Belajar tentang MPASI (Part 2)

Perjalanan MPASI-nya Alka sudah jalan sekitar 4 minggu. Selama 4 minggu itu juga, kerjaan masak pagi jadi nambah, yaitu bikinin makanan khusus buat si bayi. Berikut laporannya.

Pada akhirnya saya pake buku ini untuk panduan karena ada banyak ide praktis dan mudah diterapkan di situ. Apa kabar BLW? Belum jalan, wkwk. Alasannya karena saya lebih merasa pewe dengan isi buku di gambar bawah ini, BLW agak bikin males bersih-bersih rumah, dan Alka bingung liat makanan yang disodorkan ke dia karena kebiasaan liat bapak ibunya makan pake sendok. Kapan-kapan deh, nyoba BLW soalnya bapaknya sepertinya lebih tertarik pake BLW aja.

s__13606915

Berhubung Alka masih tahap awal, buku yang dipake baru yang warna pink. Nanti kalo uda sekitar usia 7 bulan, pindah ganti yang ijo, hehe.Sekarang, mari kita cerita sedikit tentang isi buku yang pink, yah.

Pertama, di buku ini dibahas tahapan-tahapan kelembut~kasar-an makanan untuk bayi sesuai usianya. Kemudian dibahas, kalau sudah bagaimanakah MPASI bisa dimulai. Ini sudah saya ceritain di Belajar tentang MPASi di post sebelumnya. Kira-kira satu bulan pertama, persentase MPASI memenuhi 10% kebutuhan asupan bayi. Nanti kalau sudah bulan ke-2, naik jadi 20%. Tapi, ya tidak harus saklek gitu. Yang penting jangan terlalu banyak sampe si bayi yang makan MPASI pagi jadi ga sesemangat biasanya minum ASI / sufor siangnya.

Untuk bikin-bikin MPASI awal-awal ini, perlu perlengkapan masak. Biasanya kalo tengok-tengok Amazon, ada banyak yang jual uda satu set. Cuma, karena entah kenapa kok mahal (wkwk), saya kumpulin aja yang mirip-mirip dengan beli di 100 yen shop. Alhamdulillah sebagian besar ada di 100 yen shop. Di gambar di bawah ini, yang nggak 100 yen-an cuma mangkok putih (dapat hadiah lahiran) dan sendok ijo dua biji itu (merk combi, satu set isi dua, Sendoknya lentur tidak sakit di mulut bayi upsiklan). Yang lain yang nggak kefoto, sendok ukur, piller, gunting, dan panci. Ini ceritanya belum pake blender-blenderan karena bikinnya mendadak setiap pagi dan hanya untuk jumlah sedikit. Mungkin nanti selanjutnya harus level up pake blender, hoho.

s__13606917

Setelah itu, di buku dijelaskan bahan makanan apa yang aman dimakan pada usia ini. Sebenarnya kayaknya si bukan berarti tidak boleh makan yang lain (kalau melihat bacaan tentang MPASI di berbagai sumber atau pengalaman teman-teman yang lain), tapi mending cari aman ceritanya.

  • Sumber energi (karbohidrat): beras putih, kentang, ubi, pisang, jagung, roti tawar*, mi udon*, mi su’un*
  • Sumber vitamin dan mineral: wortel, macam-macam sayuran hijau (sawi, bayam, brokoli, green pepper, paprika, eda mame, dll), macam-macam sayuran putih (timun, lobak, kabu, terong, bawang bombai, selada air, seledri, sawi putih, dll), segala macam buah, nori*
  • Sumber protein: ikan madai (gatau deh, bahasa inggrisnya red sea bream), tofu, kinako (bubuk kedelai), ikan teri halus, susu kedelai*

Yang bertanda * maksudnya, lebih baik diberikan di akhir-akhir masa MPASI ini karena takutnya belum terbiasa, takut alergi atau semacamnya.

Lanjut lagi isi bukunya tentang cara-cara membuat aneka bubur encer mulai dari bubur dari beras, dari mi udon, bahkan dari roti tawar. Selain itu, ada juga cara membuat kaldu dari kombu (semacam rumput laut yang kaldunya enak) dan katsuo bushi (serbuk ikan bonito), cara membuat bubur dari berbagai macam sayuran, ikan, dan lain-lain. Terakhir bukunya ngasih resep-resep yang ternyata enak juga saya rasain :D, juga ngasih FAQ tentang suka-duka MPASI.

