Suatu hari yang tak diketahui tanggal bulan dan tahunnya, tak diketahui dimana hari itu terjadi, atau kenapa hari itu bisa terjadi, aku mengalaminya dua kali. Eh, bagaimana aku bisa mengalaminya dua kali? Aku benar-benar tidak mengerti. Mungkin tanpa sadar, dengan mesin waktu aku telah kembali ke waktu di mana hari itu terjadi. Dan begitulah, aku mengalaminya lagi. Seperti yang mungkin Kamu pikirkan, aku mengalami apa yang biasa orang katakan de javu. Bukan berarti aku ingin mengalaminya lagi atau bagaimana, tapi pertama kali aku mengalami hari itu aku merasa aneh. Aku merasa bahwa seharusnya hari itu belum berakhir. Seharusnya cerita hari itu masih punya lanjutan. Saat aku mengalaminya untuk kedua kali, aku merasakan was-was. Aku ingin melalui hari itu lebih lama dari sebelumnya. Aku ingin mengetahui lanjutan cerita yang lalu.
Tanpa melalui suatu perjalanan panjang atau jauh, aku tiba di suatu tempat. Tempat ini lumayan mewah. Hanya dalam beberapa saat saja aku sudah bisa memperkirakan bahwa tempat itu adalah sebuah hotel. Namun aku sudah terlanjur masuk ke dalamnya sehingga aku tidak sempat mencari tahu apa nama hotel itu atau memperkirakan hotel yang ada dimanakah itu. Ah, mungkin lebih tepat mengatakan kalau sebenarnya aku tidak peduli dengan hotel apakah itu. Yang jelas, aku lumayan senang untuk memasuki tempat yang lumayan menarik itu.
Satu lagi yang mungkin harus Kamu tahu untuk mendapatkan gambaran dari tempat yang aku datangi adalah bahwa aku ke tempat itu bersama keluargaku. Di situ ada ayahku, ibuku, dan adikku. Mungkin kami sangat terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia menikmati kunjungan kami ke tempat tersebut. Selain keluargaku, di tempat itu juga ada banyak keluarga lainnya. Ayah atau Ibu dari keluarga tersebut, aku tahu, adalah teman-teman ayahku.
Aku mulai mengerti sekarang. Orang-orang berkumpul di sini untuk mengunjungi sebuah pameran etnik, tradisional, dan unik. Banyak sekali dipamerkan barang-barang kesenian Jawa yang sepertinya aku belum pernah melihatnya. Namun, dari desain dan penataannya aku kira itu pastilah barang kesenian Jawa. Terdapat banyak tema yang dipertunjukkan kepada pengunjung. Entahlah aku tidak ingat apa saja yang ada. Setiap tema diatur untuk berada berdekatan. Antara tema yang satu dengan yang lain dipisahkan. Tema-tema tersebut tidak begitu menarik perhatianku sebenarnya -apalagi dengan penerangan warna kuning yang di sana-sini sering juga terlihat lampu berwarna merah- . Aku merasa seharusnya perusahaan tempat ayahku bekerja tidak membuat acara keluarga yang seperti ini. Benar, kan? Apa Kamu tidak berpikir bahwa acara berlibur ke pantai lebih baik daripada mengunjungi tempat seperti ini. Di pantai semua orang bisa bermain bahkan melihat indahnya matahari terbenam.
Oh, maaf! Sepertinya pembicaraan barusan agak melenceng dari apa yang seharusnya kuceritakan.
Terlihat senyum tanpa dosa dari hampir setiap orang yang ada di ruangan itu. Aku bilang hampir karena aku tidak tahu apakah aku yang kadang-kadang menyeringaikan senyuman juga sedang membuat senyuman tanpa dosa itu. Aduh, apakah aku berdosa dengan tersenyum seperti ini? Aku melihat bahwa hanya aku yang berpikir untuk tidak mendekati bagian yang terlihat sebagai inti dari pameran itu. Semua orang yang datang ke hotel akan tergiring ke melalui rute yang telah disediakan oleh petugas berdasi kupu-kupu menuju tempat inti tersebut. Sekali lagi, penerangan yang membuatku merasa berada di dalam gambar yang di-sepia-kan ini sangat menggangguku.
