Ketika aku melihat suara bintang atau aku mendengar warna air mata, aku heran apa yang terjadi dengan matahari. Aku tak mengerti. Egoku bilang kalau aku akan jadi orang kacangan kalau tidak mengerti apa itu. Maka kubilang kepadanya, “oh, mungkin aku mengerti.”
Tapi sepertinya kebohonganku tidak bisa berlangsung lama. Dia menyuruhku untuk menggambarkannya pada kanvasku. Apa yang harus kugambar? Aku berpikir sejenak. Dia menungguku menggerakkan tangan. Aku masih diam saja. Aku jadi ingin tahu apa yang ada dalam pikirannya. Kenapa aku harus menuruti apa yang dikatakannya. Lebih lagi, kenapa aku tadi berbohong kepadanya.
Aku memandangnya. Kemudian dia membalas pandanganku. Nyaliku ciut. Kemudian, kukembalikan lagi pandanganku ke arah kanvas putih di depanku.
“Ting tiiing ting ting,,teng teeeng teng teng,” bel berbunyi. Dia tersenyum kepadaku kemudian berkata, “Kapan saja Anda bisa datang ke tempat saya.”
Dia adalah orang yang sangat baik. Dia mengajariku bagaimana menggambar yang menggunakan ilmu. Dia pengajar di tempatku sekolah. Dia adalah seorang wanita cantik, tinggi, dan sebentar lagi aku dengar akan menikah dengan seseorang yang seringkali mengantar dan menjemputnya setiap hari. Dia telah memperoleh gelar phd dari sebuah sekolah terkenal di Paris. Tidak diragukan lagi kepandaiannya. Dan kini dia adalah pengajarku. Sungguh beruntung aku. Tapi, dia punya satu kekurangan yang kuketahui belakangan ini. Dia takut gelap. Kejadian listrik mati di sekolah pada malam hari ketika aku sedang menerima bimbingannya membuatku mengetahui hal itu. Dia menggenggam tanganku kuat sampai aku merasa sakit sekali. Tapi tidak apa-apa. Aku tidak terlalu takut akan gelap.
Sekolahku adalah sebuah perguruan tinggi yang tidak berada di kota yang sama dengan kota kelahiranku. Aku baru datang ke sini ketika akan bersekolah di sini.
–bersambung–