Sampe sini, Alka lumayan semangat makan. Mungkin karena sebelum mulai MPASI, bapak-ibunya kebanyakan ngiming-ngimingin dia kalo lagi makan. Begitu dia dikasih makan, awal-awal mencoba memberanikan diri jilat-jilat sendok. Akhir-akhir ini, begitu sendok didekatkan, Alka sudah ngerti dan mau mangap. Kata ibu-ibu posyandu di kantor kecamatan si, jangan ngasih makan dengan model “tuh ada pesawat” terus bayi mangap dan sendok masuk mulut, wkwk. Mendingan bayinya uda mempersiapkan hati kalau akan ada makanan masuk ke mulutnya, hehe.

Karena buku yang pink sampe saat ini sangat berguna, saya kemaren nyoba beli buku lanjutannya yang ijo. Waktu ngintip-ngintip bukunya si ada tentang info kalo anak mulai bandel makannya, jadi ada tips-tips mengatasinya (gatau de, manjur apa nggak 😛 ), juga gimana ngatur-ngatur menu karena mulai sini, nutrisi bayi mulai tidak bisa dipenuhi hanya dengan ASI/sufor.

Sampai jumpa di edisi selanjutnya.

広告

Belajar tentang ASI (part 2)

 

Belajar kali ini, saya pengen cerita pengalaman akhir Juli lalu waktu saya kena radang kelenjar dada atau yang terkenal disebut mastitis. Untuk lebih jelas apa itu mastitis, silakan klik hyperlink-nya, yaa.

Biasanya, ibu-ibu yang menyusui tidak asing dengan keadaan di mana payudara tiba-tiba mengeras yang mengerasnya itu bukan karena air susu penuh, tapi mengeras berasa seperti ada batu di payudara. Bagian keras-kerasnya ini kalau ditekan sakit. Terus, kebanyakan kalau disusukan, putingnya juga ikutan sakit, hadeeh. Udah gitu, ketika mengerasnya ini tidak juga sembuh, kadang rasa susu bisa berubah yang bikin si bayi nggak mau minum. Diperaspun, air susunya keluar sedikit-sedikit. Kalau sudah begini, ibu menderita lahir dan batin.. badan sakit, anak pun nggak suka minumnya 😦 .

Dari yang saya tangkep dari baca-baca artikel dan penjelasan bu suster di rumah sakit dulu, mastitis ini semacam kalau saluran air susu tersumbat sehingga air susu susah dikeluarkan. Nggak jarang, di puting biasanya terjadi putih-putih yang kalau dihisap sama bayi, putingnya jadi sakit. Putih-putih ini ternyata semacam kaya jerawat yang di dalamnya ada lemak yang tidak bisa keluar. Alhasil, lubang pori-pori susu di bawah jerawat tadi tidak bisa mengeluarkan susu. Dan karena itu semacam jerawat, kalau disentuh, apalagi dihisap sama bayi, akan terasa sakit.

Pengalaman saya yang waktu itu diperparah karena puting sedang luka. Kata dokter waktu saya periksain, dari luka itu masuklah si kuman. Kuman ini mengakibatkan infeksi di dalam payudara daaan jadilah waktu itu saya demam. Sepertinya si (dengar-dengar dari teman), kalau sudah lebih dari satu hari demam, keras-kerasnya nggak juga sembuh, harusnya segera dibawa ke dokter atau midwife untuk ditangani. Tapi, waktu itu saya nggak berani segera ke sana karena takut nggak ada yang jagain si bayi waktu di rumah sakit sementara suami lagi nggak bisa nemenin karena harus ngantor.

Wah, jangan ditiru deh, waktu itu saya baru ke dokter setelah seminggu kemudian. Selama seminggu itu, saya demam beberapa kali (paling parah sampai 40 derajat), badan berasa sakit semua, gerak agak banyak sakit, shalat dipake nunduk sakit, mau tidur sakit, nyusuin sakit, bayi semakin rewel, huaa, lengkap sudah penderitaan. Saya langsung ke dokter yang menangani kelenjar payudara. Begitu datang bu suster di sana bilang, biasanya mah kalau mastitis pertama-tama ke midwife dulu. Midwife (助産師 kalau di bahasa Jepang) biasanya ngerti teknik memijatnya. Nah, kalau sudah parah barulah ke dokter. Tapi, berhubung saya sudah terlanjur datang ke sana, ya udah deh diperiksa aja.. gitu. Eh ternyata, saya sudah parah dengan dilihat dari hasil USG, ada cairan di dalamnya. Dokternya mah cuma bilang itu cairan penyakit yang harus dikeluarkan, tapi mungkin itulah yang namanya abses (semacam nanah?), huohoho.

