Mudik 2017

Mudik kali ini sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Kali ini jangka mudiknya lama (sebulan lebih) dan rasanya juga lebih manis asem pedes karena mudiknya bawa anak bayi yang makin imut dan makin seneng gigit tangan ibunya.

  

MPASI-nya Alka agak tidak lancar dari ketika masuk bulan ketiga MPASI. Sepertinya dia agak bosan ketemu sendok. Jadinya, dari saat itu banyakan saya suapin pake tangan dengan menu yang sudah nggak saya catet lagi karena sekepikiran dan seadanya yang dibeli waktu belanja. Waktu ketemu sama eyang-eyangnya, mulailah eyang-eyang membantu program penggemukan cucu pertama ini. Dibikinin apapun yang kayaknya dia suka biar ndut (huohoho). Yah, sekarang alhamdulillah bertambah lagi berat badannya.

Yang berasa susah adalah, ketika Alka sakit. Waktu diajak ke Surabaya, badannya panas. Obat panas yang nyetok dari dokter di Fukuoka, sampe kepake 3x. Obatnya ini yang dipakainya dengan dimasukkan ke dalam anus. Untungnya mbah uti Malang membantu waktu pakenya. Ditambah dengan ke dokter lagi karena panasnya abis turun, balik lagi naik, alhamdulillah jadi baikan dengan ditambah minum antibiotik. Sampe Malang lagi, eh beberapa hari kemudian kena batuk pilek se-ibunya juga. Sabar… sabar… ke dokter lagi deh.

Alka ngga ikutan BPJS. Biaya berobat berasanya jadi mahal. Biasanya di Fukuoka, biaya berobat anak sampai lulus SD ditanggung sama pemkot 100%. Dulu-dulu ngga pernah mikir kalo mau ke dokter, sekarang jadi kerasa kalo ada biayanya.

Hari ini ada anak saudara yang masih berusia 3 tahun meninggal karena demam berdarah. Sepertinya keluarganya juga ada masalah dengan biaya di rumah sakitnya. Saya jadi teringat kata-kata teman dari Taiwan yang dulu pernah semacam internship di Indonesia. Dia bilang, sakit di Indonesia mahal. Semoga anak saudara saya khusnul khotimah dan kami yang ditinggal diberi pertolongan dan kesabaran.

Saya masih sering mengeluh kalo pulang mudik, kenapa tranportasi tidak nyaman, polusi dimana-mana, pelayanan lambat, acara tv tidak menarik, dan lain-lain. Tapi, saya belum ada kontribusi apa-apa untuk ngasih solusi. Mesti semedi gimana ya, supaya saya nggak sok ngomel doang. Selama ini tinggal di Fukuoka, saya cuma nerima fasilitas enak sudah dari sononya. Tidak ada yang bisa dibanggakan.

Namun, tetaplah apa-apa yang ada di kampung halaman ini selalu di hati. Rasa kekeluargaan orang-orang di sini tidak ada duanya. Tidak semua adalah keluhan. Kelebihannya juga tidak terhitung. Semoga suatu saat dapat rejeki tinggal di sini lagi.

広告

tamasya hujan-hujan

Dari hari Sabtu kemarin sampai nanti sore, saya sedang jalan-jalan keliling beberapa tempat di Kyushu yang sebenarnya sudah sangat terkenal sebagai tempat wisata. Tadi pagi awalnya kami mengunjungi Oita, tepatnya ke “Kinchoo”, tempat pembuatan minuman beralkohol (dari sake sampe shochuu, dari yang kadar alkoholnya sedikit saja sampai yang 40%.. bisa debus abis minum itu @_@ ). Ratusan tahun yang lalu daerah tersebut adalah pemukiman orang-orang kaya yang ditunjukkan dengan banyaknya boneka “o Hina sama” yang biasanya merupakan hadiah dari orang tua kepada anak perempuannya yang biasanya harganya muahhaall. Hoho, panjang amat kalimatnya. Berikut fotonya:

20131006-005038.jpg

20131006-005108.jpg

Kemudian siangnya lagi, kami meneruskan perjalanan ke Yufuin, tempat seru buat jalan-jalan dan belanja barang-barang unik dan makanan-makanan jepang macam tofu aneka rasa, dan lain-lain. Tapi, sayangnya.. seperti yang bisa dilihat di foto-foto di atas, hari ini tu hujan, men. Dan berhubung saya sudah pernah ke sini dan saya ngantuk sekali, jadinya saya tidak turun dari bus, huahaha.

