– mimpi_2

Badanku yang tidak sebesar orang-orang di sekelilingku dengan mudah bisa kusembunyikan. Sepertinya aku akan segera terlihat kalau orang-orang sudah berjatuhan semua. Selagi banyak dari mereka yang masih sibuk menghabiskan seluruh isi gelas, aku berjalan mundur perlahan kemudian berlari kecil sampai tiba di bawah meja besar bertaplak lebar. Orang-orang itu seperti tersihir untuk  menghabiskan seluruh isi gelas hingga tetes terakhir. Maksudku, hingga sesuatu berwarna hijau di dasar gelas juga tertenggak semua. Mereka benar-benar menakutkan.

 

Dari bawah meja, aku merasa aku dapat bergerak mendekati  pintu depan. Kalaulah nanti mereka terlihat akan datang, aku akan sembunyi di balik pintu raksasa itu. Hotel ini, baru kusadari kalau tidak menggunakan pintu otomatis yang langsung terbuka ketika ada orang yang akan melewati pintu. Pintunya adalah pintu besar dengan dua buah daun pintu yang terbuat dari kayu. Kayu tersebut diukir dengan ukiran bermotif burung merak yang indah sekali. Bahkan dari tempat persembunyianku ini, aku dapat melihat keindahan ekor burung merak yang telah dicat menggunakan cat khusus berwarna emas. Aku yakin aku bisa tersembunyi dengan baik kalau berada di balik daun pintunya. Kecuali, mereka akan menutup pintu depan. Tetapi, sudah tidak ada waktu lagi untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk lain yang akan terjadi. Aku sudah memutuskan untuk berlari secepat-cepatnya menuju bagian belakang pintu depan yang terbuka.

 

Dan kemudian aku berhasil memasukkan kaki kananku ke balik pintu nyaris ketika sepleton pasukan berdasi kupu-kupu bergerak serentak keluar melalui pintu depan. Aku punya keuntungan dengan bersembunyi di balik pintu ber-engsel semacam ini. Aku dapat melihat dari celah engsel apa-apa yang ada di depan. Tapi, aku kaget setelah melihatnya. Yang ada di sana adalah beberapa pleton lagi barisan bersenjata bedil. Kamu tahu, ini benar-benar bedil seperti yang pernah kulihat di museum perang. Itu bukan senjata semacam yang pernah ada di permainan time crisis, tapi bedil kuno jaman Belanda. Oh, Tuhan. Sepertinya mak lampir telah berhasil bersekutu dengan antek-antek Belanda. Aku menjadi heran kenapa para antek-antek itu mau saja dibodohi oleh mak lampir. Namun, bagaimanapun juga aku merasa heran, keadaannya sekarang telah menjadi semakin berbahaya dengan kehadiran mereka. Aku semakin sulit untuk mendekati telepon karena sesekali beberapa anggota pleton pasukan itu berlarian di jalan di depan pesawat telepon.

 

Untuk beberapa saat tidak terlihat seseorangpun melintasi arah tujuanku. Selain itu, aku juga mendengar teriakan komando dari dalam ruangan pameran di dalam hotel tadi sehingga aku tahu bahwa seseorang di dalam sana sedang memberikan komando kepada pasukannya. Aku kemudian membuka pintu perlahan dengan berhati-hati. Pintu menjadi terasa berat sekali untuk dibuka. Walaupun begitu aku berhasil keluar dengan hampir tanpa suara. Setelah itu, langsung aku berlari ke depan dengan bergerak dulu ke arah kiri untuk menghindari kalau-kalau seseorang dari arah kanan melihat  bayanganku yang mengarah ke kanan. Tak kusangka akhirnya aku bisa berdiri di depan telepon umum itu sekarang. Seketika aku meraih gagang telepon dengan sedikit kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Saat kugerakkan tanganku untuk menekan tombol-tombol telepon itu, aku tak menyangka tanganku gemetar. Sudah dua kali aku salah menekan nomor telepon yang kumaksud. Pada kali ketiga aku menekan angka pertama, hatiku mencelot saat indra pendengarku menyampaikan kabar buruk kepada otakku dengan kecepatan super yang kuterjemahkan sebagai suatu keadaan yang sangat berbahaya. Aku harus segera lari menjauhi tempat ini sekarang. Para pasukan tadi telah meneriakkan kata-kata yang aku tidak mengerti artinya tapi aku mengerti maknanya. Makna dari teriakan itu adalah mereka bermaksud menangkapku.

 

Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah berlari. Aku berlari menuju apapun yang bisa menjauhkan dari mereka. Aku mengambil arah memutar ke kanan dari jalan masuk utama hotel. Di sana, yang kulihat adalah pekarangan dengan tetumbuhan tidak terawat. Menurut perkiraanku arah ini akan mengantarku ke hutan. Aku takut sebenarnya. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menghubungi bala bantuan kalau aku terus menjauh dari telepon menuju hutan. Tapi, kali ini aku lebih takut tertangkapoleh pasukan-pasukan itu.

 

Aku berlari terus. Walaupun napasku sudah hampir putus, aku berlari terus. Kemudian, aku sudah tidak kuat lagi mengayunkan kakiku. Aku menoleh ke belakang dan melihat bahwa pasuka-pasukan tadi semakin mendekatiku. Apakah aku harus pasrah untuk ditangkap oleh mereka. Tapi, dengan tidak dinyana, seseorang telah menarik tanganku. Aku terseret olehnya tapi tetap bisa berlari. Kali ini, kecepatanku semakin cepat berkat dia. Aku bingung siapa dia, tapi sepertinya dia bermaksud menolongku. Orang ini adalah laki-laki yang lebih tinggi dariku yang aku tidak bisa melihat wajahnya karena kami sangat berkonsentrasi berlari ke arah depan. Kami semakin bisa menjauhi para pasukan yang mengejarku. Tapi aku masih dapat mendengar debuman langkah mereka yang berlari di belakang kami.

 

-bersambung-



Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s