Saya nggak mengira kalau datang-datang saya disuruh ke ruang periksa USG, eh, balik-balik ke tempatnya bu dokter, dia sudah melihat hasil fotonya dan bilang, saya langsung operasi, ya.. tenang saja, cuma operasi kecil (belakangan, teman yang dokter bilang, kaya begini namanya di-insisi). Karena yang kena mastitis yang sebelah kiri, di sisi kiri dokter memberi bius lokal, kemudian semacam menyayat 1.5cm-an. Setelah itu, dokter menekan dari berbagai arah supaya cairannya keluar dari situ. Ternyata cairannya belum bisa keluar semua karena saya udah kesakitan sekali dan bius cuma dipake dibagian permukaan saja. Jadinya saya mesti balik ke dokter 4 kali dalam 2 minggu untuk ditekan-tekan dan dikeluarkan lagi (juga dicek perkembangannya). Di rumah pun, tidak lupa harus diperas-peras karena air susu masih tetap produksi, tapi belum boleh disusukan ke bayi. Setelah diperas, harus ganti perban. Ternyata lagi, dokter bilang, lukanya tidak perlu dijahit karena nanti bisa nutup sendiri. Jadinya kadang air susu mrembes dari lubang sayatan dokternya. Hehehe, tidak bisa membayangkan, kan? Ternyata tidak seseram itu, kok. Tidak terlalu ada darah yang keluar dari lubang sayatannya. Dan, percaya aja sama dokternya, akhirnya keras-keras di susu benar-benar hilang, lubang menutup dengan oke. Kesimpulannya adalah, nggak lagi deh mau merasakan kaya gitu lagi.

Setelah kejadian itu, saya jadi lebih perhatian buat nge-massage gentong ASI ini tiap mandi, lebih rajin memeras kalau merasa air susu masih banyak, tapi si bayi sedang nggak mau mimik, dan lebih menjaga makan (tiap ibu kayaknya beda-beda, kalau saya kebanyakan yang berlemak dan berdaging-daging, rasanya lebih gampang kena), dan sebagainya.

Jadi, ibu-ibu.. terutama new mom, jangan sungkan untuk bertanya ke orang yang berilmu kalau ada yang bimbang. Periksa ke midwife atau ke dokter pun, bisa jadi ada solusi kalau mau bawa bayi ke rumah sakit (suster mau gendongin misalnya, hehehe). Terus juga, carilah ibu-ibu lain yang bisa dijadikan tempat curhat, yaa…

Segitu dulu ceritanya… semoga sehat-sehat ibunya. Insya Allah kalau ibu sehat dan bahagia, keluarga juga bahagia dan aman, wkwkwk.


Membanding-bandingkan Anak

Biasanya, ibu-ibu sifatnya suka khawatiran apakah si anak bayi merasa sakit, apa berat badannya kurang, apa tidurnya cukup, dll. Nah, kalau bapak biasanya lebih nyantai. Bapak bilang, “nggak papa, tuh dia nggak nangis dan happy2 aja keliatannya.” Paling tidak, kalau di rumah saya biasanya begitu.

Saya kadang ngintip akun instagram teman, baca lagi artikek yang sama tentang porsi minum susu, progres pertambahan badan, dll. Nah, ditambah sifat kadang terlalu khawatir, jadinya saya terlalu mikir kenapa beratnya kurang, hehe.. (tidak baiknya ketika kebanyakan mikir, kurang dzikir). Walaupun sudah sering cerita ke bapaknya si bayi, si bapak masih juga lebih sering nyantai.

Sampailah pada hari kemarin, si bapak saya ajakin ngantar si bayi imunisasi. Sambil saya ngeliatin ibu-ibu lain dan anaknya, saya sambil nginget2 imunisasi bulan lalu. Ternyata beberapa ibu kebarengan lagi, jadinya saya bisa ngira-ngira usia anaknya. Saya bilang deh ke si bapak, tuh anak yang itu lahirnya tiga hari setelah anakmu, anak yang sana lebih tua satu bulan, yang sana lagi sama udah tiga bulan, dst. Dan si bapak terheran-heran.. eh, kok mereka lebih ndut yah.. (anaknya maksudnya, bukan ibunya, apalagi bapaknya, wkwk). Tuh kan, anakmu termasuk yang agak kurus, Bapak.. baru percaya dia. Sampe rumah, si bapak bilang, mimik susunya lebih banyakin yaa. hehehe.