Baiklah, lanjut lagi perjalanan ke arah Kumamoto. Awal tujuan kami adalah ke sebuah kuil bernama “Aso Jinja”. Katanya di Jepang banyak sekali Aso Jinja, tapi pusatnya ya di Kumamoto ini. Saya baru tahu kalo Kuil ada semacam kantor cabangnya. Bapak-bapak elite di rombongan kami telah memesan spesial kepada orang kuil untuk supaya dilakukan upacara berdoa khusus. Dan akhirnya kami yang ingin ikut berdoa ikutan berdoa di sana. Saya melihat saja dari luar.

20131006-005749.jpg

20131006-005801.jpg

Setelah itu, akhirnya ke tempat yang saya tunggu-tunggu… penginapan.. huehehe, capek eung. Datang-datang kami disuruh ke kamar dan kemudian makan malam. Tidak saya sangka nginepnya di hotel beneran, kirain di ryokan 😀 (penginapan bareng2 yang satu kamar berbanyak orang dengan tanpa kamar mandi privat). Alhamdulillah, tidak harus mandi bersama seperti pengalaman beberapa tahun yang lalu, kyaa.

Baiklah, semoga hari ini bisa dilalui dengan lebih bermakna, tidak mabok kendaraan, dan selamat dalam perjalanan, aamiin.


setengah bohong

Saya pernah ngobrol-ngobrol dengan teman-teman saya. Saya bilang bahwa karena sudah lumayan agak lama tidak tinggal di rumah (rumah orang tua), mau tinggal di mana juga sama saja. Setelah mudik, harus kembali balik ke kos2an juga biasa saja.

Ternyata, setelah pulang kemarin, agak beda.

Mudik yang kemarin, kebanyakan saya bareng-bareng sama keluarga terus, keluar kota pun ke rumah budhe dan mbah saja. Kalau yang dulu, biasanya saya maen ke Bandung, ke rumah teman, jalan-jalan bareng teman sma sering sekali. Sekarang teman-teman sudah sibuk kerja, sudah menikah dan punya anak, tidak tinggal di Malang lagi, dsb.

Alhasil, saya dapat sangu wejangan banyyyak sekali, baik dari keluarga, budhe, mbah, paklek, bahkan tetangga yang sudah lama nggak ketemu. Saya juga dapat sangu cerita baik yang terjadi akhir-akhir ini seperti: tentang gentingnya suasana rumah waktu adek saya operasi usus buntu, waktu bapak saya jualan gula merah, maupun cerita jaman dulu yang sebenarnya juga pernah dengar seperti: sejarah masa kecil anak-anaknya mbah.

Ternyata, move on setelah mudik tidak semudah yang saya kira. Berarti saya dulu agak bohong, ya.. hehe. Kalau sudah galau, maka jurus ampuh yang bisa dilakukan adalah berdoa untuk semua keluarga. Setelah itu, tidur.
demikian.


why does the sun go on shining

akhir-akhir ini saya mengalami 2 hal aneh.

satu. Sepeda saya hilang di parkiran rumah sendiri. Saya yakin sekali sebelum mudik sepeda ada di parkiran dan ingat sekali sempat memandanginya sebelum naik taksi. Saya juga sempat khawatir nanti kalo sepeda saya rodanya gembos gimana.. kalo jatuh siapa yang bangunin…

