harus dikeluarkan, tapi mungkin itulah yang namanya abses (semacam nanah?), huohoho.

Saya nggak mengira kalau datang-datang saya disuruh ke ruang periksa USG, eh, balik-balik ke tempatnya bu dokter, dia sudah melihat hasil fotonya dan bilang, saya langsung operasi, ya.. tenang saja, cuma operasi kecil (belakangan, teman yang dokter bilang, kaya begini namanya di-insisi). Karena yang kena mastitis yang sebelah kiri, di sisi kiri dokter memberi bius lokal, kemudian semacam menyayat 1.5cm-an. Setelah itu, dokter menekan dari berbagai arah supaya cairannya keluar dari situ. Ternyata cairannya belum bisa keluar semua karena saya udah kesakitan sekali dan bius cuma dipake dibagian permukaan saja. Jadinya saya mesti balik ke dokter 4 kali dalam 2 minggu untuk ditekan-tekan dan dikeluarkan lagi (juga dicek perkembangannya). Di rumah pun, tidak lupa harus diperas-peras karena air susu masih tetap produksi, tapi belum boleh disusukan ke bayi. Setelah diperas, harus ganti perban. Ternyata lagi, dokter bilang, lukanya tidak perlu dijahit karena nanti bisa nutup sendiri. Jadinya kadang air susu mrembes dari lubang sayatan dokternya. Hehehe, tidak bisa membayangkan, kan? Ternyata tidak seseram itu, kok. Tidak terlalu ada darah yang keluar dari lubang sayatannya. Dan, percaya aja sama dokternya, akhirnya keras-keras di susu benar-benar hilang, lubang menutup dengan oke. Kesimpulannya adalah, nggak lagi deh mau merasakan kaya gitu lagi.

Setelah kejadian itu, saya jadi lebih perhatian buat nge-massage gentong ASI ini tiap mandi, lebih rajin memeras kalau merasa air susu masih banyak, tapi si bayi sedang nggak mau mimik, dan lebih menjaga makan (tiap ibu kayaknya beda-beda, kalau saya kebanyakan yang berlemak dan berdaging-daging, rasanya lebih gampang kena), dan sebagainya.

Jadi, ibu-ibu.. terutama new mom, jangan sungkan untuk bertanya ke orang yang berilmu kalau ada yang bimbang. Periksa ke midwife atau ke dokter pun, bisa jadi ada solusi kalau mau bawa bayi ke rumah sakit (suster mau gendongin misalnya, hehehe). Terus juga, carilah ibu-ibu lain yang bisa dijadikan tempat curhat, yaa…

Segitu dulu ceritanya… semoga sehat-sehat ibunya. Insya Allah kalau ibu sehat dan bahagia, keluarga juga bahagia dan aman, wkwkwk.

広告