Nah, jadi memang membandingkan anak kita dengan anak orang ada untungnya.. yaitu jadi punya parameter yang diobservasi langsung. Yang penting membandingkannya jangan berlebihan, nanti jadi sutress. Kata banyak bacaan2, ingat bayi Anda juga adalah suatu individu, yang punya rasa, punya hati (kaya lagunya siapa itu). 

Ya nggak, nak?

 


Belajar soal ASI

Akhir-akhir ini kegiatan saya kalo si adek sedang agak rewel adalah ngalahi mangku dia walaupun sampe tangan jadi kiyu. Di saat begitu, saya kepikiran macam-macam. Untungnya ada sumaho (smartphone kalau bahasa inggrisnya) yang bisa dipakai googling. Biasanya saya kepikiran kenapa bayi begini dan begitu. 

Ada beberapa situs yang kalo saya googling ujug-ujugnya merasa dari situ informasinya paling mantap. Yaitu:

  • babycenter.com (yang ini situs bahasa inggris)
  • 192abc.com (yang ini situs bahasa jepang. Kalau agak kesulitan bahasa, mungkin bisa dibuka sambil ditranslasi di google translate walaupun artinya jadi kacau, wkwk)

*belum ngerti situs yang disuka dalam bahasa indonesia. Ada yang tahu? Kali aja kalau dalam bahasa ibu jadi lebih pewe bacanya.

Nyambung ke judulnya, yang sering saya cari tahu beberapa hari belakangan adalah tentang ASI dan menyusui. Seperti banyak orang, saya mengusahakan ASI aja buat si adek tanpa ditambah susu formula. Tapi ternyata, waktu cek kesehatan per 1 bulan yang lalu, dokter bilang ASI saya kurangs yang menyebabkan pertambahan berat badan si adek kecil (normalnya rata-rata 30gram per hari, tapi si adek cuma 20gram per hari). Oleh karena itu, saya disuruh nambah susu formula. Setelah dicoba-coba, saya tambahin per hari 320ml, dan bu dokter bilang, “oke, ditambah segitu aja. Kalau kebanyakan, nanti bisa kegendutan karena susu formula tidak semudah susu ibu waktu dicerna.” Bu bidan menambahkan, nanti kalau susu ibu semakin banyak keluarnya, susu formula bisa dikurangi sedikit-sedikit sampai tidak usah sama sekali.

Nah, kemudian saya pulang ke rumah dari rumah sakit dengan mengemban misi nambahin susu formula supaya si adek lebih bagus perkembangannya. Sebenarnya, saya merasa lebih lega soalnya selama ini si adek terlihat nggak pernah puas walaupun sudah nyusu. Ternyata emang ASI kurang. Setelah dicoba nambah sufor, dia tidur lebih enak, si ibu juga lebih enak karena capek berkurang (dia anteng) dan bisa ngurus rumah lebih leluasa.

Dari yang saya baca-baca di situs-situs (ditambah forum ibu-ibu dalam berbagai bahasa.. kebanyakan forum bahasa jepang si), mau ngasih anak ASI aja atau nambah sufor atau sufor aja itu sebenarnya adalah keputusan bapak dan ibu masing-masing. Yang ASI nya lancar jaya dan ada kemampuan menyusui ya mending ASI eksklusif aja. Tapi, di dunia ini ada ibu dengan ASI sedikit, atau karena kondisi sosial/ekonomi/kesehatan/dll tidak memungkinkan si ibu untuk menyusui. Ya nggak papa. Memberikan susu formula ke anak tidak sama dengan menjadi orang tua yang jahat nggak mau menyusui, ehehe. 

Tapi, namanya juga emak, apalagi kalau untuk anak pertama, saya pernah semakin stres kenapa ASI tidak keluar banyak, saya salah apa, kurang ngapain. Ternyata makin stres malah bikin ASI tidak keluar, hohoho. Apalagi kadang teman atau keluarga yang sebenarnya bermaksud baik, mencoba membantu dengan alternatif solusi macam-macam. Akhirnya solusi-solusi itu saya lakukan sebisanya saja walaupun kalau ditanya lagi kayaknya bakal dibilang: “loh kok cuma begitu, harusnya lebih begini-begini.” Ya sudah, mohon maaf atas keterbatasan kemampuan ini. Hoho.