Tibalah saat para hadirin dipersilakan untuk mencicipi semacam ramuan. Ramuan ini, aku tahu kalau dipikirkan oleh semua hadirin sebagai jamu. Aku pun berpikir begitu pada awalnya. Sepertinya jamu yang satu ini adalah jamu spesial dan merupakan produk terbaru dari salah satu perusahaan jamu terkemuka. Tapi, ah lucu sekali. Untuk mempersembahkan ramuan – saat ini seseorang yang bertugas menjelaskan manfaat dan khasiat dari minuman itu menyebutnya demikian -, seseorang harus juga mengenakan busana aneh. Bagaimana tidak aneh, orang tersebut mengenakan sebuah kain berwarna coklat muda lusuh yang sudah compang-camping – tapi tak tampak berlubang -, besar yang kemudian melingkupi seluruh tubuhnya. Rambutnya panjang, berantakan, berwarna putih, dan sangat kumal. Dia juga dilengkapi dengan sebuah tongkat setinggi dirinya yang ujungnya agak membulat lonjong seperti korek api. Tongkat itu terkesan sangat kuat dan berwarna coklat kayu yang telah diplitur. Ia memakai sandal gunung dari perakaran, namun kakinya ini jarang terlihat karena lebih sering tertutup oleh baju kurungnya itu. Bagaimana? Sudah bisa menebak kostum apa yang dikenakannya? Benar sekali. Orang ini memakai kostum mak lampir – karakter di sinetron yang sudah lama tak ada kabarnya -.
Oh, iya. Awalnya aku berpikir bahwa ramuan tersebut adalah jamu. Sampai akhirnya aku melihat kalau ada endapan berwarna kehijauan di dasar gelas yang disuguhkan kepada kami. Gelas yang disuguhkan kepada kami tidak berwarna bening. Tapi, oh tidak. Aku bisa melihatnya. Aku tahu itu. Hal itu menghentikanku meminum jamu – atau yah,, ramuan – itu. Aku ingin memprotes wanita yang memberikan penjelasan tentang jamu tadi – maaf, aku lupa menyebutkan bahwa dia wanita -. Ketika aku, yang seharusnya menghadapkan wajah ke bawah, menengokkan kepalakku ke arah wanita mak lampir tadi, aku melihat hal yang menyeramkan. Mak lampir itu menyeringaikan senyuman licik. Giginya terlihat sedikit ketika dia menyeringai. Aku bingung apakah memerankan peran mak lampir juga mengharuskannya untuk tersenyum seram seperti yang barusan.
Astaga, ternyata mak lampir tidak sedang berperan. Dia kemudian mulai menunjukkan tawa cekikikan. Aku mengenal tawa itu dari sinetron yang dulu sering ditonton oleh beberapa orang di keluargaku. Tawanya semakin menjadi ketika satu-persatu dari para hadirin pingsan berjatuhan ke lantai berkarpet merah. Aku ingin menghentikan ayah, ibu, dan adikku untuk minum ramuan beracun. Tapi, belum sempat aku memekikkan kata “jangan” mereka sepertinya telah meneruskan satu atau dua tegakan terakhir dari gelas yang mereka pegang. Saat ini aku merasa bodoh. Seharusnya aku tahu hal ini dari awal. Aku sudah merasa kalau hal ini akan terjadi. Aku merasa aku tahu. Dan sekarang aku menyesal.
Aku harus melakukan sesuatu sebelum mereka yang jahat mengetahui kalau aku tidak ikut menegak ramuan beracun. Aku tidak bisa mengatasi mak lampir ini sendirian karena ternyata para petugas berdasi kupu-kupu telah mengganti apa yang ada di tangannya sebelumnya – baki dengan minuman dan makanan ringan – dengan tombak panjang yang walaupun tidak terlihat begitu tajam, tapi menyeramkan. Aku harus menyelinap keluar dari hotel. Aku harus meminta bantuan seseorang. Oh tidak, aku perlu bantuan banyak orang. Tak diduga sebuah petir seakan terlintas di kepalaku. Aku tahu kalau di bagian depan hotel terdapat sebuah telepon umum. Aku kemudian berpikir menggunakannya untuk menghubungi polisi. Polisilah yang mungkin akan datang ke tempat ini membawa banyak bala. Aku harus bisa mencapai telepon itu.
-bersambung-
euy,kyk novel,,tp krg gigit dikit,,masi krg jlas 5w1h ne,,
nulis tuh kudu sabar,ak dulu sering dmarahi pas bis ngreport soale..hihi..
tp ya nama na mimpi pribadi,hehe..
kip posted,ntar saingan kt,,hehe…