Ketika saya sampai di rumah, badan sudah tepar, kepala cenut-cenut, perut lapar, energi sudah di ambang nol, saya tidak kuat lapor polisi (apa lagi kepikiran untuk lapor) untuk bilang kalau sepeda saya hilang. Sekarang mau lapor malah eehmmm… ettoo lapor tidak ya.. kapan hilangnya juga saya tidak tahu. Jangan-jangan saya berhalusinasi bahwa sebenarnya saya lupa markir sepeda di suatu tempat misalnya setelah belanja atau dari stasiun.

heuu…

dua. Uang di IC-card saya tinggal 90 yen. Oleh karena itu, mau saya charge 1000 yen karena akan naik kereta. Di mesin untuk chargingnya (mesinnya touch screen), saya pencet IC card, kemudian charge dengan uang, kemudian saya pilih 1000. Setelah itu, tanpa melihat layar lagi, saya langsung memasukkan uang satu lembar 1000 yen.

Saya langsung agak bingung ketika tulisan di layar mengatakan bahwa uang yang harus saya masukkan adalah 2500 yen. Ya.. saya reflek mikir.. eh, tadi salah pencet ya??
Baiklah, kalau begitu akan saya ulang dari awal.
Tapi, ternyata setelah itu kata si mesin proses pengisian (charge) telah selesai, silakan ambil kartu anda. Dan kartu saya keluar dengan selamat.

Ketika saya pakai masuk stasiun lewat 改札口 seperti biasa, uang di kartu saya besarnya 2590. Nah, lho.. keisi 2500 beneran!! Waduh, ini saya mesti lapor apa nggak nih??
Tadi karena kereta sudah mau datang ya saya nggak lapor dulu. Tapi beneran mesti lapor nih??
Kalo saya pikir-pikir, kayaknya tidak ada pilihan charge sebesar 2500 yen. Yang ada selalu kelipatan 1000 yen deh. Mesin error pembawa rejeki nih. Tapi, pihak stasiun rugi, nggak ya?

Kesimpulannya:
kenapa kok bisa begitu?
why? why?
why does the sun go on shining? why does the sea rush to shore?


Gimana ngomongnya?

Ketika kita jalan-jalan ke luar negeri dengan naik pesawat, biasanya akan dapat sambutan dari mbak-mbak pramugari atau mas-mas pramugara. Sambutannya ini sepertinya disesuaikan dengan penampakan kita 😀 (maksudnya untuk mengira-ngira kia asalnya dari mana).

Cuma mungkin mbaknya bingung apa gimana ya kalo mau ngomong dengan saya. Ya kadang saya yang bingung si ngomongnya bagaimana.

Kebetulan saya sedang di perjalanan dari Fukuoka, transit di Taipei, kemudian lanjut ke Surabaya. Di penerbangan dari Fukuoka ke Taipei, si mbak memakai bahasa Inggris ke saya. Dasar kuping saya juga agak2 gitu mungkin pronounce-nya mbak nya tidak terdengar jelas. Biasanya saya langsung ambil jurus menjawab dengan bahasa Jepang karena biasanya pengucapan bahasa Jepang lebih mudah dari bahasa Inggris dengan harapan supaya mbaknya ngomong bahasa Jepang saja. Dan seperti biasa, berhasil. Kemudian, si mbak menimpali dengan “arigato” saja. Dalam hati saya langsung ting : pake “gozaimasu”, mbak e.. saya costumer nih, haha.. sok2an banget jadinya.

Di saat seperti beginilah kerasanya internasional. Semua orang tidak sama.. tapi, no problem.. niat baik memang punya banyak cara pengungkapan ^_^

Selamat lebaran. Taqaballallahu minna waminkum taqabbal ya karim. Semoga puasa kita semua diterima dan dosa-dosa kita diampuni oleh Allah. Aamiin. Mohon maaf lahir dan batin 🙂

Mudik dulu, sodara-sodari..!

20130808-171641.jpg