  

Jadinya, kesimpulannya, saya coba nurutin bu dokter dan bu bidan saja 🙂 Paling tidak, ini solusi yang paling aplicable untuk saat ini sambil nambah ilmu tentang bagaimana bayi biasanya berkembang. Terakhir si adek ke dokter karena saya kirain dia susah BAB, dokter bilang tidak usah khawatir menambah sufor. Yang paling baik adalah si adek tumbuh dengan bagus. Bayangkan manusia kecil segini, dari yang cuma bisa tiduran aja, dalam setahun dia harus bisa jalan. Dia butuh banyak asupan dan nutrisi supaya tubuhnya kuat, supaya ada energi untuk membesarkan badan, menguatkan otot di samping kebutuhan dasar (bernapas, nangis, menjalankan fungsi organ-organ tubuh). Saya jadi merasa, memaksakan ASI aja ke si adek itu justru adalah keegoisan saya aja. Sekarang si adek alhamdulillah udah 2 bulan, sudah semakin sering senyum dan ngerti kalau diajak ngobrol. Si adek minum ASI dan sufor (sehari target maksimum minum sufor 200ml, alhamdulillah tetap doyan ASI dan minum ASI dengan semangat 😀 ). Yippii~


hamil dan melahirkan

Tadi siang saya nganterin temen periksa kandungan di sebuah rumah sakit di Fukuoka.
Bagi yang tidak asing dengan dunia kedokteran mungkin sudah biasa aja, tapi saya termasuk yang tidak akrab 😀
Jadi, ke rumah sakit masih merupakan hal tidak biasa yang jarang-jarang terjadi.

Kebetulan temen saya dilihat adek bayinya pake USG kemudian ditanya-tanya seputar kehamilannya. Kalo di Indonesia, saya nggak ngerti malahan kayak gimana, kalo di sini susternya tidak hanya bisa bertanya seputar keadaan kesehatan yang dirasakan si ibu, tapi juga tentang kondisi sosial. Misalnya, bagaimana tanggapan keluarga mengenai kehamilan ini, apakah sudah siap merawat si adek terutama menyusui dan menyiapkan hal-hal lain yang berkaitan dengan merawat anak. Selain itu, bagaimana ngasih ASI-nya kalau misalnya tidak bisa selalu bersama dengan si adek.

huiii.. seru dan berdebar-debar! 😀

Sebenarnya dulu juga pernah mengantarkan teman yang lain. Yang dulu malah ikut mengantarkan waktu temen saya dilihatkan ruangan persalinannya. (Mungkin tiap rumah sakit agak beda) Di situ, ada tempat tidur khusus yang bisa melipat di bagian sekitar pantat. Tempat tidurnya ini yang sebagian di daerah kaki bisa dicopot (jadi lebih pendek) supaya dokternya lebih mudah berinteraksi ketika proses persalinan. Waktu itu tidak hanya calon ibu yang disuruh untuk mencoba duduk di tempat tidur spesial ini, sang bapak pun di suruh sama bu suster-nya. Kata bu suster itu supaya bapak juga tahu perasaannya bagaimana berada di situ.

Berkat nganterin temen jadi tahu sedikit soal sakit2 sebelum melahirkan. Ternyata awalnya sakitnya agak lamaan baru muncul lagi. Tiap terasa sakit, tarik nafas dalam-dalam untuk meredakannya. Sampe pada akhirnya sakitnya akan datang tiap 10 menit dan mulailah yang namanya bukaan-bukaan itu. Kalo susah terbuka, maka bu suster akan dengan ‘berbaik hati’ menggunting sedikit pintu keluar adeknya (seperti kasusnya ibu saya waktu saya mau lahir katanya).

Katanya bu suster tadi, silakan menghubungi rumah sakit untuk siap melahirkan bila terasa 4 hal berikut:
1. Sakit tiap 10 menit sekali
2. Air ketuban pecah
3. Pendarahan
4. Bayinya terasa tidak bergerak

Saya cuma bisa, ‘glek’. Serem juga ya.. hehehe
Gimana nanti ya misalnya saya hamil terus melahirkan, hihi. Nikah aja belom, nduk!